Tampilkan postingan dengan label semacam kebohongan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semacam kebohongan. Tampilkan semua postingan

Aku ingin bilang, aku paham keraguanmu. Namun tidak sepatah kata pun yang keluar. Aku ingin bilang, aku mengerti ketakutanmu untuk memulai dan sendiri menjadi pilihan paling masuk akal buatmu.
Aku ingin kamu tahu bahwa aku memahamimu, tapi, entah kenapa di saat seperti ini aku justru kehilangan kemampuan berkata-kata. Di saat kamu butuh dikuatkan dan diyakinkan.
Barangkali, kebisuan menjadi hadiah untuk akhir sebuah pertemuan. Sebab ‘sementara’ yang kamu ucapkan di ujung pertemuan, menjadi akhir segalanya. Kamu menutup pintu rapat-rapat untuk semua hal yang berkaitan dengan kita.
Tapi, kalau aku masih punya kesempatan untuk menjawab, aku memilih untuk tetap ada di sini.
Duduk di sampingmu. Melihatmu gemetar menahan tangis ketika bercerita tentang kekecewaan. Di tengah tangismu yang belum yang reda, kamu melanjutkan cerita, tentang tanggung jawab, tentang membahagiakan orang-orang tersayang, tentang impian, harapan, rencana-rencana yang telah kamu susun dan ingin segera kamu wujudkan.
Matamu yang memerah itu menatapku ketika punggung tanganku menyentuh pipimu, menghapus air matamu. Tangan tirusmu meraih tanganku, menggenggamnya erat. Aku ada, selalu ada, di sini, di sampingmu, menemanimu, kataku, membuat tubuhmu yang sempat kaku berangsur mengendur. Kubiarkan kamu bersembunyi di pelukanku.
Aku ingin di sampingmu. Menemanimu melewati semua-semuanya. Menjalani semua fase hidup bersamamu. Aku ingin terus berjalan bersamamu. Menginjak tempat-tempat baru, melakukan hal-hal baru. Mengulang kecupan yang sama, pelukan yang lebih erat dari sebelumnya.
Kamu perjalanan terjauh yang pernah aku punya.
Kalau kamu perlu lebih banyak waktu untuk punya keberanian dan bisa kembali percaya, silakan ambil sebanyak yang kamu mau. Aku mau menunggu dan jangan pernah suruh aku pergi.*
*video klip Orang Biasa – Glenn Fredly

Aku suka caramu bercerita tentangnya. Hatinya, katamu, seperti rumah impian, muara dari segala impianmu.
Kamu memiliki banyak impian, banyak hal yang ingin kamu gapai. Kamu ingin menjejakkan kakimu ke tempat-tempat baru, tapi tempat yang paling ingin kamu tuju adalah hatinya, pulang kepadanya, menetap selamanya di sana. Jika selamanya berarti seumur hidup, seumur hidupmu ingin kamu habiskan bersamanya. Kamu sempat bertanya padaku, apa aku terlalu muda untuk memutuskan menghabiskan sisa umurku hanya dengan satu orang. Aku menggeleng, lantas bertanya kepadamu, apa usia menjadi standar bagi seseorang yang ingin memercayakan hatinya pada seseorang.
Kini, kamu yang menggeleng lalu tersenyum.
Aku sedang merapikan hatiku agar menjadi rumah yang nyaman baginya, katamu. Aku belajar memantaskan diri agar ketika tiba waktunya, aku menjadi pasangan yang baik untuknya. Aku hafal bagian ini, pada setiap pertemuan kamu sering mengatakannya, bahkan melalui pesan singkat yang kamu kirimkan padaku. Suatu hari, katamu, saat dia terjaga dari tidurnya, aku ingin menjadi hal pertama yang dia lihat. Sejauh apa pun dia berjalan, dia akan pulang kepadaku karena aku adalah rumah yang dia tuju, muara dari segala pencarian hidupnya.
Dia hanya belum sadar aku ada, katamu lagi.
Matamu seperti matahari pagi, hangat, dan bersinar ketika membicarakan tentangnya. Terkadang seperti lampu penerangan jalan, redup namun tak padam. Bagiku, katamu, dia seperti titik terang di sebuah lorong yang gelap. Pada setitik cahaya itu kamu memercayakan hidupmu. Kamu berjalan jauh, terus melangkah, terus mengumpulkan harap agar bisa keluar dari lorong kesedihan. Terkadang ia menjelma bintang di kelam malam. Menunjukkan jalan bagimu yang terombang-ambing di tengah lautan keputusasaan.
Kau, sudahkah menjadi rumah untuk seseorang dan menemukan rumah untukmu berpulang, tanyamu kepadaku. Kadang aku mencari, lain waktu, aku menunggu. Tidak ada rumus pasti kapan tangan-tangan Tuhan mempertemukan kami. Takdir yang tak kasat mata mungkin sedang jalin-menjalin antara aku dan dia, pada satu momen, pada satu peristiwa apa saja yang tak terduga, menjadi awal pertemuanku dengannya.
Barangkali ia seseorang yang dekat denganku, namun kami belum pernah bertemu. Mungkin ia berada di luar kota dan menunggu untuk ditemukan. Bisa saja ia sedang berada di lain benua dan kepulangannya akan mempertemukan kami, kataku.
Tapi, aku akan terus mencari, sesekali menunggu, hingga tangan-tangan Tuhan mempertemukan kami.


Fat mengirimiku sebuah surat yang hampir seluruh isinya bernada penyesalan. Aku bodoh, tulisnya, mengawali isi suratnya. Fat merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. Bertahun-tahun memposisikan diri sebagai rumah untuk seseorang yang  bahkan dalam setahun terakhir pun tidak pernah mengunjunginya. Dalam bentuk pesan sekalipun. Fat merasa telah ditipu harapan, meski kemudian ia mencoret kalimat itu dengan tinta merah.
Bukan harapan yang menipuku. Aku menipu diriku sendiri, koreksinya dalam surat itu.
Kadang-kadang, aku cukup berbesar hati menjadikan diriku sebagai tempat singgah, tempat pelarian pertama ketika ia tidak tahu harus menuju ke mana. Aku menyimpan sedikit kebanggan dalam diriku sambil terus berharap, suatu saat nanti, status singgah yang melekat padaku berubah menjadi pulang. Tapi, setelah tahun-tahun panjang yang kuhabiskan untuk memikirkan semuanya, aku merasa hina pada diriku sendiri. Baginya, aku tidak lebih dari tempat sampah. Meski lebih tepat jika kukatakan kakus, tapi itu membuatku semakin merasa jijik pada diriku sendiri, tulis Fat.
Pernah satu kali Fat tiba-tiba tertawa di tengah tangisnya, waktu itu ia memintaku datang karena pria yang dicintainya, yang berjanji akan menemuinya, tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Di tengah tawa dan tangisnya itu, ia berkata lirih kepadaku. Ia bukan hanya tidak datang, ia menghilang.
Fat tidak pernah meminta apalagi memaksanya datang menemuinya. Sebagian dirinya bahkan telah menerima jika pertemuan itu tidak akan terjadi. Tidak ada yang mengharuskan dia datang, tapi dia harus mengrimkan kabar jika pertemuan itu dibatalkan. Fat menceritakan kepadaku, satu-satunya alasan ia mengiyakan pertemuan itu karena ia ingin lelaki yang dicintainya hidup bahagia. Lelaki itu, kata Fat, tidak ingin membawa penyesalan ketika mati. Dan salah satu penyesalannya tidak pernah mengucapkan kata maaf secara langsung kepada Fat. Tapi, dia memilih menghilang, membawa utang penjelasan sekaligus maaf yang belum pernah diucapkannya secara langsung.
"Dia akan datang lagi. Hanya menyapa atau berbicara yang tidak ada hubungannya dengan pertemuan sebelumnya. Baginya mungkin tidak penting menjelaskan ketidakdatangannya. Toh ia merasa selalu dan pasti kuterima" lanjut Fat. 
"Sekarang kamu membencinya?"
“Kalau bisa memilih,” ujar Fat, kemudian menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya pelan, “Aku tidak ingin membencinya. Bukan karena aku masih berharap bisa hidup bersamanya, keinginan itu telah lama kukubur jauh-jauh hari. Aku hanya ingin hidup lebih tenang tanpa membenci siapa pun, termasuk membencinya. Dalam hatiku, masih ada sedikit harap agar ia hidup dengan tenang, bahagia.  
Di pengujung surat, Fat mengatakan telah menghapus jembatan yang menghubungkannya dengan lelaki itu, menghapus nomor kontaknya, mem-block akun media sosialnya, termasuk menghapus seluruh foto di telepon ganggam dan komputer jinjingnya. Kalau bisa, aku ingin lupa pernah mencintai seseorang sebegitu besarnya yang memperlakukanku dengan begitu buruk, tapi aku tidak bisa lupa. Yang kupilih adalah menambah ingatan-ingatan baru. Dengan cara apa? Aku tidak tahu. Aku hanya ingin baik-baik saja, bahagia jauh sekali untuk mencapainya. 
Ia menutup suratnya dengan mengatakan akan segera menghubungiku jika kondisinya sudah membaik. Ia ingin menarik diri dahulu. 
Aku menunggu Fat menghubungiku. Semoga ia baik-baik saja. 

"Seharusnya semua berjalan baik-baik saja. Seseorang yang berjuang mati-matian mempertahankan hubungan seharusnya bersama, bahagia, bukan ditinggalkan begitu saja.”
Ia masih tidak percaya bagaimana hidup mengejutkannya. Bertahun-tahun ia berperang melawan rindu yang tak mengenal waktu dan pertemuan yang semakin berkurang dari waktu ke waktu. Tapi ia mencoba mengerti, masih ingin memahami. Pun begitu ketika panggilan telepon tak lagi sering mengunjungi telepon genggamnya dan pesan-pesan yang dibiarkan menunggu lama hanya untuk jawaban seadanya. Ia masih mencoba mengerti. Memaksa dirinya mengerti bahwa semua hanya soal jarak dan kesibukan yang merenggut pertemuan dan percakapan dari mereka.
Jarak adalah kambing hitam dari gagalnya pertemuan. Sibuk adalah pengecualian yang menuntut dimafhumi, pemaafan dari sebuah ketidakberdayaan. Sebentar lagi, ia tidak perlu melempar semua kesalahan pada jarak yang membentang antara ia dan lelakinya.
Segaris senyum tipis melengkung di bibirnya saat melihat waktu perlahan-lahan mengikis jarak di antara mereka. Ia telah memutuskan, setelah tahun-tahun panjang yang melelahkan, ia akan mendatangi kota itu, mencari penghidupan di sana dan menetap bersama kekasihnya. Selamanya. Tidak ada rindu yang disampaikan hanya melalui telepon genggam, melalui suara tanpa tatap muka atau teks-teks yang dikirimkan dalam pesan-pesan. Di kepalanya, gambar-gambar kebahagiaan bermunculan. Segalanya, baginya, akan berbeda sebentar lagi.
Tapi hidup mengejutkannya, gambaran kebahagiaan yang telah ia susun di kepalanya hancur berantakan hanya dengan satu panggilan telepon dari lelaki yang amat dicintainya. Tak didengarnya kata kangen yang biasa diucapkan lelaki itu kepadanya. Hanya jeda yang panjang, cukup membuat debar jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, cukup untuk memikirkan hal buruk sedang terjadi di antara mereka, namun ia tak tahu apa, tak menahu apa-apa. Ia hanya menunggu, terus menunggu lelaki itu kembali berbicara. Di ujung sana, mungkin lelaki itu berkali-kali menelan kata-kata yang tak mampu ia muntahkan.
Sebaiknya kita putus, katanya, kalimat pertama setelah jeda yang terasa amat lama. Kalimat yang tidak pernah terpikir akan didengarnya dari lelaki itu. Setelahnya, kata-kata terus meluncur dari bibirnya, penjelasan yang tak ingin ia dengar, alasan-alasan yang tidak ia butuhkan.
Tubuhnya meluruh ke lantai. Dinding kamar tempatnya bersandar mengalirkan rasa dingin ke tubuhnya, memenuhi hatinya. Rasa hangat yang hadir tiap kali mendengar suara lelakinya tak dapat lagi ia rasakan, hanya marah, kecewa, terluka, membuat dadanya terasa sesak. Tangannya bergetar hebat seiring rasa sesak di dadanya yang tak mampu ia tahan. Telepon genggamnya jatuh. Ia tak lagi memedulikan panggilan dari lelakinya, masih tersabungkah atau sudah putus. Ia hanya ingin menangis, terus menangis, menumpahkan semua rasa sakitnya. Menumpahkan semuanya. Berharap lewat air mata yang jatuh, rasa sakitnya perlahan-lahan hilang. Ia terus menangis hingga membuatnya kelelahan dan membuatnya terpejam.
Ia terbangun dengan mata sembab. Jejak air mata di pipinya masih ada. Di tidur yang singkat itu, ia memimpikan lelakinya berdiri tidak jauh darinya. Ia berjalan menuju sosok itu. Langkahnya terasa ringan seperti ada sepasang kepak sayap di punggungnya yang membuatnya mampu berjalan cepat ke arah lelaki itu. Selangkah lagi, sedikit lagi, aku menggapaimu. Namun kepak sayapnya tiba-tiba terhenti, langkahnya menjadi berat, kakinya serasa diikat rantai besi yang membuatnya tak mampu melangkah lebih jauh lagi. Selangkah lagi. Ia hanya butuh satu langkah untuk menggapai lelaki itu.
Seluruh tenaga ia keluarkan untuk satu langkah itu, namun kakinya tak bergerak sedikitpun. Tangannya berusaha menggapai lelaki di hadapannya, tapi hanya udara yang ia gapai. Lelaki di hadapannya hanya diam, kemudian melangkah, tidak menujunya, tapi menjauh darinya. Meninggalkannya yang terpaku sendirian. Kabut tipis datang dari segala arah, mengaburkan sosok lelaki yang berjalan menjauh darinya.
Sayup-sayup suara percakapan diselingi tawa terdengar di telinganya, suara yang bukan berasal darinya, percakapan yang tidak melibatkannya. Suara kekasihnya dan perempuan yang ia kenal. Seseorang yang begitu dekat dengannya dan lelakinya, sahabat kekasihnya. Kabut itu terus menebal, terus menebal lalu masuk ke mulut dan hidungnya, membuatnya sulit bernapas. Dan saat napasnya hambir habis, ia terbangun dari tidurnya.
“Seharusnya nggak begini, nggak seperti ini,” tangisnya pecah lagi.
Tangisnya belum reda, tapi kepalanya tengah sibuk menyusun satu demi satu kepingan yang ia harapkan dapat memberinya sebuah jawaban yang ia cari. Mimpi buruk yang mampir di tidur singkatnya itu seperti satu kepingan puzzle yang menuntunnya menemukan kepingan-kepingan jawaban dari pertanyaan: kapan semua ini bermula? Sejak pertemuan mereka semakin berkurang? Sejak ia dengan bodohnya membiarkan sahabat kekasihnya leluasa masuk ke dalam hubungan mereka? Ataukah jauh sebelum itu, saat lelakinya mengenalkan sahabatnya kepadanya?
Ia tidak menemukan jawaban yang pasti. Satu hal yang pasti, ia bukan lagi penghuni tetap di hati kekasihnya.



“Aku ingin dimakamkan di dekat taman buah. Ketika kau mengunjungiku, kau seperti sedang piknik, bukan mengantar tangis dan kata-kata yang tak lagi mampu kujawab.”
Tiap kali memikirkanmu, aku menyelipkan satu harapan. Seperti surat kecil yang ditulis Saajan Fernandes kepada Ila yang diselipkan di kotak makan siang, ia bercerita, ketika istrinya meninggal, ia mendapat makam horizontal. Aku ingin membeli tempat untuk kuburanku dan mereka menawariku makam vertikal. Aku telah berdiri di bus dan kereta sekian lama selama hidupku, bahkan aku juga harus berdiri ketika mati nanti,  tulisnya. Tentu saja, harapanku tak seperti Fernandes yang ingin dimakamkan secara horizontal tepat di sisi istrinya.  
Aku berharap jasadmu dikremasi.
Lalu aku pergi mengunjungi satu tempat kesukaanmu, laut yang tenang kehijauan, karang-karang indah yang kamu pandangi ketika menyelam. Sepotong roti yang kamu bawa untuk kamu hancurkan, mengundang ikan-ikan datang, mengerubutimu. Kamu yang mencintai laut seringkali melupa bahwa tubuhmu telah pucat saking lamanya berenang di sana. Dan keindahan lainnya yang selalu ingin kamu bagi denganku, termasuk senja, yang menurutku biasa saja.
Aku ingin melarung abumu dan semua ingatan tentangmu di sana, tempat kesukaanmu. Pada laut tempatmu berpulang, aku ingin mengucap selamat tinggal pada kecewa, juga luka-luka, juga terima kasih untuk setiap momen kebersamaan kita. Lalu berharap sekembalinya dari perjalanan itu, aku tak lagi merasa sedih setiap kali mengingat kematianmu. Tapi aku sadar, tak ada yang benar-benar hilang dan terhapus.
Karena musim membawa ingatan yang tak pernah benar-benar terhapus ke tempat tidurku.
Dan seperti harap-harap yang mati, harap yang lain kembali bertunas. Aku bahagia harapanku tak tercapai. Kini, tiap kali memikirkanmu, aku menyelipkan satu harapan, semoga kamu tenang di sana, di hamparan ruput, dekat taman buah, tempatmu beristirahat.
Aku akan mengunjungimu dalam waktu dekat.


Previous PostPostingan Lama Beranda