Ia hanya duduk di sudut, tak menyapa dan tak ingin disapa. Sesekali mengangkat pandangan, merekam sekeliling dalam hitungan detik lalu tertunduk kembali. Dia mengulangnya sesekali, tak peduli apakah ada orang di sekeliling memerhatikannya. Dia merasa seperti diorama, kehadirannya tak merubah apa pun.

Seperti germis di siang hari. Sembunyi di awan pekat. Malu-malu menurunkan hujan, menikmati rintik. Sesekali petir menghampirinya, memaksanya tak lagi menjadi gadis pemalu. Tak perlu lagi tanda, tak perlu lagi ritme. Hujan ya hujan. Basah.

Tak penting lagi romantis, gerimis bukanlah suasana yang diciptakan melainkan pelengkap. Gerimis menolak, menangis dalam diam

Seperti gerimis, gadis pemalu menangis dalam diam.

Mau tak mau aliran ini harus dipecah, tidak bisa tidak. Hati kita perlu terus mengalir, terus memberi. Tak boleh ada yang ada yang berhenti, itu akan membuatnya berhenti memberi, lalu mati.

Sepanjang malam aku tidak bisa tidur, tak bisa memejamkan mata, sejenak pun tidak. Obrolan semalam dengan Dinda membuka satu hal, Terry tak bahagia denganku. Seharusnya aku sadar, sikapnya berubah dan mata itu, mata itu tak berbinar seperti dulu saat kita bertatapan. Aku tak bisa lagi bercermin di mata itu, yang tampak hanyalah kosong.

Sudah satu jam aku duduk di di kafe ini, Terry tidak telat datang tapi aku sengaja datang lebih awal. Aku tak tahu harus memulai dari mana, tak tahu harus berkata apa. Kerongkonganku kering, pita suaraku mendadak rusak. Hanya kata-kata yang bermain dalam otakku tanpa bisa kuterjemahkan dalam suara.

Aku ingin mempersipakan segalanya, termasuk mempersiapkan perpisahan ini. Tak ada yang siap dengan perpisahan dan untuk pertama kalinya dalam hidup aku siap untuk hal itu, siap untuk melepas Terry. Mungkin aku manusia paling bodoh di dunia ini, melepas seseorang yang telah menjadi bagian dari hidupku tapi akan lebih bodoh lagi jika aku menahannya bersamaku.

Aku memilih duduk di sudut ruangan, cahaya lampu kafe tak menjangkau tempatku duduk. Hanya remang-remang dan pantulan cahaya dari kaca. Aku tak ingin terlihat terluka ketika melepasnya, aku ingin terlihat bahagia, meski tak ada perpisahan yang bahagia.

Terry datang dengan tshirt merah marun kesukaannya-sekaligus kesukaanku. Dibalut kardigan hitam dan sepatu teplek membuat dia begitu sederhana. Aku menyukainya dengan amat sederhana.

Dia duduk tepat di hadapanku, memesan es krim vanila kesukaannya. Tak ada yang berubah darinya sejak pertama kali kita bertemu, kecuali aku yang terlalu mencintainya dan dia yang mulai kehilangan hal itu.

“Kamu tumben niat banget ngajak aku ketemuan, nggak biasanya kamu begini, ada apa sih Ndra?” tanyanya dengan nada sedikit cemas.

Aku tak tahu harus mulai dari mana, pertanyaan tadi terlalu basa-basi buatku. Aku ingin meledak rasanya menahan semua ini.

“Kenapa ga bilang Ter, kenapa harus bohong, kenapa nggak jujur kalau kamu udah nggak bahagia sama aku. Kenapa aku harus tau dari Dinda Ter, kenapa?” tanyaku secara beruntun. “Aku nggak pernah sesayang ini sama orang dan kamu orang pertama yang membuatku jatuh cinta sekaligus. Aku nggak pernah siap dengan perpisahan dan untuk pertama kalinya dalam hidup aku siap......... siap melepasmu.”

“Aku juga nggak tau Ndra, semua terasa datar bagiku. Aku nggak tau apakah ini hanya sementara atau selamanya. Yang aku tau, hatiku terasa datar, tak ada lagi yang mengalir. Tak ada lagi yang bisa kuberi untukmu. Kalau pun aku menjalani hubungan ini bersamamu karena aku ingin kamu bahagia, kamu berhak bahagia Ndra”

“Apa cuma aku yang berhak bahagia, bagaimana dengan kamu? Apa kamu nggak layak untuk bahagia. Wake up Ter, hubungan ini kita bangun berdua, bukan kamu dan juga bukan aku. Kalau ada salah satu diantara kita nggak bahagia, atau sudah menemukan yang lebih baik, itu hal yang harus kita bicarakan bukan sembunyi-sembunyi kayak gini.”

“Dia temanku sejak kuliah, tepatnya aku mencintainya sejak kuliah. Kita nggak pernah dekat, hanya sesekali ngobrol, selebihnya hanya say hallo. Lalu kamu datang, membawa cerita baru. Awalnya aku sempat ragu tapi melihat ketulusanmu aku berfikir ulang, kenapa nggak dicoba, bukan kah hati layak memberi kesempatan. Aku merasa nyaman sama kamu, kamu orang pertama yang sangat tulus mencintaiku, saking tulusnya hingga aku takut nggak bisa mencintaimu seperti kamu mencintaiku. Perasaan takut ini lama-lama mulai menggrogoti hingga akhirnya aku merasa datar, merasa tak layak kamu cintai. Ditambah hadirnya dia, membuatku semakin yakin kita sulit untuk terus beriringan. Karena melihatnya, sama saja membangunkan impian dan memori masa lalu. Sampai akhirnya aku tersadar, perasaan ini masih ada, masih terlalu kuat untuk diabaikan. Tapi aku nggak mungkin meninggalkanmu, meninggal orang yang telah mencintaiku dengan tulus, ini ga adil buat kamu Ndra.”

“Ini bukan perkara adil atau ga adil Ter, ini perkara hati, sampai mati pun kita nggak bisa melihatnya hanya dengan logika. Aku ga pernah menyesal mencintaimu. Dari awal aku menjalani hubungan ini sama kamu, aku sadar, mungkin kamu adalah orang yang tuhan persiapakan untukku, kalaupun tidak, kamu adalah pelajaran terbaik yang tuhan berikan untukku. Dan buatku itu cukup.”

Kita berdua terdiam, tak ada kata. Kebisuan mulai menjalar, menyelimuti pikiran kita masing-masing. Terry menitikkan air mata, entah air mata bahagia atau kecewa, hanya Terry yang tahu. Aku hanya diam, tak ingin menumpahkan air yang mengumpul di pelupuk mata. Tak ingin terlihat terluka, karena aku Terry melihatku bahagia melepasnya.

Tiba-tiba Terry menghampiriku, memelukku dengan erat, butuh beberapa detik untuk membalas pelukannya dengan erat. Ini mungkin pelukan terakhir kita sebagai sepasang kekasih. Setelah ini, Terry akan menjalani takdirnya dengan orang lain dan aku menjalani takdirku dan takdir-takdir yang lainnya.

*untuk cinta sederha, aku tak pernah menyesalinya

Pukul 00:00, batas hari ini dan esok, juga batas hari ini dan kemarin. Masa depan yang bergulir menjadi masa kini dan masa kini yang tertinggal menjadi masa lalu.
Kamu pasti sudah tertidur pulas, celana pendek dan kaos gombrong menjadi ritual yang tak bisa kamu gantikan. Kamu akan mengeluh tak nyaman jika menggunakan gaun dan jeans. Kamu sangat detail terhadap hidupmu, cuci muka, cream malam dan perawatan lainnya menjadi rutinitas yang tak terbantahkan.
“Aku harus cantik,” begitu katamu padaku. Seolah kata cantik menjadi parameter cintaku padamu. “Semua cowok kan suka cewek yang cantik, langsing dan stylish, kalo aku jelek pasti ditinggalin.” Kamu mungkin lupa, nggak semua cowo berpikir seperti itu. Secantik-cantiknya kamu hari ini tak ada yang menjamin kamu akan tetap cantik esok, apakah aku akan pergi jika itu terjadi.
Kamu coba diet ketat, membentuk tubuhmu agar terlihat proporsional. Kamu ingin terlihat anggun menggunakan dress, terlihat cantik, agar orang-orang yang mengecewakanmu menyesal telah meninggalkanmu. Tapi kamu lupa, bahwa kamu melakukan hal itu bukan untukmu sendiri, kamu hanya ingin membuktikan bahwa kamu bisa, bahwa kamu hebat tapi kamu tak bahagia melakukan hal itu.
Jatuh bangun kamu berusaha melakukan itu, yang kamu dapatkan hanya satu-sakit. Kamu tak perlu melakukan itu, kamu terlalu berharga dan tak pantas jika hanya menjadi hiasan. Kamu bukan barang, yang harus selalu dituntut sempurna secara fisik. Banyak hal yang membuat kamu menarik.
Pukul 01.00, 60 menit berlalu tanpa kata. 60 menit yang panjang tapi terlalu singkat bagi kamu yang tertidur pulas. Bobo-bobo cantik, itu yang selalu kamu bilang padaku.
Posisi tidurmu miring ke arah kiri, hanya menyisakan wajah sebelah kananmu yang terlihat. Rambut panjangmu yang tergerai menutupi sebagian wajahmu, wajah manis tanpa polesan. Tangan kirimu bersembunyi dibalik bantal, tangan kananmu dibiarkan memanjang, berharap digengang atau menggenggam dan tak pernah dilepaskan.
Aku berharap ada disampingmu, tidur menghadap kiri agar bisa berhadapan dengan wajahmu. Menggenggam tanganmu sehingga kamu tak perlu lagi menggapai, sudah ada tanganku yang menggenggammu erat dan tak akan melepaskan.
Aku ingin terus berada dihadapanmu, melihatmu sesekali bergerak membetulkan posisi tubuhmu, menyisir anak-anak rambut yang bermain di wajahmu. Mengusap peluhmu dan menikmati harum bau tubuhmu.
Ketika sinar-sinar kecil menusuk celah-celah dinding kamar, kamu terbangun. Tersenyum mendapatiku ada di hadapanmu, senyum bidadari yang menghilangkan beban dunia.
Semoga ini nyata...
*untuk wdp yg membuat mimpi ini menjadi nyata...

Tak ada yang sempurna, tak ada yang terbaik dan tak ada yang paling bahagia. Terbaik bagi seseorang bisa jadi terburuk buatmu. kebahagiaan bagi seseorang, bisa jadi kesedihan buatmu. Semua relatif, bermain dalam kotak pikir individu.

Yang kamu pikir maksimal bisa jadi belum cukup buatnya. Yang terbaik menurutmu, mungkin tak berarti apa-apa buatnya. Mungkin seseorang yang kamu anggap istimewa, menganggapmu biasa.

Tak ada patokan, tak ada ukuran, yang ada hanyalah individu-individu…