“Saya ingin amnesia,” kata teman saya sore itu. “Saya ingin melupakan semua luka, membuang semua rasa sakit terutama sakit hati. Saya ingin bahagia dan mengingat yang baik-baik saja,” tambahnya.

“Kalo kamu amnesia, rasa sakitanya kan bertambah dua kali lipat dari yang kamu rasakan sekarang,” jawab saya datar.

“Koq bisa?”

“Setiap kali kamu patah (hati), kamu belajar untuk membalut. Setiap kali luka itu datang kamu belajar untuk mengobati. Setiap kali kamu dikhianati kamu belajar untuk memaafkan. Hati dan pikiranmu selalu belajar dari setiap kegagalan yang kamu hadapi. Kalau kamu amnesia, kamu harus belajar lagi dari awal. Belajar terluka dan belajar mengobati luka itu.”

“Lalu bagaimana saya harus menjalani semua penyiksaan ini?”

“Saya tidak tahu, saya termasuk orang yang sering gagal dalam membina hubungan. Tapi saya percaya, tuhan memberikan hidup satu paket. Ga cuma duka aja tapi juga bahagia. Meski keyakinan saya sering goyah. Saya tidak bisa mengobati luka kamu, kamu yang tahu caranya. “

“Saya akan belajar memaafkan, jika tidak bisa saya memilih untuk amnesia”

KopitiamBSD-4okt011

Dear Nadd...
Mungkin kamu heran, dari sekian banyak cara untuk kita berkomunikasi, saya memilih surat. Padahal dibutuhkan waktu satu-dua hari untuk mencapai rumahmu. Mungkin saya terlalu jenuh dengan telepon, sms, chatting dan BBMan.
Kemarin saya ke rumah, maaf ga bilang, mama juga teleponnya dadakan. Mama bilang Nisa kangen sama saya, kebetulan saya sedang meeting di luar jadi saya sempatin mampir ke rumah kamu. Adik semata wayang kamu (calon adikku juga) itu emang selalu ngangenin, ga heran kalau saya langsung datang pas mama telepon.
Pas saya pamit, mama tanya tentang high heels kamu, mama bilang semua high heels koleksimu sudah kamu berikan ke sepupu-sepupu kamu. Saya speachless ga tau harus jawab apa. Saya ngerasa ada yang ganjil, kenapa untuk satu hal ini kamu nggak cerita apa-apa. Saya ga nuntut kamu untuk cerita semua hal, tapi bukankan sudah berkomitmen untuk saling terbuka. Saya pamit dengan sebuah pertanyaan yang belum terjawab.
Malamnya, saya berpikir bukan tentang high heels kamu tapi tentang sikap diammu. Saya merasa masalah itu bukan pada diri kamu, bukan karena kamu jenuh dan ingin merubah penampilan. Tapi karena saya.
Saya tahu, kamu berusaha menyesuaikan diri dengan saya. Pasti ga mudah untuk meyakinkan orang-orang di sekelilingmu bahwa pacarmu secara pisik lebih rendah dari kamu.Tapi apakah harus membuang apa yang kamu sukai bertahun-tahun hanya demi saya.
Buat saya ga masalah kalau harus jadi bahan cengan teman-teman, saya juga ga keberatan mendapat tatapan aneh dari teman-teman kamu. Masalah buat saya, ketika kamu harus jadi orang lain untuk bersama saya. Saya ga menuntut apa-apa. Saya mencintai kamu bukan karena kesempurnaan, sampai kapan pun selalu ada perbedaan.Untuk bersama saya, kamu ga perlu melakukan hal itu. Cukup jadi diri kamu
Terima kasih sudah menyesuaikan diri dengan saya.Terima kasih sudah menerima saya apa adanya. Terima kasih dan terima kasih..
Warm Regards,
Badru Alwahdi.

Nggak heran jika banyak orang yang akhirnya kalah dengan pikirannya sendiri. Ketakutan kerap kali muncul dalam pikiran dan membuat rencana manis gagal barantakan. Pikiran sudah mempredikasi apa yang terjadi di masa depan, sudah mengkalkulasi apa yang belum dilakukan. Hidup tak bisa dikalkuasikan, ia bukan barang mati, selama masih bernafas selalu ada yang terjadi. Tak bisa diprediksi.

Hal itu yang saya alami saat ini. Beberapakali saya melewatkan interview dari sebuah perusahaan besar di Jakarta. Dengan alasan yang sangat sederhana, ”takut nggak cocok” saya melewatkan kesempatan itu begitu saja. Padahal kita nggak pernah tahu cocok atau tidak sebelum mencoba.

Ketakutan terbesar dalam hidup saya adalah membayangkan kerja dengan busana formal. Memakai kemeja, celana bahan dan sepatu pantofel. Belum lagi harus duduk di depan komputer dari pagi sampai pulang, satu-satunya penyelamat hanyalah istirahat. Terbiasa bekerja dengan setelan santai membuat saya risih jika harus berpenampilan rapi. Sayangnya interview datang dari perusahaan-perusahaan yang mengharuskan saya bergaya formal.

Saya coba merenung, merunut kembali alasan saya resign dari perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya. ”saya ingin mencari pengalaman baru-titik”. Seharusnya dengan alasan itu saya tak perlu khawatir bekerja di perusahaan apa dan posisi apa. Semakin besar kesulitan yang harus dihadapi akan semakin kuat seseorang menghadapi hidup.

Dari situ saya mulai berpikir untuk keluar dari kungkungan pikiran yang membelenggu saya selama ini. Saya tidak tahu pekerjaan yang benar-bener saya banget. Selama ada kesempatan untuk mencari, saya kan mencari. Saya tak lagi peduli soal formal atau nonformal. Lapangan atau site kantor. Media atau bukan. Pengalaman yang akan menentukan nyaman atau tidak. Saya banget atau bukan.

Saya semakin bersemangat untuk menyambut hari esok. Selamat datang interview, selamat datang pengalaman baru dan selamat tinggal ketakutan….

Sehebat apa pun seseorang, sekuat apa pun dia, putus-selalu menyisakkan rasa sakit. Rasa pahit, melebihi pahitnya meneguk kopi tanpa gula. Kamu tak menemukan Aroma kenikmatan di sana, yang tertinggal hanya luka, menggores kaca hati yang selama ini kamu jaga sangat hati-hati.
Entah mengapa kamu selalu membuka facebooknya, melihat statusnya, dan melihat komen-komen tentangnya. Kamu juga melihat tweetnya, hanya untuk memastikan apakah dia bahagia atau terluka.
Menemukannya bahagia, kamu marah. Ada rasa kecewa mengetahui dia bahagia tanpamu. Kamu ingin dia terluka, menyesal telah meninggalkanmu, dan berharap dia bersujud-sujud memohon kembali padamu. Nyatanya tidak, dia bahagia selepasmu, kamu yang sakit tanpanya.
Kamu ingin dia sendiri, tak terikat dan menggantungkan hatinya pada siapa-siapa. Kamu ingin dia merasa kehilanganmu, melepaskanmu dari hatinya pelan-pelan, dengan begitu kamu merasa dihargai, merasa pernah dimiliki.
Tak terhitung betapa banyak air mata yang kamu tumpahkan untuknya. Tak terhitung lagi berapa jumlah tisu yang kamu pakai untuk menghapusnya. Jutaan detik kamu relakan terbuang sia-sia untuknya. Hanya untuk melihatnya terluka, menangis dan menyesal.
Kamu tak bahagia. Dia, yang kamu harapkan terluka malah bahagia. Dia, yang setiap detiknya kamu caci malah tersenyum gembira. Dia, yang setiap waktu kamu hujani sumpah serapah malah tertawa. Tapi lihatlah kamu, tak ada yang kamu dapat kecuali luka.
Saya takberharap kamu memaafkannya, karena saya tahu kamu begitu terluka. Saya juga tak memintamu untuk terus menyimpannya, Karena itu membuatmu semakin terluka. Saya tak meminta apa-apa, sebagai sahabat saya hanya ingin kamu bahagia.
Curhat dari sahabat, 15,48/150911