Aku mencium punggung tangannya, mengecup keningnya dan memeluknya. Perempuan yang usinya genap 66 tahun ini memintaku datang. Memintaku rehat sebentar dari kemacetan Jakarta, menunda sedikit pekerjaanku dan melupakan tentang kesibukan-kesibukan lainnya. Aku harus sedikit bertengkar dengan atasanku, mengingat tenggat pekerjaan yang hampir mendekati garis mati, aku tak dizinkan pulang, meski hanya dua hari.
Aku meyakinkan atasanku, semua tugasku akan
selesai tepat waktu. Aku mempertaruhkan pekerjaanku. “Jika tak selesai tepat
waktu, pecat saja. Saya nggak bisa menolak permintaan ibu,” kataku. Dia menatap
tajam, menunjukku menggunakan jari telunjuknya dan pergi begitu saja. Aku
anggap diamnya adalah persetujuan.
Dan, di sinilah aku sekarang. Berada di rumah
tua, rumah panggung yang tak ingin diganti ibuku. Ada banyak kenangan yang tak
bisa kauganti, ada banyak cerita yang akan rusak jika rumah ini direnovasi,
begitu kata ibu setiap kali aku menawarkan untuk merenovasi rumah peninggalan
ayah.
