Tampilkan postingan dengan label Live Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Live Journey. Tampilkan semua postingan

“Ini seperti di sinetron,” katanya, membuka percakapan, “datang seseorang yang lebih baik, lebih soleh, dan lebih mapan darimu.”
Kalimatnya menggantung di sana. Ia butuh jeda. Kata-kata barangkali sedang memenuhi kepalanya dan ia harus memilih kata yang tepat, yang tak melukaiku lebih dalam. Meski sehalus apa pun kata-kata yang dipilihnya, perpisahan tetap saja menorehkan luka.
“Dan itu membuatku ragu melangkah bersamamu,” katanya lagi sambil melempar pandangannya dariku ke arah anak kecil yang bermain di taman itu.
Kalimat yang baru saja ia lontarkan kepadaku membuatku terbelah dua. Sebagian diriku kecewa, karena seseorang yang ingin kubagi semua-semuanya dalam hidupku, menjalani satu per satu bagian hidup, menyusun rencana hidup bersamanya, tak memilihku.
Sebagian diriku yang lain menyadari bahwa, ia berhak bahagia dengan seseorang yang ia inginkan dan ia butuhkan. Meski apa-apa yang ia inginkan dan butuhkan, tidak ia temukan dalam diriku.
Keputusannya tidak memilihku dan keputusanku untuk menghargai keputusannya, kuharap akan membawa hal baik bagi kami di kemudian hari.
Hari ini, di taman ini, ketika ia memintaku berhenti menghubunginya lagi, membuatku tak bisa apa-apa selain belajar menerimanya. Ketika langkahnya menjauh dariku, aku berjanji pada diriku akan memperbaiki diri sekaligus berdoa, semoga apa-apa yang ia harapkan akan tercapai.
Semoga ia bahagia.




Kamu beranjak dari tempat duduk selepas memasukkan telepon genggammu ke dalam tas. Berjalan meninggalkan meja tempat kita mengisi waktu dengan percakapan. Punggungmu kian menjauh dari pandanganku. Aku hanya perlu mempercepat langkah untuk sampai di sampingmu, namun jarak yang membentang itu rasanya tak mampu kukejar meski berlari sekalipun.
Dari jarak ini, aku bisa melihatmu lebih utuh. Menilai perasaanku kepadamu secara lebih jernih. Dari jarak yang seharusnya dapat kukikis dengan mempercapat langkahku, aku menyadari perasaan sayang kepadamu telah tumbuh di hatiku.
Tapi kita berada pada kualitas diri yang berbeda. Ini bukan tentang materi, pun status sosial, jabatan yang lebih tinggi dan penghasilan yang lebih besar. Bukan pula tentang definisi cantik dan tampan, pun tentang gaya hidup yang memisahkan antara rumah makan di pusat perbelanjaan atau tempat makan pinggir jalan.
Ini tentang cara kita melihat dan memperjuangkan hidup yang menempatkan kita pada kualitas yang berbeda.
Di depan sebuah kafe bergaya kolonial itu, kamu melabaikan tangan, mengucap kata sampai jumpa. Di jalan menuju tempat motorku diparkirkan, aku mengucap selamat tinggal pada harap, pada keinginan untuk bisa hidup bersamamu.


Matamu menatap layar telepon genggam di atas meja. Tanganmu sesekali menyentuh angka-angka di aplikasi kalkulator, memencet tanda tambah, kurang, bagi, dan sama dengan. Memindahkan hasil perhitunganmu di buku catatan, memasukkan angka tersebut di kolom tabel yang di atasnya tertulis Biaya Hidup Dasar (BHD). Kamu tengah mengkalkulasi kebutuhan dasar hidup kita, memperkirakan apa saja kebutuhan pasangan setelah menikah.
Ketika kuserahkan hasil perhitunganku, kamu melihatku dengan tatapan aneh, seolah tak percaya aku telah membuatnya. Aku bertanya kepada teman-temanku yang sudah menikah, kataku, meski kamu belum melontarkan pertanyaan, tapi tatapanmu mengisyaratkan pertanyaan dari mana angka-angka itu aku dapat. Tentu saja, disesuaikan dengan gaji bulananku, tambahku lagi.
Kamu mensejajarkan hasil perhitungan kita. Uang belanja di daftar milikmu terlalu besar, kita toh makan siang di tempat kerja. Uang entertain pun terlalu besar, kupikir, kita tak selalu menghabiskan akhir pekan di luar, katamu. Biaya entertain sengaja kubuat besar dengan asumsi sesekali kita akan menjalani ‘hari malas sedunia’. Kamu dan aku tak perlu menjalani serangkaian aktivitas seperti hari-hari biasa, mencuci pakaian misalnya, kita bawa saja ke laundry. Kamu tak perlu memasak, kita bisa memesannya melalui GoFood. Kita bisa menonton seharian, mengobrol, atau melakukan apa saja tanpa perlu memikirkan urusan beberes rumah, kataku.
Kamu menggeleng mendengar penjelasanku. Betapa malasnya pasanganku ini, mungkin itu yang terlintas di kepalamu.
Berbeda denganmu yang memberikan angka lebih besar untuk kebutuhan cicilan rumah, aku justru menempatkan biaya lebih besar untuk travelling. Kita tidak ingin selamanya mengontrak, bukan? tanyamu. Iya, tapi kita butuh jalan-jalan, kataku. Tunggu, ini bukan kamu. Kamu tidak akan menempatkan urusan perjalanan lebih besar daripada memiliki rumah, sergahmu. Memang, tapi kamu suka travelling, jawabku.
Kamu bersikukuh untuk memprioritaskan memiliki rumah ketimbang jalan-jalan. Travelling, katamu, memang menyenangkan, hobi yang tidak ingin kamu lepaskan meski telah menikah, bahkan ketika memiliki anak-anak. Tapi memiliki rumah dan hidup bersamamu jauh lebih menyenangkan dari apa pun, katamu lagi.
Keputusanku menempatkan angka-angka itu didorong keinginan untuk mendukung kesukaanmu menjelajahi dunia, juga sebagai jawaban dari pertanyaan yang dulu pernah kamu berikan kepadaku. Apakah aku masih bisa menjalani hobiku? Apakah aku boleh memintamu permintaan yang cukup besar? Tanyamu. Kamu boleh meminta apa pun kepadaku, seperti road trip ke Iceland selama dua minggu. Meski akhirnya akan disesuaikan dengan tabungan kita, jika tak mencukupi, kita harus menggeser tujuan perjalanan kita. Aku akan berusaha memenuhi keinginanmu, tapi aku juga harus belajar mengatakan tidak jika ternyata aku tidak mampu memenuhinya.
Jika laki-laki yang keren adalah yang bisa memenuhi semua permintaan pasangannya, aku tidak masuk dalam kategori itu. Di hadapanmu, aku tidak pernah berpikir memposisikan diriku sebagai superman, seseorang yang mampu menanggung semua-semuanya sendiri. Aku memposisikan diriku sebagai seseorang yang berharap bisa berperan dan tidak menutup ruang untuk pasangannya mengambil peran dalam hubungan ini.
Kamu bertanya, seberapa bessar peran yang bisa kamu berikan dalam kebutuhan dasar hidup ini. Tidak ada aturan baku, bisa 70:30, 50:50, atau bisa kukover seluruhnya. Toh di luar kebutuhan hidup dasar ini masih banyak kebutuhan lainnya yang harus kita pikirkan. Kita bisa berkaca dari teman-teman kita yang telah menikah, tapi tak bisa begitu saja menerpkannya dalam hubungan kita. Setiap hubungan punya konteksnya masing-masing. Konsep-konsep yang mereka terapkan belum tentu sesuai dengan hubungan kita. Pun konsep-konsep yang kita buat bisa bertahan lama atau hanya berlangsung sebentar saja. Saat itu terjadi, kita harus memikirkan cara-cara baru agar kita bisa terus bertumbuh bersama.
Di tengah diskusi mengenai kebutuhan hidup, di saat kamu masih memerinci daftar dalam tabel itu, aku mengucap syukur dalam hati, betapa menyenangkannya memiliki seseorang yang mampu diajak berdiskusi, pun seseorang yang mampu mengelola keuangan dengan baik, yang tidak pernah terpikir sebelumnya olehku dan mungkin tidak bisa kulakukan tanpamu.



di pintu:
Ada kalanya kamu menunggu, ada kalanya aku yang menunggu, membukakan pintu, menyambut dengan senyum. Terkadang aku sengaja membiarkan pintu terbuka karena tak sabar menunggu kepulanganmu. kamu yang menyukai travelling dan aku yang lebih senang menghabiskan waktu di rumah. aku tidak pernah berpikir memenjarakan mimpi-mimpimu. hubungan ini bukan teralis besi yang akan menahan langkahmu, kataku ketika kamu bertanya masih bolehkan kamu melakukan perjalanan seorang diri ke berbagai negara setelah kita menikah.
kamu menunggu jawaban dengan cemas setelah melontarkan pertanyaan padaku, batasan apa saja yang tidak boleh kulakukan setelah menikah. aku belum bisa membayangkan apa saja batasan-batasan itu, tentu saja ada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan, selingkuh misalnya, jawabku. kamu tertawa mendengarnya, itu nggak akan kulakukan, katamu.
kamu menjelaskan dengan mengurutkan hobimu, seperti travelling, membaca buku, menonton serial seharian, dan mencicipi banyak makanan. mengenai serial, aku senang menonton seperti true detective dan serial lainnya. Drakor pun pernah, Goblin, sampai tamat, kataku. Kamu memasang wajah tak percaya. Kalau serialnya bagus, kita bisa menonton seharian di akhir pekan, kataku.
aku juga pernah beberapa kali menonton konser, itu pun band-band indie, bukan konser besar yang penontonnya mencapai ribuan orang. Dan aku tidak keberatan jika kamu ingin menonton konser, aku akan ikut sesekali denganmu, kataku lagi. ekspresi wajahmu berubah seketika mendengar kalimat terakhirku.  aku tidak dapat mengartikannya. kuharap kamu senang dengan jawabanku.
setelah menikah, impianku membahagiakan istriku, kata temanku. kepala kosongku tak mampu mencerna dengan baik kalimat itu. Ia mengatakan hal itu karena ingin men-sopport istrinya yang akan melanjutkan pendidikannya. kupikir, aku punya pemikiran yang sama dengannya.
kamu boleh melanjutkan pendidikanmu. di mana saja. di benua manapun. aku akan mendukungmu dan mencari cara agar bisa menemanimu di sana.
di dapur:
aku nggak bisa masak, katamu. keahlianku cuma sebatas menjerang air, memasak mie instan, memasak makanan sederhana. takaran kopimu pun aku nggak tahu, katamu lagi. tak apa, kita belajar sama-sama. aku akan jadi asistenmu di dapur. kamu tak sendiri, mencuci piring, memasak, membuatkan minuman, dan pekerjaan rumah lainnya tak hanya dibebankan ke pundakmu seorang. seperti kataku di awal hubungan kita, bagiku, kamu partner hidup. aku akan memijati kakimu, punggungmu, membuatkan minuman kesukaanmu. kita akan berbagi peran, berbagi semua-semuanya berdua.
sepertimu yang khawatir tidak bisa menyiapkan makanan untukku, aku selalu dilanda kekhawatiran tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup kita. aku tidak punya apa-apa. gajiku tak seberapa. tak pernah memiliki barang-barang mewah. tak mampu memanjakanmu. ya, aku tak suka mengada-ngada sesuatu yang tidak ada. kamu berhak memutuskan setelah mengetahui kondisiku sebenarnya. meski kamu menerima ketika kali pertama kuceritakan kondisiku di awal hubungan kita, kekhawatiran ini tetap saja tidak bisa dengan mudahnya kuenyahkan dari kepalaku.
kamu mengatakan padaku, aku menikah denganmu bukan sebagai jaminan untuk hidup mapan. aku menikah denganmu karena aku yakin hidupku, hidupmu, hidup kita akan berjalan lebih baik kalau kita bersama.
di kamar mandi:
menutup pintu kamar mandi, menjemur handuk setelah dipakai, dua hal yang seringkali lupa kulakukan dan itu menyulut kekesalanmu. terkadang, aku sengaja melakukannya agar kamu kesal. aku senang melihatmu memasang wajah cemburut, berjalan ke kamar mandi, mengambil handukku, menjemurnya, menutup pintu. Lalu ketika kamu duduk di hadapanku, bersiap menceramahiku dengan kalimat yang sudah kuhafal di luar kepala, kuletakkan semangkuk salad buah kesukaanmu. amarahmu redam seketika, menerbitkan senyum di bibirmu.
aku tak suka meletakkan pakaian kotor di atas tempat tidur, selain memang sudah menjadi kebiasaaanku sejak lama, aku tidak ingin menambah bebanmu. pun tak terbiasa menaruh sepatu sembarangan. kamu tak perlu khawatir soal urusan mencuci pakaian dan menjemurnya, tapi soal menyetrika, aku angkat tangan. sehelai kaus saja butuh 15 menit bagiku untuk merapikannya.
kau ingat ketika kali pertama aku memintamu menjadi pasanganku?
tidak ada superior, tidak ada inferior. masing-masing dari kita harus mau berperan dalam hubungan ini. masing-masing-masing dari kita, harus memberi ruang untuk satu dan lainnya berperan dalam hubungan ini. aku tidak memposisikanmu lebih rendah dariku, pun tak menempatkanmu lebih tinggi dariku. kita sejajar.

Dan aku masih menunggu tangan-tangan Tuhan mempertemukanku denganmu. Takdir yang tak kasat mata mungkin sedang jalin-menjalin antara aku denganmu, pada satu momen, pada satu peristiwa apa saja yang tak terduga, menjadi awal pertemuanku denganmu. Mungkin kamu dekat atau berada di luar kota, bisa saja kamu sedang berada di lain benua dan kepulanganmu akan mempertemukan kita.




aku tidak akan mendoakan semoga kau panjang umur, kawan, karena tidak semua manusia suka berumur panjang.
pun juga bahagia. bahagia seperti kembang api, menggelegar, memuncah di dadamu, lalu kosong,  setelahnya hanya hampa. sedang kau, kau ingin seperti danau, tak berombak, tak bergelombang. tersembunyi di hutan yang belum terjamah manusia, danau yang sepi, kau yang memilih sunyi.
hari-hari berlalu begitu cepat. hari-hari bergerak begitu lambat. kau mengulang tanggal lahirmu. dan hidup menghadirkan begitu banyak tanda tanya, yang mungkin tidak pernah bisa kau jawab sepenuhnya.  
tapi, teruslah hidup, kawan.


di jalan lengang menuju pulang, perasaan melankolis menguasai saya. bukan sebentuk perasaan yang melahirkan kesedihan, melainkan rasa tenang dan damai. jalan yang sepi dari kendaraan, lampu penerangan yang buram, angin yang berhembus pelan, memberi rasa bahagia. sebentuk perasaan ini entah terbuat dari apa, dari mana asalnya. mungkin jalan yang lengang ini membuat saya berhenti mengejar, mempertanyakan banyak hal yang belakangan sering saya lakukan. hanya menyusuri jalan dan melaju kendaraan dengan pelan.
perasaan semacam ini mengingatkan saya akan tulisan Soe Hok Gie; Catatan Seorang Demonstran, di buku hariannya tertera tanggal 2 Desember 1969, beberapa hari sebelum kematiannya.
Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas Jakarta dengan ‘warna-warna’ yang baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam suatu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra, tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya lepas. Dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Kebetulan busnya macet di Senen. Dan jembel-jembel yang tidur di emper-emper toko Senen rasanya tidak lagi menjadi manusia-manusia yang degil dan buas karena penderitaan, tapi menjadi manusia-manusia yang telah rela menerima hidup yang berat ini. Perasaan ‘sayang’ yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa ‘cinta’ pada semua manusia, anjing-anjing di jalanan, mungkin pula pada semua-muanya. Dan saya merasa satu dengan denyut hidup yang manusiawi di Jakarta.
membaca buku, menonton film, mendengarkan musik, meninggalkan efek cukup besar dalam diri saya. efek itu kadang bertahan dalam hitungan jam, kadang berhari-hari. kadang timbul perasaan marah, lalu saya menulis dengan nada marah, tak menggunakan bahasa lugas, kasar, tapi menyimpan sindiran-sindiran. kadang timbul perasaan melankolis, seperti beberapa tulisan yang saya bagikan di blog. belakangan saya mengulang-ulang mendengarkan musik dari Olafur Arnald dan Dustin O’Halloran. saya seperti mendapat energi yang tak habis-habis untuk menulis. menulis sesuatu yang sedih.
kadang-kadang, tak menjadi apa-apa, seperti ketika menonton konser Kita Sama-sama Suka Hujan, di sekeliling saya, tangis terdengar. pelan dan begitu lirih. lalu saya pulang dengan membawa musik-musik di kepala, tak menuliskan apa-apa, hanya mengendap saja di kepala, di dalam diri saya.
saya sedang ingin menulis sebuah surat yang ditulis dengan tulisan tangan. tulisan yang tak rapi, yang mungkin membuatmu sulit membacanya. saya ingin menulis di lembar-lembar kertas yang akan kau simpan di kotak atau di lemari bukumu. kelak, ketika kau buka lagi, kertasnya telah menguning, tintanya telah memudar dimakan waktu. hari-hari berlari begitu cepatnya. hari-hari berlalu begitu lambat. kenangan menjadi sesuatu yang memudar ditimpa ingatan-ingatan baru. kisah-kisah baru.

Previous PostPostingan Lama Beranda