Tampilkan postingan dengan label unlabeled. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label unlabeled. Tampilkan semua postingan

Aku tidak ingin merebut posisinya, menjadi pemeran utama dalam lakon hidupmu. Menjadi bahan dalam setiap obrolanmu, menjadi kebanggaan yang kamu tunjukkan di hadapan manusia-manusia. Menjadi alasanmu tersenyum sepanjang hari dan alasanmu menangis sepanjang malam. Dia yang kamu pilih sebagai aktor utama dalam hidupmu malah sibuk dengan segala urusannya, tidak acuh kepadamu. Pada malam-malam sepimu, dia menjadi aktor utama dalam hidup orang lain.
Aku tidak ingin menggantikan posisinya, pemeran utama dalam setiap jejak hidupmu. Aku mencukupkan diri menjadi figuran dalam setiap film yang kamu mainkan. Memastikanmu aman, memastikan tak seujung kukumu tersentuh kesedihan.
Namaku mungkin tidak pernah terselip dalam setiap percakapanmu, tidak pernah menjadi alasan dari segala bahagiamu. Tetapi, aku juga tidak pernah menjadi alasan dari setiap tangismu. Aku menantang segala bahaya untukmu, menanggung sebagian besar bebanmu, menjadi penampung segala kesedihanmu. Menjadi kotak tempatmu menyimpan rahasia-rahasia.
Aku hanyalah figuran dalam lakon hidupmu, tapi tanpaku, hidupmu tidak akan berjalan baik-baik saja.

Sedang memikirkan tuhan dan manusia-manusia lalu tak menemukan apa-apa.
Dua manusia sungguh kecil jika dihadapkan pada miliaran manusia yang hidup di dunia ini. Terlebih jika dihadapkan pada tuhan. Namun, sebenarnya kita memiliki kemampuan menjadi besar dengan porsi yang kita pilih. Tapi seringkali keinginan itu kalah dengan rasa takut, melawan mayoritas membuat kita gugup dan akhirnya menyerah lalu kalah.
Barangkali ego yang membuat kita merasa mampu memiliki segala yang kita inginkan. Lalu kita dibenturkan pada kenyataan bahwa kita tidak mampu memiliki semuanya. Kita dibuat takluk, dipaksa menyerah dan mengakui ketidakmampuan kita.
Ego yang besar harus tunduk di bawah dinding-dinding kebahagiaan orang-orang tersayang. Melepaskan keinginan yang sudah mengakar dan membuat semacam harapan, kebahagiaan dapat diraih di kemudian hari. kita merasa dipaksa melepas atau sebenarnya kita yang melepas karena tak berani memanjat dinding-dinding yang dibuat itu. kita menyalahkan orang lain, mungkin mereka memang salah tapi kita tidak ada bedanya dengan mereka ketika membiarkan kesalahan itu tetap diwariskan dari waktu ke waktu.
Mungkin naif atau pasrah, tapi mungkin juga benar adanya. Jika jodoh, pasti memiliki titik temu. Jika bukan, sekeras apa pun berusaha tetap tidak menemukan jalan. Kita mungkin berpikir kalau kita berjodoh, nyatanya bukan. terlalu cepat meletakkan titik pada sebuah hubungan, nyatanya hanya tanda koma. Kita diminta melanjutkan dengan atau tanpa kita. melanjutkan kalimat demi kalimat hingga mencapai titik.
Tidak ada rumus pasti, tidak ada pola khusus.
Dari semua pemikiran yang saling tumpang tindih di dalam kepala, saya tak menemukan apa-apa. tak bisa menyalahkan siapa-siapa, termasuk diri saya sendiri. ingin rasanya menyalahkan orang lain atau menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan tuhan sesekali meski kita tahu tak akan berguna karena tuhan tidak bisa didikte dan kita tidak tahu cara kerja tuhan.









saya tak pandai mengucap perpisahan, berjabatan tangan pun enggan. pada pertemuan-pertemuan yang disengaja, pada perjumpaan yang tak di sengaja, pada pesan-pesan singkat, pada perbincangan di telepon, saya  tak ingin mengucap perpisahan.
jika nanti saya pergi dan tak mengucapkan salam perpisahan, datanglah ke mari. mungkin ada kisahmu di sini, mungkin tidak. tidak semua kisah ditulis, kadang, hanya tersimpan dalam ingatan, yang kerap memudar, tertimpa ingatan-ingatan baru.
teruslah berjalan, teruslah bahagia, kawan!










saya baik-baik saja. tidak perlu mengkhawatirkan saya. sebenarnya, saya ingin mengatakan, apa pun yang terjadi dalam hidup saya, bukan tugasmu untuk mengkhawatirkannya, bukan jatahmu lagi. tapi, terlalu egois rasanya meminta orang lain tak lagi mengkhawatirkan diri kita. saya tak punya hak melarang seseorang mengkhawatirkan keadaan saya, seperti halnya tak bisa meminta orang lain berhenti mencintai saya meski saya tak mencintainya.
mengenai tulisan-tulisan kelam yang kamu baca di blog ini, itu cara saya mengobati kelamnya pikiran saya. kamu tahu, kepala saya dipenuhi benang-benang kusut, yang sulit dilerai. saya menulis untuk melerainya.
kita memang tak menemukan kata sepakat pasca berakhirnya hubungan kita. bahkan, jauh sebelum itu, saat kita bersama, kita tak juga menemukan kesepakatan dan membuat hubungan kita berakhir. kamu tetap ingin menjalin komunikasi, memastikan aku baik-baik saja. memintaku menghubungimu saat aku sedang terpuruk. bersedia menjadi tempatku berkeluh-kesah, tentang apa saja.
tapi, aku lelaki. aku tahu rasanya jika seseorang dari masa lalu menghubungi kekasihku. Ada rasa marah dan cemburu. aku tak ingin hal itu terjadi pada kekasihmu.  aku tak ingin mengusikmu, mengusik hubunganmu.
ada baiknya kita terus menatap ke depan. tak perlu mengkhawatirkan hal yang sudah-sudah. saranku sederhana, doakan saja yang terbaik untukku. aku tak pandai berdoa, malas berdoa. biarkan ini menjadi kisah yang indah, tentang seseseorang yang selalu mendoakan mantannya. dalam diam.

Dan hidup, seperti wadah besar untuk menampung kebahagiaan, juga kekecewaan. Kekecewaan yang bertubi-tubi. Yang datang, datang lagi, terus datang, terus-menerus datang dan belum sempat kau selesaikan atau mungkin memang bukan untuk diselesaikan.
Saat kau mencoba berdamai, sisi hidupmu yang lain terus berjalan, bergerak, meminta perhatian. Kau lupa untuk menyelesaikan kekecewaanmu. Yang terus tumbuh, masuk dalam hatimu, menumpuk, menempel, menyatu dalam darah dan daging hingga sulit kauenyahkan. Hingga sulit kauhapuskan. Terlalu sulit.
Kau bisa saja berpura-pura telah berdamai, melanjutkan hidup dan melupakan kekecewaan. Nyatanya, kau hanya menghindar, hanya berpura-pura. Dan kepura-puraan menyisakkan rasa tak nyaman.
Barangakali benar, kekecewaan bukan untuk diselesaikan. Biarlah menumpuk, biarlah menggerogoti hidup, biarlah memakan harap, dan membunuhmu pelan-pelan.
Previous PostPostingan Lama Beranda