Tampilkan postingan dengan label Pesan Ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesan Ibu. Tampilkan semua postingan



pada yang merekah dan melayu, pulang ke pangkuan ibu.
di pintu rumah itu, tangan-tangan keriput yang ditempa kalut menyambutmu, mengusap lembut kepalamu. wajahnya lelah, tubuh yang melemah digerus waktu, tapi menyimpan hati yang kokoh melebihi karang. ibu; tempatmu berpulang.
pada tiap langit sore yang serupa jeruk matang, kau bertanya, inikah pulang atau pergi? 
apakah pulang artinya menuju sebentuk kotak-kotak bangunan tempat tidurmu, yang kausinggahi, untuk sekadar menukar lelahmu dengan tidur sebentar lalu kembali ke gedung-gedung perkantoran, di mana matahari menggandakan diri di kaca-kaca, di layar komputermu.
atau ini hanya pergi, bisa juga singgah, sebab waktumu lebih banyak dihabiskan di jalanan ibu kota, menuju satu tempat ke tempat lainnya.
lalu satu pesan datang, satu panggilan telepon datang, mengedip di layar telepon genggammu: dari ibumu. menanyakan kabarmu, bagaimana makanmu, istirahatmu cukup, masih tegakkah solat lima waktumu, juga rindu. rindu ingin memelukmu. mengusap lembut kepalamu. membiarkan kepalamu merebah di pangkuannya, seperti kau kecil dulu.
lalu kau tak lagi bertanya tentang arti pulang. kaki-kakimu tahu kemana harus menuju. hatimu tahu jawaban dari pertanyaanmu. rumah, kadang tak hangat, terkadang tak nyaman untuk ditempati, tapi dia menyimpan begitu banyak cinta kasih. memberi banyak kasih sayang. pulang pada orang-orang tersayang.  
pada Ibu; yang menyimpan cemas di jantungnya, memenuhi hatinya dengan doa, untukmu.





ia menyimpan cemas di jantungnya, memenuhi hatinya dengan doa; untukmu.
ia mengetahui yang tidak kamu ceritakan. merasakan yang kamu rasakan. ia menahan diri untuk bertanya, memberi ruang untukmu, menunggumu bercerita tentang luka juga bahagia, bercerita apa saja. ia menyiapkan sepasang telinga untuk selalu mendengarkan. ia telah terlatih sejak tubuhmu keluar dari rahimnya dan suara tangismu memecah hening ruang persalinan.
tubuhnya tak lagi sekokoh karang, tapi hatinya, benteng yang tak tergoyahkan, tempat paling nyaman untukmu bersembunyi dari segala marabahaya dunia. meski kalut menempanya puluhan tahun, selalu ada ruang kecemasan tentangmu, yang membuatnya bertanya kepadamu, berharap beban yang memenuhi pundakmu dapat terangkat sebagian. jika saja ia bisa mengambilnya, ia akan mengambil seluruhnya hanya agar langkahmu ringan dan berlari mengejar mimpi-mimpimu lagi.
ibu mengetahui yang kamu sembunyikan, merasakan luka yang tak terucapkan karena ia selalu menyimpan cemas di jantungnya. karena hatinya selalu dipenuhi doa-doa agar kamu selalu bahagia.

Nak, manusia yang besar, bukan hanya mereka yang menggenggam kemewahan hidup. Kamu benar, di negeri ini, kekayaan membuat orang menjadi terpandang dan kemiskinan hanya membuat orang lain enggan menatap wajah orang lain meski hanya menggunakan sebelah matanya. Tapi, Nak, jika kau tak memiliki harta berlimpah, bukan berarti kamu kecil di hadapan manusia-manusia.
Kakekmu hanya seorang guru agama miskin. Mengajar ngaji di kampung tanpa memungut biaya sepeser pun dari murid-muridnya. Dia disegani banyak orang, bahkan setelah wafat berpuluh-puluh tahun, rasa hormat warga tidak memudar, kehormatan itu terus mengalir ke keluarga kita. Uwakmu meneruskan jejak kakekmu, menjadi guru ngaji dan disegani, begitu pun bapakmu. Meski hanya seorang ustad kampung, dia dihormati banyak orang.
Nak, kelak, jika kamu memiliki kekayaan, kuharap, bukan itu yang membuatmu dihormati banyak orang tapi sikapmu pada orang lain. Kebaikan dan kemurahan hatimu pada sesama. Kamu pernah merasakan tak ada lauk pauk menjelang hari raya, mengenakan pakaian yang sama selama bertahun-tahun, warnanya telah memudar dimakan usia. Maka, berilah sedikit kebahagiaan pada mereka agar mereka terhibur di hari raya. 
Nak, belajar memaafkan agar hatimu lapang. Bukan untuk orang lain, tetapi untuk dirimu sendiri. Memaafkan tidak membuat orang yang melukaimu merasa lebih baik, tetapi membuatmu merasa lebih baik. 
Ibu tahu, kamu lelaki pendendam. Kamu marah pada dunia. Di matamu yang menyimpan luka, bara kemarahan sering menyala di sana, siap membakar siapa saja, apa saja. Ibu merindukan matamu yang teduh. Mata bocah baik hati, mata  lelaki yang mengalirkan kasih sayang. Kamu harus ingat, satu musuh, satu orang yang kaubenci terlalu banyak untuk dunia fana ini. Jangan bebani hidupmu untuk membenci orang lain. 
Nak, jangan terbebani dengan pertanyaan ‘kapan menikah’ dari banyak orang. Mereka tak benar-benar mengenalmu, tak benar-benar tahu kondisimu. Orang-orang terdekatmu memahami keputusanmu. Ibu, bapak, dan kakakmu tidak bertanya, bukan kami tidak ingin kau segera membangun rumah tangga tapi kami memahami kondisimu.
Kamu anak paling pendiam di rumah, kamu menyimpan bebanmu seorang diri. Sejak kau bekerja sambil kuliah, ibu tidak pernah mendengarmu mengeluh. Ibu tahu, beban yang pikul berat meski kau tidak pernah mengatakannya. Guratan wajahmu terbaca jelas olehku. Hatiku selalu tahu kondisi anakku.
Nak, kesedihan bukanlah sesuatu yang bisa kauhabiskan seorang diri. Bagi bebanmu pada orang yang kaupercaya.



Nak, matahari tak selalu terik dan membakar, ada kalanya dia begitu hangat dan menenteramkan. Jangan terlalu larut dalam kemarahan, amarahmu akan menghanguskan apa saja, siapa saja, termasuk dirimu sendiri. Jadilah matahari pagi, lembut dan menghangatkan. Cintai seseorang dengan lembut, marah untuk sesuatu yang pantas membuatmu marah lalu melembutlah. Beri dia kehangatan agar nyaman bersamamu.
Nak, senja yang dipuja-puja tak pernah angkuh dan merelakan dirinya dibalut malam. Keindahan yang tak pernah bisa digenggam, keindahan yang hanya berlangsung sesaat. Begitu pun cinta, Nak, ada yang tak bisa kaugenggam meski sangat kauinginkan. Senja mengajarkanmu arti berserah, mengajarkanmu arti merelakan. Belajarlah melepas, belajar merelakan.
Nak, bumi tak pernah mengeluh meski dihujani. Tak pernah marah meski manusia-manusia tak ramah. Bumi mengajarkanmu arti kesabaran. Ingat, tidak ada kesedihan yang menetap selamanya, tidak ada bahagia yang bertahan selamanya. Jika hidup memberimu luka-luka, balutlah lukamu. Jika hidup memberimu bahagia, bersyukurlah. Jangan menyerah, karena bumi tak pernah menyerah untuk manusia, untukmu.
Nak, awan kelam kerap menutupi cahaya bintang, cahaya bulan, langit hanya berupa jubah hitam pekat. Begitu pun pandanganmu, tak melulu jelas, terkadang kamu tak melihat apa-apa selain kegelapan yang mamatikan harap. Tapi, angin akan membawa awan mendung pergi perlahan, cahanya bintang dan bulan akan menerangi langkahmu.
Nak, jika seseorang yang selalu kamu sebut namanya dalam doa-doamu tak menjadi jodohmu, percayalah, akan ada seseorang yang selalu menyebut namamu dalam setiap doanya. Seseorang yang menginginkanmu melebihi apapun, melebihi siapapun. Bersabarlah, kamu dan dia akan saling menemukan.
Nak, gema takbir kemenangan sebentar lagi berkumandang. Bersyukurlah agar hatimu lapang, agar hatimu tenang.


Previous PostPostingan Lama Beranda