Tampilkan postingan dengan label Nai & Bim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nai & Bim. Tampilkan semua postingan

“Iya, di rumah,”kataku,  klik.. sambungan telepon diputus dari seberang.
Kenny langsung masuk ketika pintu kubuka, duduk di kursi dekat jendela. Sejak dulu, aku selalu memimpikan meja bundar dan dua kursi kayu di dekat jendela dan setelah memiliki rumah sendiri -  rumah mungil yang uang muka-nya saja menghabiskan seluruh tabunganku - aku mewujudkan mimpi itu. Aku senang duduk di dekat jendela, melanjutkan pekerjaan yang belum kutuntaskan di kantor sambil sesekali memerhatikan orang-orang lalu lalang. Kadang, hanya kujadikan tempat melamun ketika hujan datang, ditemani segelas kopi dan berbatang-batang rokok tentunya.
Ken mengangkat kedua kakinya ke atas kursi, menekuknya. Menarik tudung jaketnya, membenamkan wajahnya di atas kedua lututnya. Kedua tangannya melingkari kakinya. Kubiarkan Ken melakukan hal yang diinginkannya tanpa mengusiknya. Aku pergi ke dapur, menjerang air hingga mendidih lalu kumasukkan ke dalam mok, teh Fragrance of Love telah menanti di dasar gelas, siap menerima terjangan air panas. Wanginya mengepul bersama uap yang dikeluarkan.
Fragrance of Love campuran dari berbagai jenis teh asli Indonesia dengan chammomile, peppermint, kulit jeruk dan serai. Aku membelinya di kedai khusus menjual teh. “Pencinta teh, belum tentu suka kopi, tetapi pencinta kopi, sering minum teh. Lihat saja, sehabis makan biasanya mereka memesan es teh manis atau teh tawar hangat. Menarik bukan,” kata pemilik kedai itu kepadaku.
Kesimpulan yang menarik. Beberapa temanku yang tidak suka kopi memilih meminum teh. Kopi tidak bersahabat dengan perut mereka, membuat mulas dan menaikkan asam lambung mereka. Dan beberapa teman yang suka kopi, memang sering meminum teh. Kupikir ada benarnya kesimpulan itu.
Selain Fragrance of Love, aku sengaja menyimpan teh hijau, melati dan chammomile untuk teman-temanku yang tidak suka kopi. Terutama untu Nai, yang tidak pernah bersahabat dengan kopi. Minuman jahat, ucap Nai suatu kali. Seteguk kopi hitam mampu membuatnya terjaga sepanjang malam dan membuatnya mulas sepanjang hari. “Kafein selalu membuat dadaku berdebar, seperti orang habis olahraga,” celetuknya dan membuatku tertawa. Bukan ucapannya yang memancingku tertawa, tetapi wajahnya yang cemberut dan mulutnya yang dimonyongkan, persis seperti Donald bebek. Kapan-kapan akan kuajak dia ke Timbuktu, itupun jika Donal benar, jika Timbuktu memang ujung dunia.
Nai pernah memaksakan diri menyukai minuman kesukaanku itu. Suatu hari, aku meletakkan dua mok  di atas meja, kopi hitam dan teh chammomile. Nai mengambil bagianku, meneguknya, dan berakhir dengan berlari ke kamar mandi, muntah di sana. Wajahnya pias ketika duduk di hadapanku. aku memandangnya dengan tatapan heran. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya.
“Aku ingin mencintaimu secara utuh. Aku ingin belajar menyukai minuman kesukaaanmu, tapi nggak bisa. Bikin mual,” ucapnya pelan.
Aku meraih tangannya, menggengamnya. “Kamu nggak perlu memaksakan diri menyukai semua yang aku suka. Kita dua orang yang berbeda, memiliki ketertarikan yang berbeda. Sepertimu yang suka mendatangi tempat-tempat baru, hal yang tidak kusukai. Tapi aku tetap bisa mencintaimu tanpa perlu memaksakan diri mencintai semua kesukaanmu.”
Meski bertahun-tahun bersamaku, Nai selalu gemas ketika melihatku menghabiskan bergelas-gelas kopi dan berbatang-batang rokok. Baginya, yang kulakukan sebuah upaya bunuh diri pelan-pelan. Upaya mewujudkan pikiran buruk yang menempel dalam kepalaku bertahun-tahun. Aku selalu percaya akan mati di usia muda. Aku percaya, hidup tidak pernah baik-baik saja, lantas apa bedanya jika mati di usia muda atau tua, kita pernah merasakan sulit dan mudahnya. Nai selalu benci pembahasan tentang kematian.
“Cari orang lain yang bisa ajak kamu bicara tentang mati. Aku mau hidup, mau nikah, mau punya keluarga dan kamu malah ingin mati muda.”
Obrolan tentang kematian selalu berakhir dengan tatapan marah, kecewa dan membekukan suasana. Aku memeluknya, berharap pelukan mampu menjalarkan rasa hangat di tubuhnya, di hatinya dan mencairkan kebekukan di antara kami. Maaf, bisikku. Jangan bicara mati lagi ya, Bim, ucap Nai. Aku mempererat pelukanku, menghilangkan jarak di antara kami. Aku tak pernah ingin berjarak dengan Nai, tidak pernah. Sesenti pun tak pernah.
Kuletakkan cangkir teh di atas meja. Ken mengangkat kepalanya, menatapku lalu membenamkan wajahnya kembali, bersembunyi di tumpukan kedua kakinya. “Aku di kamar ya, kalo butuh apa-apa, bangunin aja,” kataku seraya berjalan menujunya, menepuk pundaknya, dan berjalan ke kamar.
Kenny gadis yang tangguh. Setidaknya cukup tangguh menyembunyikan rasa sakit dan kesedihannya di depan orang-orang. Kau tidak akan melihat Ken berjalan dengan mata bengkak atau lemas. Ken selalu menampilkan dirinya yang kuat di hadapan orang lain, tidak di hadapanku. Di depanku, Ken menjadi dirinya sendiri. Sosok yang kuat dan lemah sekaligus.
Kubagi rasahia kecil kepada kalian, jika seseorang selalu menunjukkan dirinya kuat di hadapan orang lain, dan di hadapanmu dia menangis, terlihat begitu rapuh, artinya, dia sangat memercayaimu. Kau harus menjaga kepercayaannya, jika tidak, dia akan pergi meninggalkanmu selamanya. Di hadapannya, kamu sama seperti lainnya, seseorang yang mendengar kulit permasalahan yang di hadapinya, dagingnya, dia sembunyikan, entah dibagi ke siapa.
Dari beberapa perempuan yang pernah kupacari, hanya Nai yang kupercayakan memegang kunci rahasiaku. Aku kerap menangis di pangkuannya, Nai membelai lembut kepalaku, mengecupnya, dan tidak berkata sepatah katapun hingga tangisku reda. Kamu tuh anak kecil, candanya dan itu membuatku sedikit terluka. Nai tidak paham, belum paham, ada jiwa anak kecil yang kubiarkan tumbuh di dalam kepalaku. jiwa kanak-kanak yang manja dan senang berbagai rahasia kepada ibunya.
Nai tidak paham, berbagi tangis dengan orang lain bukan perkara mudah bagiku. Aku merobohkan begitu banyak benteng. Untungnya, Ken tak pernah mengolok-olokku. Jika dia melakukannya, aku tidak tahu harus berlari kemana lagi.
“Kenapa kamu dan Ken tidak berpacaran? Kalian sangat dekat,” Tanya Nai. Aku merasakan aroma cemburu dari pertanyaannya.
“Kami berteman. Itu saja.”
Aku kadang memikirkan kenapa aku dan Ken tidak berpacaran. Kami sangat dekat, saling mengenal, saling percaya, lantas apa lagi yang kurang. Sampai hari ini aku tidak pernah bisa menjawabnya. Kubiarkan pertanyaan itu menggantung.
# # #
Ken duduk di kursi dekat jendela ketika aku kembali dari membeli sarapan. Aku beranjak ke dapur, menjerang air panas dan menyeduh teh. Kusodorkan semangkuk bubur dan secangkir teh untuknya. Ken bergeming. Mengalihkan pandangannya dariku, menatap jalan dari jendela. “Kusodorkan satu sendok bubur, “Mau disuapin, bilang dong,” godaku. Ken tersenyum tipis dan meraih sendok dari tanganku. Menarik mangkuk bubur lebih dekat ke arahnya. “Gue bukan bayi, Nyet!”
Setelah suapan ketiga, Ken meletakkan sendok di mangkuk. Mengambil gelas teh, menyeruputnya. Kupikir dia akan melanjutkan makannya. Ken malah diam, menatapku dengan tatapan nanar. Dipta, tanyaku. Ken mengangguk.
Dipta kekasih Ken, sudah dua tahun mereka bercaparan. Ken mengenalnya ketika bergabung di Kelompok pencinta alam. Dipta lelaki yang tak mengenal menyerah, bukan hanya soal gunung, tapi juga dalam mendapatkan Ken. Sudah sering Dipta menyatakan cintanya pada Ken, selalu berakhir dengan penolakan. Mereka justru berpacaran setelah lulus kuliah. Ken tidak pernah cerita padaku alasan kenapa akhirnya dia menerima Dipta, mungkin Ken melihat kesungguhan di mata lelaki itu. Mungkin, itu asumsiku saja.
Aku sering menangkap aura kemarahan dalam suara Dipta ketika berkumpul atau berpapasan di jalan. Belakangan baru kuketahui dari Ken, Dipta sangat cemburu kepadaku, kepada kedekatanku dan Ken. Dan suatu hari, aku mendengarnya langsung dari mulut Dipta. Dia mengajakku bertemu, pasti membicarakan Ken, apalagi memangnya. Aku dan dipta tidak berteman baik, tidak ada pembicaraan selain Ken tentunya.
“Sering gue berpikir, Ken cinta sama lo, yah, meski gue tau lo pacaran Nai. Cinta ya cinta aja kan, nggak peduli dia udah punya pacar atau belum,” katanya, langsung menembak inti permasalahan.
Aku menyulut rokokku, kubiarkan Dipta melanjutkan perkataannya. Kupikir banyak yang dia ingin ungkapkan, kepalanya mungkin sedang memiliki diksi yang tepat.
“Gue nggak suka melihat kedekatan kalian.”
“Aku bisa menarik diri. Ken sahabatku, aku ingin dia bahagia. Jika itu bisa membuatnya bahagia, aku akan menjauh darinya.”
“jangan, Ken akan membenciku.”
“Aku akan merahasiakan darinya. Aku cukup mahir menyjmpan rahasia.”
“jangan, Ken pasti tau. Lagian, Ken  membutuhkan lo, gue sendiri nggak tahu untuk apa, tapi dia sangat membutuhkan Lo.”
Lelaki itu langsung pergi setelah mengatakan itu kepadaku. Dia bahkan belum sempat mencicipi minuman pesanannya.
Ken kembali menarik kakinya, menekuknya, melingkari keduanya dengan tangannya. “Ada apa sama Dipta, tanyaku. Tembok kokoh di hadapanku hancur seketika, dihancurkan satu pertanyaan yang terlontar dari mulutku. Aku tahu, Ken hanya butuh ditanya, pertanyaan apa saja dan dia akan membeberkan semuanya.
Dipta melamarnya kemarin, meminta Ken menikah dengannya. Ken tak siap, belum siap membangun rumah tangga dengan seseorang. Dia masih ingin melangkah, terus berjalan, menelusuri banyak tempat, memilih hidupnya tanpa terbebani apapun. Dia ingin berjalan sendiri tanpa kekhawatiran akan seseorang yang menunggunya di rumah, yang membuatnya ragu dan akhirnya memilih pulang sebelum mimpi-mimpinya tercapai.
“Udah jelasin ke Dipta?” Ken menggeleng. “Ken, Dipta berhak tau alasannya dan kalau di benar-benar sayang sama kamu, dia pasti paham alasan kamu.”
“Dan kalau gue bener-bener sayang sama dia, harusnya gue bahagia kan, Bim. Bukan malah bingung dan lari. Bukah malah sembunyi di rumah lo.”
Ken benar, jika kita mencintai seseorang, bukankah kebersamaan dalam sebuah ikatan itu membahagiakan. Ken menyodorkan telepon genggamnya yang terus saja berkedip-kedip. Nama Dipta tertera di layar ponsel itu.
“Ken di rumah lo? tolong bilang sama Ken, dia boleh datang kapan aja saat dia udah siap. Satu lagi, Bim, tolong jagain Ken ya,” pinta Dipta.
Pasti, kataku, dan sambungan telepon terputus.
Hidup tidak pernah baik-baik aja kan, Kenny. Apa pun yang terjadi nanti, kita hanya perlu berjalan. Selama kita memiliki tempat untuk berbagi, meski hanya satu orang, semua akan lebih mudah. Kamu boleh datang dan pergi sesukamu, kamu tau kemana harus melangkahkan kakimu. Aku selalu ada, Ken. Selalu.



Kenny merangsek masuk ke kamarku seperti seorang perampok yang berusaha menggasak rumah incarannya, membuka lemari pakaianku, masuk ke kamar mandi, mengacak-acak tumpukan baju yang belum sempat kumasukkan ke dalam lemari, dan berakhir dengan mengeluarkan baju-baju kotor dalam keranjang yang kuletakkan di belakang pintu. Dia mengambil handuk kecil, membebatkannya kuat-kuat di tanganku. Aku meringis.
Jadi, seperti ini rasanya sakit. Bahkan, sayatan silet yang tipis saja bisa membuatku merasakan sakit. Handuk putih yang dibebatkan di tanganku mulai berwarna merah. Titik-titik kecil perlahan menjadi bulatan besar. Aku menyukai warnanya, sangat kontras. Aku tak tahu harus bereaksi apa, menangiskah, marahkah, dan yang kulakukan hanya melihat Kenny memasukkan barang-barangku ke dalam tas. Dia mencari beberapa barang, memasukannya lagi ke dalam tas.
“Kita ke rumah sakit,” katanya. Dia berdiri di hadapanku yang masih duduk di ujung kasur memerhatikan handuk putih mulai memerah. “Bim, kita ke rumah sakit sekarang,” tegasnya, jelas ini bukan ajakan, bukan permintaan, ini perintah. Aku memerhatikan kedua kakinya menurun, mengambil posisi jongkok, wajahnya tepat di depan wajahku. Hanya perlu beberapa detik dia menatapku dan sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku. Aku memerhatikan wajahnya dan satu tamparan lagi mendarat di pipi kananku.
“Luka kecil ini, aku bisa mengurusnya sendiri. Tidak perlu ke dokter,” jawabku.
“Kalau luka itu, gue bisa urus, tapi otak lu, gue nggak bisa. Kita ke psikiater sekarang,”ucapnya kemudian berdiri lagi, membuatku hanya mampu melihat kakinya.
“Aku nggak butuh, Ken.”
“Semua orang di posisi lo juga bilangnya nggak butuh. Nggak gila, nggak stress, nggak perlu berobat, tau-tau bunuh diri. Bangsat! Kalau lo mau mati, jangan begini caranya. Pergi jauh sana, biar gue nggak perlu liat lo mati.”
Ken membenamkan wajahnya di kakiku, isak itu berubah menjadi tangisan. Aku mengelus kepalanya, isyarat permintaan maaf entah untuk apa. “Kalau diganti masak aja, gimana? aku belum makan dari kemarin,” kataku.
Ken mengangkat kepalanya, menyapu air matanya dengan ujung kaus. Berdiri meninggalkanku dan kembali membawa gayung berisi air, betadine, dan perban. Menggunting perban itu beberapa potong, lalu memasukkan gunting ke dalam sakunya. Ken rupanya takut aku bermain dengan benda itu. Dia melepas handuk di tanganku, membersihkan luka. “Gue bisa urus sisanya, lo masak aja. Gue laper,” pintaku sambil mengambil handuk kecil dari genggamannya. Kenny tersenyum dan menyerahkan handuk itu, pergi menuju dapur.
Aku mengenal Kenny sejak awal kuliah dan bola pertemanan di antara kami bergulir begitu saja. Kali pertama kukenalkan Nai kepadanya, mereka langsung akrab. Nai seperti menemukan pusat informasi yang bisa diaksesnya kapan saja. Menggali informasi tentangku lewat Ken. Ken tentu saja senang mendapati seseorang yang mau mendengar kekonyolan-kekonyolanku. Selain tuhan, rasanya hanya Ken yang paling tau aib-aibku dan sekarang dia membeberkannya ke Nai dengan senang hati. Menyebalkan bukan.
Bagiku dan Nai, Kenny kotak rahasia. Menyimpan banyak cerita tantangku dan Nai. Namun Ken tak pernah, tidak pernah mau menjadikan dirinya jembatan bagi kami berdua. Segala hal yang kuceritakan kepadanya, disimpan rapat-rapat. Segala hal yang diceritakan Nai, dikuncinya rapat-rapat. Kecuali kekonyolan sekadar bahan bercandaan, sisanya, selalu ditutupinya dengan rapi.
Dua manusia dewasa seharusnya bisa berkomunikasi tanpa medium, aku tak ingin menjadi jembatan bagi kalian. Urus masalah kalian sendiri, aku hanya akan mendengarkan saja, kata Ken suatu hari. Aku bersyukur, begitu pun Nai. Ken menjadi tempat kami menyimpan banyak hal dan tak pernah ingin melibatkan dirinya, tak menjadikan dirinya pahlawan bagi kami. Aku dan Nai memperlakukan hal sama, kami tak membagi cerita yang Ken ceritakan ke kami. Itu cara kami menghargainya.
Meski kami bersahabat, kami tak sering menghabiskan waktu bersama. Ken bisa menghilang beberapa waktu, tidak ada jejak, tidak ada kabar, dan kembali sesukanya. Anehnya, Ken selalu datang saat kondisiku terpuruk, hadir dalam beragam bentuk, sambungan telepon atau tiba-tiba saja muncul di depan rumahku. Begitu lah Ken, deep blue-ku, lautan terdalam yang menyimpan banyak rahasia.
“Lo membuat gue merasa berguna sebagai manusia,” kata Ken ketika kutanya mengapa dia seperti selalu tahu kondisiku. Jawaban yang tidak singkron dengan pertanyaan, jawaban yang tidak menjawab apa pun. “Senggaknya, ada satu makhluk di dunia ini yang bisa gue tolong. Firasat gue kuat banget kalo tentang lo, entah kenapa.”
Ken meletakkan sepiring nasi goreng ikan teri dan segelah teh tawar di hadapanku. Ken menyilangkan tangannya sambil menatapku. Kupikir, Ken lama-lama lebih mirip pengawas ujian UN dan sebagai murid, membuatku tak berani menatapnya dan berfokus mengerjakan tugasku; menghabiskan masakannya.
Dia menyingkirkan piring ke sebelah kanan tubuhku setelah isinya pindah ke perutku. Duduk bersisian denganku.  Ken jelas  sedang meminta penjelasan mengenai nasib buruk yang sedang menimpaku sehingga aku menyayat lenganku dengan silet. Dan permintaannya, akan menjadi bagian paling menyebalkan karena aku harus mereka ulang kesedihan dan itu membuatku sakit.
Aku menceritakan seluruhnya kepadanya, tak melewatkan sedikitpun detail kejadian itu padanya. Perihal pertemuanku dengan Nai di taman, tentang sebuket bunga kertas sebagai ucapan atas pertunangannya dengan lelaki itu.  Tentang sikapku yang berusaha sok kuat di hadapan Nai dan permintaanku yang berujung penolakan. Nai tak mengubah pilihannya, memilih meninggalkanku dan bertunangan dengan lelaki itu.
“Aku pasrah, Ken. Rasanya, tidak ada yang baik di hidup ini.”
“Bim, kalau lo harus berjalan dengan satu kaki, lo harus tetap jalan bahkan kalau keduanya lumpuh, berjalan dengan tangan lo. Sehancur-hancurnya lo, seburuk-buruknya hidup lo, selagi lo hidup, artinya lo hidup dan lo harus menjalaninya. Gue nggak tau gimana cara melewatkan ini semua, hidup ini nggak ada polanya. Temukan cara lo atau jalani saja, sepait apa pun itu.”
Ken memelukku. Pelukan hangat itu menghancurkan tembok pertahananku. Sudut mata yang basah, kini tumpah. Mengalirkan aliran yang deras di kedua pipiku. “Ken, di depan mungkin lebih sulit. Mungkin tidak ada kebahagiaan untukku. Tapi, ada atau tidak bahagia itu, aku akan terus berjalan. Meski terseok-seok, aku akan terus berjalan. Hidup hanya soal bertahan sampai ajal datang kan?”
“Hidup hanya soal bertahan sampai ajal datang,” ulangnya.
Ken melepas pelukannya, berjalan ke lemari, mengambil kaus dan melemparkannya ke arahku. Ngafe yuk, ajaknya. Aku menggeleng pelan. “Ke TK aja, aku ingin liat anak-anak bermain ayunan dan prosotan,” pintaku. Ken mengiyakan dan memintaku mengganti pakaian.
Aku ingin belajar bahagia dari anak-anak. Tak mendendam, tak menyerah dengan luka. Terus bermain, seolah hidup adalah panggung permaian yang tidak mengenal kata berhenti.





“Kabu, gimana kabarnya, Nai?”
Kabu sahabat kami, seekor anjing kecil jenis Shiba. Nai pernah mengatakan padaku ingin memelihara seekor anjing dan memintaku menemaninya membeli dari pet shop. Kupikir itu bukan pilihan yang baik. Kita tidak pernah tahu, bisa saja anjing lucu dan menggemaskan yang kita bawa pulang hasil dari penyiksaan seseorang terhadap induknya. Aku menyarankan Nai untuk mengadposi saja dari salah satu teman kita. Butuh waktu berbulan-bulan hingga akhirnya seorang teman mengizinkan kami mengadopsinya.
Aku akan menjenguknya sesekali, jika kamu tak becus merawatnya akan kuambil lagi, kata temanku. Kami sepakat mengenai hal itu. Baik Nai dan aku memang tak punya reputasi memelihara hewan apa pun, kupikir perkataannya berasalan. Dia tak ingin salah orang. Anjing mungil ini mengingatkanku pada sosok Hachiko.
“Kita butuh nama, biar mudah manggilnya,” ucap Nai penuh antusias.
“Kabu,” celetukku pendek.
“Kabu? Apa artinya?”
“Nggak tau. Aku nggak ngerti bahasa Jepang, tetapi Kabu nama Anjing dalam film 5 Centimeters per Second.”
“Dasar maniak anime, apa-apa hubungannya sama anime,” Nai jengkel denganku.
“Ini keren, Nai, tonton dulu baru komentar.”
Kami menyingkarkan persoalan nama sejenak, menikmati film dari layar leptopku. Aku ingat betul perkataan Makoto Shinkai, sutaradara film ini. ‘The title 5 Centimeters Per Second comes from the speed at which cherry blossoms petals fall, petals being a metaphorical representation of humans, reminiscent of the slowness of life and how people often start together but slowly drift into their separate ways.’
Makoto benar, tidak ada yang bisa menutup kemungkinan apa pun di dunia ini. Bertahun-tahun memperjuangkan sesuatu yang kita anggap paling besar dalam hidup kita, berusaha mengikis jarak yang membentang, lalu, pada satu kesempatan kita akhirnya bisa tinggal dalam satu kota tetapi tetap saja tak bisa bersama. Bahkan, kita mulai mempertanyakan, benarkah jarak yang merenggut semuanya dari kita atau kita yang merasa tak lagi bisa bersama.
film ini membuatku memahami, jarak terjauh bukanlah satuan kilomter, melainkan hati. Hati yang tak lagi jatuh dan mengalir, tak peduli sedekat apapun jarak di antara sepasang kekasih.
Nai masih sesegukan sambil mengelap matanya yang basah menggunakan ujung kausnya. Aku tersenyum puas melihatnya menangis karena menonton film yang dianggapnya buruk itu. Ketawain aja, Bim, nggak perlu ngumpet-ngumpet gitu, katanya, tangannya menyikut tubuhku pelan. Aku pura-pura kesakitan, Nai malah mencubit perutku tanpa henti dan baru berhenti ketika kukatakan aku menyerah dan tidak tertawa lagi.
Ketika tangannya menjauh dari tubuhku, aku tertawa lagi dan Nai ikut tertawa. Kami tertawa bersama untuk sesuatu yang tidak kami pahami. Nai setuju memberinya nama Kabu, meski dia tak tahu artinya.
“Kamu pelihara apa, Bim?
Ini pertanyaan sulit buatku. Aku tak terlalu suka binatang, tepatnya, malas mengurusnya. Aku sangat teledor dalam banyak hal, tak becus mengurus diriku sendiri, lantas bagaimana jika memiliki hewan peliharaan.
Ketika kecil, aku pernah memelihara ikan mas koki. Karena tak memiliki aquarium, aku menggali tanah di halaman rumah, membuat kolam dari plastik. Aku menaruh beberapa potongan genteng agar ikan peliharaanku dapat berteduh di bawahnya. Sesekali aku pergi ke selokan mencari cacing sutra. Naas betul basib ikanku, dia berakhir di perut seekor kucing ketika aku lupa menutup kolam itu.
Aku juga pernah memelihara seekor kucing. Kucing kampung berwarna putih dan bergaris-garis hitam di tubuhnya. Ekornya pendek tetapi bulunya sangat lebat. Aku memangilnya Remi, tokoh kartun yang sering kutonton di televisi. Mama melarangku memasukannya ke rumah, bulu yang tertinggal di sofa kerap membuatnya bersin. Remi tidur di depan rumahku. Suatu hari, dia menghilang dan setelah itu aku tak pernah lagi memelihara hewan apa pun.
“Pelihara kamu aja, gimana? bisa jadi teman hidup beneran kan,” candaku.
“Ngomong sana sama dedek-dedek gemes. Geli aku dengernya.”
“Aku aja mau muntah, Nai.. hahaha.”
“Serius, Bim, mau pelihara apa? aku bantu rawat deh.”
“Burung hantu. Yang putih. Lucu kan, kalau malem suaranya bikin merinding.”
“Itu horor, aku takut hantu. Jangan macem-macem deh.”
“Fix. Aku akan pelihara burung hantu dan akan kukasih nama Malam.”
Nai hanya geleng-geleng kepala yang kutafsirkan sebagai umpatan, dasar gendeng. Dia bermain bersama Kabu di halaman belakang rumahnya. Aku hanya duduk memerhatikannya tersenyum bahagia. Aku tahu, ini muskil dan sangat membosankan karena terlalu sering kukatakan berulang-ulang, Tapi ini salah satu keinginan terbesar dalam hidupku, mengabadikan momen-momen bahagia bersamamu, Nai. Selalu ada rasa bahagia yang mengalir dalam hatiku ketika melihatmu bahagia.
# # #
“Bim . . . Bim, denger omonganku, nggak? Malah bengong
“Oh, iya, sorry . . . sorry. Gimana Kabu?” kataku gelapan. Tepukan Nai di pundakku menarikku kembali dari pusaran masa lalu. Tentang Kabu yang tak pernah lagi kujenguk semenjak kami berpisah.
“Kabu baik, sangat baik. Gemuk banget dia. Suamiku seneng banget main sama dia,” jawab Nai. “Kapan-kapan kamu harus jenguk dia, Bim,” pinta Nai dan membuatku sedikit berpikir mencari kata-kata yang pas untuk menanggapinya.
“Kapan-kapan pasti kujenguk.”
Meski aku tak tahu kapan-kapan itu akan datang atau tidak. Akan ada atau tidak







Liburan hanyalah memindahkan aktivitas dari satu tempat ke tempat baru. Definisiku mengenai liburan ditentang habis Nai. Bagi Nai, liburan melepaskan atribut sehari-sehari, menanggalkan pekerjaan, melakukan hal-hal baru. Mengunjungi tempat wisata, mencicipi makanan di berbagai tempat dan tentu saja mengabadikannya dalam bidikan kameranya.
Liburan bagiku hanya memindahkan aktivitas sehari-hari. Jika biasanya aku menikmati kopi di dalam kamar, kini berpindah ke penginapan. Jika menghabiskwan waktu berjam-jam di kedai kopi yang menurut Nai monoton karena hanya mendatangi tempat itu-itu saja, kini, mencicipi kedai kopi baru, tentu membawa komputer jinjing dan bekerja.
Ini yang paling menyenangkan; tidur seharian, leyeh-leyeh di atas tempat tidur, malas mengunjungi tempat wisata yang selalu ramai dan membuat pusing kepala.
Nai sangat kesal jika sudah bersiap-siap pergi dan aku masih mengumpet di balik selimut. Dia akan menarik selimutku dan aku akan menariknya kembali menutupi seluruh tubuhku. Terkadang, dia menyibak sedikit saja, membuat satu kakiku menyembul di ujung selimut. Dia akan mengelitiki telapak kakiku, menarik-narik jemariku dan jika upaya tak berhasil, dia menarik kakiku dengan kasar.
Yang paling menyebalkan, jika Nai membuka jendela dan membiarkan sinar matahari pagi yang menurutnya hangat dan menyehatkan itu, yang menurutku sangat mengganggu dan merusak tidurku, masuk melalui jendela. “Kalau cuma mau tidur, mending di rumah aja, nggak perlu pergi jauh-jauh,” umpatnya kesal.
“Kamu yang memaksaku pergi liburan. Aku cuma butuh tidur.”
“Jadi merasa terpaksa? Yasudah. Tidur aja sana atau pulang sekalian,” suaranya sedikit meninggi ketika mengatakan itu. Duduk di ujung kasur, membelakangiku.
Ini bukan strategi baru, Nai kerap melakukannya jika aku malas beranjak dari tempat tidur atau malas melakukan aktivitas di luar ruangan. Bodohnya, meski aku tahu ini hanyalah trik agar membuatku bangun, tetap saja aku mengikutinya. Nai tahu, sangat tahu, aku tak bisa melihatnya bersedih. Dia tahu aku sangat mencintainya dan trik ini, meski diulang berpulh-puluh kalipun tetap saja mempan terhadapku.
Aku memeluknya, mencium rambutnya dan berjalan menuju kamar mandi. Ekor mataku menangkap senyuman di bibirnya. Senyum jail.
“Nggak mandi?” tanyanya ketika  aku keluar dari kamar mandi dan hanya cuci muka.
“Ini perintah juga?”
“Nggak hehehe.”
Tujuan wisata, tempat makan dan segala hal yang berkaitan dengan liburan kuserahkah ke Nai. Aku tidak memiliki rencana satu pun. Aku membiarkannya memilih tempat-tempat yang disukainya dan aku mengekor di belakangnya. Satu-satunya yang ingin kukunjungi hanyalah kedai kopi. Kepalaku butuh kafein agar bisa bekerja dengan normal. Dari sekian banyak tempat yang dikunjungi, Nai memberiku waktu menghabiskan satu hingga dua jam di kedai kopi.
Kupikir ini kesepakatan yang adil. Nai bahagia mengunjungi tempat-tempat yang disukainya, aku bahagia menemukan segelas kopi yang nikmat dan kita bahagia bisa melakukannya bersama-sama. Apalagi yang kurang dari melihat orang yang amat kamu cintai duduk di sebelahmu sambil tersenyum dan berbagi tawa bersama, kurasa tidak ada.
# # #
Aku terbangun, dipaksa bangun oleh denyut kepala yang tidak berhenti. Belakangan, sakit kepala lebih sering hadir daripada ucapan selamat pagi dari orang yang kucintai. Kaki kiriku menyembul dari ujung selimut.
Tidak ada yang mengelitikinya, tidak ada yang menarik satu per satu jemariku, tidak ada yang menariknya paksa keluar dari balik selimut. Tidak ada yang membuka jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk. Tidak ada yang merengek dan memasang wajah kesal di ujung kasur sambil membelakangiku. Tidak ada yang kupeluk petama kali ketika kuterjaga. Tidak ada yang kucium rambutnya sebelum kakiku melangkah menuju kamar mandi untuk sekadar sikat gigi dan cuci muka.
Kehadiran Nai sebagai kekasih hanya ada dalam kepalaku, kepingan-kepingan masa lalu yang sering diputar di kepalaku dan aku menyaksikannya sambil beharap bisa memilikinya sekali lagi. Di kehidupan nyata, kehadirannya tak lebih sebagai seorang mantan kekasih, sebagai teman lama yang ingin berbagi cerita.
Tidak ada Nai di sampingku, bahkan di hari-hariku kini.



Previous PostPostingan Lama Beranda