Barangkali memang tidak semua hati memiliki pintu. Maka mengetuknya berkali-kali, Hanya akan akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. –Adisti-

Saya menanti dengan intuisi. Meyakinkan hati bahwa semua akan baik-baik saja. Memastikan dia akan datang dan membawa hati yang pernah saya titipkan untuknya. Intuisi tak selalu benar, bisikan-bisikan halus seringkali menyesatkan.

Terlalu berisiko menitipkan hati pada seseorang, bisa saja dia meletakannya di laci pojok rumahnya, mengunci rapat-rapat lalu membuang kuncinya.

Tapi juga terlalu berisiko tidak menyerahkannya pada siapa-siapa. Ia ingin berlabuh, menikmati hempasan ombak dan tajamnya kerikil karang. Ia ingin terombang-ambing hingga saatnya tiba ia kan berakhir di tepian. Membuat hidup lebih berwarna, tak datar-datar saja.

Ada banyak jalan untuk seseorang pulang. Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk mencapai sebuah tujuan. Tapi benarkah ia ingin pulang dan mengembalikan titipan hati itu atau justru pergi dan membuangnya.


Untuk kesekian kalinya saya mempertanyakan hal ini, apa impian saya? Sejak lama saya mempertanyakan ini, hasilnya nihil, saya tak menemukan jawaban apa-apa.
Teman dan sahabat saya bilang ”mungkin belum nongol du, nanti juga muncul”, ”impian lo tuh ada di depan mata, sayang aja mata lo belum kebuka”, ada juga yang bilang gini ”ngapain ngeributin mimpi, mimpi itu bakal ilang saat lo bangun. Jalanin apa yang lo suka- titik”.
Setelah lulus kuliah dan memasuki dunia kerja, pertanyaan itu muncul lagi, bekerja sesuai mimpi atau sekedar alat menyambung hidup. Ironisnya, saya menjalani pilihan yang kedua. Setelah mengubek-ubek hati dan jiwa tentang impian, saya tak juga menemukan jawaban, hal yang paling realistis buat saya adalah kerja apa saja, sekedar menutupi status pengangguran. Meski pada akhirnya saya harus berpindah dari satu kantor ke kantor lainnya karena nggak betah dengan pekerjaannya.
Bertemu dengan teman-teman kuliah dan SMA, sekedar temu kangen dan kongkow-kongkow selalu saja bergesekan dengan hal yang berbau pekerjaan. Hal yang satu ini rasanya sulit sekali keluar dari topik pembicaraan, selalu saja ada yang menyinggung. Dan tiap kali bersentuhan dengan hal ini, ujungnya hanya satu ”kemapanan”.
Sayangnya muara dari kemapanan itu adalah ”materi”, seberapa banyak kah materi yang kamu hasilkan dari pekerjaanmu selama ini. Dan tiap kali ditanya mengenai hal itu, saya speachless, nggak tahu mau ngomong apa.
Sampai sekarang saya suka geli kalau memikirkan hal ini, barometer hidup cuma diukur lewat materi. Bukan saya munafik, saya juga butuh uang. Tapi persoalannya bukan butuh atau tidak butuh tapi prioritas mana yang mau diambil. Rasanya sayang kalau hidup ini cuma untuk menumpuk uang.
Saya mempunyai beberapa teman yang mendedikasikan hidupnya bukan sekedar mencari uang. Selepas SMA, Mereka mengajar di sekolah-sekolah yang masih minim sarana pendidikan dan tenaga pengajar. Gaji yang mereka terima sangatlah terbatas, jauh dari kata cukup.
Hal yang membuat saya kagum, ketika mereka bilang “saya nggak terlalu memikirkan uang Du, semua pasti ada jalannya. Masa selama lima tahun mengabdi tidak ada satu atau dua jam yang lahir dari keikhlasan. Dan masa pengabdian ini tidak membekas apa-apa dalam diri saya, ga ada yang sia-sia Du”.
Saya memang tidak tahu apa impian saya, bahkan sampai saat ini saya nggak tahu harus mengejar apa. Tapi kalau dengan alasan itu saya harus banting stir dan bekerja hanya untuk mengejar materi, lebih baik saya tidak bekerja dan menjadi pengangguran. Karena itu, seringkali saya berpindah tempat kerja karena alasan tak nyaman, bukan saya banget. Meski orang tua dan temen-temen kompalin karena gaji yang saya dapatkan sangat lumayan untuk seorang fresh graduate.
Mungkin ini pilihan bodoh atau nekat, tapi saya bilang sama diri saya sendiri: lima tahun ke depan, saya ingin mencari jati diri saya, mencari pekerjaan yang saya banget, nggak peduli seberapa besar gaji yang saya dapat kalau nggak nyaman saya akan keluar. Kalau setelah lima tahun tak juga menemukan hal yang saya cari, saya akan memikirkan ulang, untuk terus maju atau banting stir. Saya selalu percaya, nggak ada yang sia-sia.
10:17/060911


Kamu bilang aku berubah. Aku tanya, apakah aku sudah menjadi cowok yang romantis? Kamu bilang nggak. Untuk satu itu kamu nggak pernah bisa berubah, tetap cuek seperti biasa. Makin menyebalkan malah, begitu cerocosmu yang kupancing dengan satu pertanyaan.
Lalu apa yang berubah? Tanyaku penasaran. Pandangan hidupmu yang berubah, begitu jawabmu singkat. Aku mulai bingung, apa benar yang kamu katakan atau kamu hanya ingin menggodaku. Menjahiliku dengan pertanyaan anehmu. Meski aku nggak peduli dengan pendapat orang, kamu tahu, pendapatmu bisa memengaruhi otakku.
Sadar ga, kamu jadi makhluk yang sekuler, makhluk yang sering mengkritisi tuhan. Kamu ingat waktu semester tiga, kamu ingin masuk kegiatan dakwah, menurutmu keren. Hal-hal berbau agama adalah sakral bagimu. Kamu akan mencak-mencak di kelas kalau ada temanmu yang mencemoh nabi dan tuhan. Ingat ga?
Apa iya aku seperti itu? tanyaku dalam hati. Aku memang mencintai agamaku tapi bukan fanatik buta. Bukan kayak banci-banci teroris yang berlindung di balik bendera islam. Aku percaya, terlepas dari identitas kita sebagai muslim dan non muslim, kita adalah manusia­­­-titik.
Tuh kan berubah. Dulu kamu makhluk yang benci dengan impian. Katamu kalau orang punya mimpi itu akan mentok pada satu impan saja, mengejer-ngejar yang belum tentu bisa digapai. Seperti orang yang baru tidur, semua mimpi yang dirajutnya hilang tanpa bekas. Akhir-akhir ini kamu galau, marah-marah kayak orang kesetanan, nyesel karena selama hidup nggak ada tujuan yang ingin dicapai. Kamu ingin kayak air tapi nggak pernah mikir mau bermuara dimana. Kadang aku sebel lihat kamu marah-marah kayak gitu, waktu kita berdua aja habis cuma buat dengerin kamu ngoceh nggak jelas. Mending seperti biasa, sedikit ngomong.
Kamu inget ulang tahun jadian kita yang ketiga, surprise mu mentok di angkringan Fatmawati. Kamu bilang ini sementara, kalau nanti kamu punya duit kamu akan traktir di tempat mewah. Aku pura-pura marah, tapi liat wajah rasa bersalahmu, aku luluh, nggak bisa aku lihat kamu murung begitu. Tapi setelah kamu buktiin janjimu, makan di resto, ngopi di Kopi Tiam, di Bakoel Coffe, aku justru sedih. Kamu melakukannya karena rasa bersalahmu, rasa bersalah karena nggak bisa memberikan sesuatu untukku. Padahal aku nggak minta apa-apa, buatku kamu sudah menggenapai semuanya.
Aku hanya bisa mengernyitkan dahi, bingung, speachless. Nggak nyangka banyak yang berubah. nggak nyangka kalau perubahan yang merayap-rayap itu udah membuat kamu nggak nyaman. Aku minta maaf.
Nggak apa-apa, katamu pelan. Lalu kamu bilang cuma kangen dengan diriku yang santai, cuek dan nggak banyak omong. Kamu kangen nongkrong di angkringan, atau sekedar duduk- duduk ngopi di depan pintu Taman Mini hingga pagi. Kamu kangen nonton JiFFest di Tim, Kangen nonton teater dan liat seniman-seniman di wapres. Kamu kangen dengan kepulan asap rokokku dan kopi hitam. Kamu kangen dengan hal-hal remeh yang sering kita jalani Semua kangen itu membuatmu marah dan kesal kepadaku.
Cuma itu..

Dia duduk di sudut kanan, tak pernah berubah sejak dulu. Jika singgasananya telah terisi, dia kan berdiri, menunggu orang itu pergi, hingga lelah lalu pergi tanpa pernah berucap. Dia sadar tempat itu bukan miliknya, bukan juga hadiah yang tuhan berikan untuknya, dia hanya ingin di situ, mengamati bis yang berhenti di hadapannya. sudut kanan tepat bersisian dengan pintu depan bus, jika bus berhenti mudah untuknya melihat, menyisir siapa saja yang turun dan melanjutkan perjalanan.

Hari ini dia mengenakan little black dress, dibalut dengan sweater abu-abu. Sungguh disayangkan memang, mini dress yang indah harus terhalang oleh sweater. Namun dia tak perduli, hari ini hari sabtu, hari abu-abu. Bukan ingin mengaburkan dua karakter yang kuat, menurutnya sabtu adalah abu-abu. Dia membagi hari dalam warna atau membagi warna dalam hari, entah mana yang benar, baginya tujuh hari mewakili tujuh warna, begitu juga sebaliknya.

Aksesoris yang dia bawa hanya satu, payung hitam berukuran besar. Untuk satu ini dia tak ingin membagi dalam hari, dia tak ingin telanjang karena tanpanya dia merasa ditelanjangi. Dia bukan peramal yang tahu kapan datangnya hujan, hanya saja intuisinya mengatakan hari ini akan hujan, meski intuisinya seringkali keliru.