Kanika;
Aku pernah membayangkan, bukan. . . bukan membayangkan, tetapi memimpikan pernikahan dengannya. Bahkan setelah memutuskan hubunganku dengannya dan menjalin hubungan dengan beberapa pria lainnya, impian itu tidak pernah pudar, tak sedikitpun memudar dari benakku. Pria-pria yang singgah di hidupku justru memperkuat keinginanku menghabiskan hidup bersamanya.
Tidak ada pria yang lebih baik, pengertian, sabar dengan sikapku yang berubah-berubah dan mampu membuatku nyaman selain Gama. Pria yang kuserahkan kunci gembok rahasiaku pada hari pertama kita berjumpa. Gama, hanya dia sosok yang mampu membuatku nyaman bercerita apa saja, menangis sejadi-jadinya tanpa takut dianggap lemah.
Dia yang meyakinkanku untuk tak pernah lari dari apapun. Bersamaku, kita hadapi semua. Kamu tak perlu lari lagi, katanya. Beberapa kalimat darinya mengubah hidupku.
Pria yang ingin kuhabiskan sisa hidupku bersamanya kini ada di hadapanku. Berdiri di depanku dengan sorot mata tajam, menusuk hingga ke ulu hatiku. Tatapan mata yang sama yang membuatku kagum di awal perjumpaan kami. Tatapan itu juga yang membuatku tak betah lama-lama memandang matanya, aku takut tertusuk tatapannya.
Ketika dia menggenggam tanganku, sorot mata  itu berubah menjadi teduh, begitu menenangkan, membuatku ingin masuk ke dalamnya, bersembunyi dari segala keburukan hidup yang membuatku rapuh. Namun aku sadar, sorot mata itu tak lagi untukku. Bukan jatahku, dia milik seorang gadis yang pernah kujumpai beberapa waktu lalu. Ingatan itu membuatku refleks menarik tanganku dari genggaman Gama.
“Cukup, Gama. Kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkanku, tidak perlu menjagaku. Sebaiknya kamu pulang, sudah larut,” kataku.
Gama maju beberapa langkah, wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari wajahku. Hembusan napasnya menyentuh wajahku, aroma rokok yang kubenci tetapi tak pernah membuatku ingin jauh darinya. Aku bahkan selalu memimpikan momen seperti ini, meski aku tahu, sekarang bukan waktunya. Sudah bukan jatahku lagi.
“Setop, Gama,” kataku, mendorong tubuhnya pelan. Gama menarik langkah kakinya ke belakang, mundur beberapa langkah dari hadapanku. “Aku gak butuh dikasihanin. Berhenti berskiap baik padaku, berhenti melakukan segala hal dalam hidupku.”
“Aku masih sayang kamu, Kanika. Aku ingin memilikimu sekali lagi,” ucap Gama.
Kata-kata Gama seperti halilintar yang mengubah suasana hening malam. Jika dia mengatakannya sebulan lalu, jika dia mengucapkannya sebelum aku mengenal gadis itu, jika dia datang padaku seperti ini saat dirinya masih sendiri, aku pasti menjadi perempuan paling bahagia di dunia ini. Laki-laki yang paling kucintai berdiri di hadapanku dan mengutarakan keinginannya hidup bersamaku.
Sekarang, semua itu tak penting lagi, tak ada arti lagi, sepercuma membuang garam di lautan, sia-sia saja.
“Mulai hari ini, kita urus hidup kita masing-masing.”
“Kalau itu mau kamu, aku terima keputusan kamu. Seperti dulu, aku selalu memghormati keputusan kamu,” kata Gama sambil berlalu pergi meningalkanku.
Aku tak tahu dari mana kata-kata itu dan bagaimana bisa meluncur begitu saja dari mulutku. Tetapi mungkin ini yang terbaik bagi kami berdua. Aku belajar tak berharap apapun dari Gama dan Gama bisa melanjutkan hubunganya dengan gadis itu. Kupikir, ini baik bagi semuanya, meski dalam hatiku, aku tak benar-benar yakin bahwa melepas Gama dapat membuatku bahagia.
Aku pernah melepasnya sekali dan itu membuatku hancur. Tetapi aku masih hidup sampai saat ini, artinya aku hanya hancur, tidak akan mati. Semua akan berlalu, kataku pada diri sendiri, berusaha menguatkan diriku sendiri.
# # #
Gama;
“Mulai hari ini, kita urus hidup kita masing-masing,” kata Kanika kepadaku.
Aku tidak mengerti isi kepala Kanika. Perempuan itu memintaku sekali lagi pergi dari hidupnya, seperti dulu saat dia memintaku menjauh dari segala hal tentangnya. Dia membangun tembok-tembok besar dariku. Aku tak berusaha merobohkan tembok itu, aku memilih membuat tangga, menapakinya sesekali dari balik tembok besar yang dia ciptakan, memerhatikannya dari jauh, menjaganya dari jauh.
Hingga aku menyadari ada yang berubah dalam diriku, perasaan ingin memiliki hilang begitu saja, hanya keinginan menjaganya yang tetap tinggal dalam diriku. Mungkin ini cinta, mungkin sayang, atau hanya ego dari seorang lelaki yang berusaha memenuhi janjinya kepada seseorang yang pernah amat dicintainya.
“Jika kita putus nanti, aku tidak akan mengganggumu. Aku akan terus menjagamu, sebisa yang aku mampu. Kamu boleh datang kapanpun kamu mau, dalam kondisi apapun. Apapun,” kataku di awal kami pacaran.
Beberapa bulan setelah kami putus, hubungan kami membaik. Kami mulai berkomunikasi lagi meski aku sadar, tembok-tembok itu belum hancur seluruhnya. Kanika yang kukenal masih bersembunyi di balik tembok-tembok yang dia ciptakan. Aku tak punya keinginan merobohkan tembok-tembok itu, aku mencukupkan diri dari pertemanan ini. Bagiku, melihatnya baik-baik saja atau membantunya menjadi lebih baik itu sudah cukup. Perihal kebersamaan yang pernah kita impikan, sudah kubuang jauh-jauh dari pikirku. Aku hanya ingin memastikannya baik dan itu cukup untukku.
Suatu hari, Kanika datang padaku, mengatakan padaku telah menemukan seseorang. Aku berpura-pura bahagia, nyatanya, harapan itu masih ada, menempel kuat di pikiran dan hatiku. Detik itu juga aku merapikan koperku, menarik diri darinya. Segala hal yang berbau tentangnya, membuatku sakit. Segala ingatan tentangnya membuatku terluka. Aku harus belajar melepas, meski aku tak tahu, tak pernah benar-benar tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan.
Tahun demi tahun berlalu tanpa ada komunikasi lagi. Aku berpikir, Kanika telah menemukan orang yang tepat dalam hidupnya, dia tak membutuhkanku lagi. Aku tak tahu apa yang dipikirkan Kanika atas kepergianku dan aku tak berani menebak-nebak isi kepalanya, yang seringkali gagal kupahami. Tapi sore itu, menjadi babak baru bagiku dan Kanika. Perempuan mungil itu duduk di pojok salah satu kafe tempatku biasa menghabiskan waktu dengannya.
Aku mencoba menghindarinya, anehnya, kakiku malah bergerak menuju mejanya. Berdiri kaku seperti robot yang kehilangan kendali. “Hai,” sapaku canggung dan dibalas dengan “hai” lalu dia memintaku duduk, tepat di hadapannya. Kupikir butuh waktu lama bagi kami untuk mencairkan suasana setelah bertahun-tahun tak bertemu. Namun, anggapanku salah. Sebuah celetukan ringan seperti segelas air panas yang mampu mencairkan  balok es percakapan kami.  Semua begitu mudah, begitu cepat hingga aku tak menydari begitu banyak hal yang kami bicarakan. Seperti dua orang yang puasa bicara, sekalinya diberi kesempatan begitu banyak kata-kata yang keluar dan sulit direm.
Kanika mengatakan padaku pernah menjalin beberapa hubungan dan selalu gagal. Dia menyerah dan pasrah, menunggu pangeran berkuda menjemputnya. Dia tak ingin berusaha keras mencari pasangan. Jika waktunya tiba, pernikahan akan menjadi nyata. Aku hanya perlu menunggu saja, katanya. Selepas putus dengan Kanika, hanya satu kali aku berpacaran. Itu pun berakhir dengan rasa bersalah karena aku memutuskan hubungan itu secara sepihak. Aku menyadari, belum bisa mencintai orang lain selain Kanika.
Dan malam ini, Kanika kembali memutus tali yang mendekatkanku kepadanya. Membangun tembok-tembok seperti dulu agar aku tak bisa menggapainya. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Aku masih seperti dulu, menghormati keputusannya dan belajar melepasnya sekali lagi.
# # #
Kanika;
Satu hal yang paling kubenci dalam hidup ini; dikasihani. Aku benci tatapan iba dari orang lain. Aku perempuan kuat, setidaknya, aku selalu berusaha terlihat kuat di hadapan siapa pun. Meski pada waktu-waktu tertentu aku hanya bisa menangis di dalam kamar seorang diri. Aku tak ingin membaginya ke siapa pun. Satu-satunya orang yang kupercaya membagi tangisku hanya Gama dan kali ini, air mataku tumpah karenanya. Aku tidak mungkin menceritakan kesedihanku pada orang yang telah membuatku terluka. Itu seperti menyerahkan dirimu kepada buaya lapar, ditelan hidup-hidup tanpa perlawanan dan aku tak mau menyerah tanpa melawan.
“Pucet amat, Nik. Sakit lo, mending istirahat aja,” celetuk Sarah, teman kantor sekaligus sahabatku.
“Cuma kurang tidur aja, Sar. Nanti pasti baik kok,” jawabku singkat.
“Ada hubungannya sama Gama?” selidiknya.
“Hidup gue nggak selalu tentang Gama ya, Sar,”
“Berapa kali sih gue liat lo putus dan lo bisa bangkit dalam waktu cepat. Cuma Gama yang bisa bikin lo nggak tidur berhari-hari. Mata bengkak dan akhirnya ambruk. Ada apa lagi sih, Nik?”
Melihatku menjatuhkan kepala ke atas meja dan mulai terisak, Sarah menarik kursi sembarang dan duduk di sebelahku. Aku tak tahan lagi, pertahananku jebol sudah. Air mata ini rasanya tak dapat lagi dibendung. Hilang sudah image Kanika yang kuat dan aku tak lagi peduli tentang julukan itu. Aku hanya perempuan yang berusaha sok kuat dan pada akhirnya kalah juga dengan hidup.
“Tau gimana rasanya jatuh cinta dan patah hati sekaligus?” tanyaku ke Sarah. Dia menggeleng sambil terus mengusap-usap punggungku. “Tiga hari lalu Gama datang ke rumah, dia bilang masih sayang sama aku. Aku seneng banget dengernya, itu kayak mimpi dan akhirnya emang cuma jadi mimpi. Gama bilang sayang sama gue saat dia juga jalin hubungan sama cewek lain. Itu yang membuat gue sakit, Sar.”
“Emang lo tau dari mana Gama udah punya pacar?”
“Gama pernah kasih liat foto mantannya. Dua minggu lalu, aku liat di pelukan sama cewek yang persis dalam foto itu. Aku langsung tau kalau itu mantannya dan mereka balikan.”
“Lo udah tanya ke Gama?”
“Buat apa? biar langsung denger dari mulutnya kalau mereka balikan. Itu kaya nusuk diri lo berkali-kali,” ucapku.
# # #
Gama;
Sarah memintaku datang ke sebuah kafe di bilangan selatan Jakarta. Aku kenal Sarah sejak lama, dia sahabat Kanika, tapi aku tak terlalu dekat dengannya. Aku sendiri heran, badai apa yang membuatnya begitu tergesa-gesa memintaku datang menemuinya. Bahkan, dia memintaku malam ini juga. Aku sudah mengatakan begitu lelah dan ingin segera istirahat. Ini tentang Kanika, katanya. Tanpa pikir panjang aku mengiyakan ajakannya.
Sarah duduk di ruang yang tak bersahabat bagi perokok sepertiku. Mulutku asam setelah dua jam terjebak macet jalanan ibu kota. Aku ingin memintanya pindah ke ruang merokok, melihat tampangnya yang serius, kurungkan niat itu dan langsung duduk.
“Langsung aja, Gam, maksud lo apa bilang sayang ke Nik?”
“Gue nggak paham dengan obrolan ini. Ada yang salah emang, Sar?”
“Lo salah satu orang cerdas yang gue kenal, tapi malam ini lo malah berpura-pura tolol,” umpat Sarah. Aku hanya mengendikkan bahu, isyarat tak memahami percakapannya. “Oke. Kanika bilang, beberapa hari lalu, lo bilang sayang ke dia dan dia liat lo pelukan sama mantan lo. Mau lo apa sih, Gam?”
Aku menarik napas dalam-dalam. Ini jawabannya, jawaban atas reakasi Kanika yang berubah tiba-tiba. “Kanika dimana?” tanyaku.
“Jelasin ke gue, maksud lo apa?”
“Gue bisa jelasin nanti tapi yang penting, gue harus tau dimana Kanika sekarang. Plis, Sar.”
“Dia di rumah, pulang lebih cepet gara-gara sakit,” jawab Sarah.
Aku berlari menuju parkiran tanpa memedulikan teriakan dari Sarah. Aku bisa menjelaskan ke Sarah kapan pun, tapi yang paling penting, Kanika harus tahu kebenaranya.
Kepala Kanika menyembul dari balik pintu yang terbuka sedikit. Aku menerobos masuk, tak ingin kehilangan kesempatan emas ini. Kanika kesal melihatku kelakukan kasarku. Dia menarik diri dan duduk di sofa. Aku menghampirinya, duduk di sebelahnya.
“Aku tadi ketemu Sarah, dia jelasin semuanya. Ini salah paham, Nik.  Yang kamu liat waktu itu, nggak seperti yang ada di kepala kamu. Dia cuma pamit dan minta pelukan terakhir. Itu aja. Aku nggak balikan sama dia,” cerocosku dan sukses membuat Kanika melongo.
“Jadi yang waktu itu . . .’”
“Iya, itu cuma pelukan sebagai teman. Dulu, aku mutusin dia karena aku tahu, hati aku cuma buat kamu. Aku berusaha sebisa mungkin ngelupain kamu tapi gagal. Aku harap kita bisa bersama lagi,” pintaku.
Kanika merosot dari dari duduknya, jatuh ke lantai.
# # #
Kanika;
Aku pulang lebih cepat, tubuhku tidak bisa diajak kerjasama. Baru berusaha memejamkan mata, suara ketukan di pintu yang lebih mirip gedoran itu memaksaku bangkit dari kasur. Berjalan lemah menuju pintu. Aku sengaja membuka sedikit pintu, dengan tubuhku yang lemah, aku tak bisa melawan jika yang datang adalah perampok. Dan benar saja, di hadapanku kini berdiri seorang perampok yang telah mengambil hati dan harapan hidupku.
Gama mendorong keras pintu, membuat pintu terbuka seluruhnya. Aku tak ingin berdebat, terlalu lelah berdebat. Aku berjalan menuju sofa, Gama mengikutiku dari belakang. Belum benar pantatku rebah di atas sofa, Gama nyerocos tiada henti. Tubuhku tersungkur di lantai, bukan karena tubuhku tak mampu lagi menahan rasa sakit, tetapi karena hatiku yang meletup-letup.
P“itu cuma pelukan perpisahan. pelukan sebagai teman,” jelas Gama.
Tiba-tiba saja pipiku menghangat, aliran air mengalirinya. Air mataku jatuh tanpa dikomando. Jadi, ini bukan mimpi. Impian ini bukan bunga tidur. Impian hidup bersama bukan khayalan yang hanya bisa kulamunkan. Gama memelukku, aku membelas pelukannya.
Aku nggak akan lari lagi, semua kepahitan hidup akan kuhadapi, selama ada Gama di sampingku, aku tak takut apa-apa lagi.







“Kalau ada mesin waktu, lo mau pakai buat apa?”
Pertanyaan yang dilontarkan seorang teman membuat kami bertiga terdiam. Kami berempat sekumpulan manusia melankolis yang menghabiskan malam sabtu di sebuah kedai kopi dengan obrolan-obrolan yang berat – setidaknya, obrolan mengenai politik, pendidikan, buku, film, sedikit curhat – bagi salah satu teman saya dianggap berat untuk malam yang seharusnya dijadikan hore -hore setelah melepas penat bekerja.
Anehnya, kami bertiga tak pernah merasa obrolan kami berat. Gaya pertemanan ini memang sedikit menyebalkan, lebih sering berdiskusi apa saja, termasuk agama, meski kami bukan penganut agama yang taat. Tak jarang, kami menebus kebosanan dengan berpindah tempat ke sebuah bar, minum sampai pagi.
“Nggak harus tentang diri sendiri kan?” tanya saya.
“Ya bebas lah, suka-suka. Berat amat hidup lo,” jawab teman yang tadi melontarkan pertanyaan.
“Gue mau ke Fathul Makkah.”
Di lingkup pertemanan lain, mungkin tak akan ada yang menanggapi serius omongan saya. Bahkan, saya tak berani mengungkapkannya. Mereka tahu, saya bukan penganut agama yang taat. Sudah 10 tahun saya tidak salat – sesekali saya rindu tuhan dan salat, dalam setahun tak lebih dari hitungan jari.
Di lingkup pertemanan ini, mereka tahu bagaimana saya bertuhan. Bagaimana saya mencoba melepaskan label-label agama, keseragaman agama dalam bertuhan. Bertuhan, bagi saya sebagai bentuk spritualitas seseorang yang tidak dapat diukur apapun, hanya diri dan tuhan. Agama, hanya tata cara seseorang menuju tuhannya dan tidak dapat disegaramkan.
Seperti cinta yang tidak bisa diukur, sebesar apa, sedalam apa, tetapi dapat dirasakan. Dan saya, memiliki bentuk cinta kepada tuhan yang sulit saya definisikan, mungkin di luar pemahaman kebanyakan orang. Segala label seperti liberal, kafir, dan murtad, telah saya terima. Tak jadi soal, saya bertuhan tidak berdasarkan penilaian orang lain dan jika cara saya salah dalam mencintai tuhan, itu juga tak jadi soal.
Yang saya sadari, saya tak memiliki kemampuan mengukur bagaimana tuhan berpikir dan menilai manusia.  Biarlah tuhan yang nantinya menilai, apa yang saya lakukan salah atau benar. Perkara manusia, saya tak ambil pusing.
“Jatuh cinta ya sama momen itu?” tanya teman lainnya.
“ Iya. Bagi saya, Fathul Makkah itu bentuk cinta yang sebenarnya. Cinta terhadap pencipta dan cinta terhadap manusia. Setelah berjuang menyebarkan islam, diburu dan berusaha dibunuh, berperang, menetap di Madinah, lalu kembali ke Makkah, Rosulullah tidak dendam. Kalau tidak salah, Nabi Muhammad mengatakan, “Hari ini hari kasih sayang.”
Semua tahanan perang dibebaskan, kaum quraish dibebaskan menentukan pilihan, masuk agama islam atau tetap memegang teguh keyakinannya. Tidak ada paksaan dalam menganut agama, padahal, dengan kemampuannya bisa saja ditetapkan, yang tidak mau menganut silam akan dibunuh. Namun, beliau tidak melakukan itu. Islam mengajarkan cinta. dan jika kita melihat bagaimana orang-orang di jalan mengatasnamakan agama dengan membuat kerusakan dan membunuh, siapa yang mereka ikuti, Rosulullah atau ego mereka dalam beragama.”
Hal ini pernah saya ceritakan ke mantan saya yang berbeda agama. Dia beragama protestan. Jauh sebelum kami memulai hubungan, saya tegaskan ke dia, saya hanya manusia, saya tidak memiliki kemampuan memberi hidayah. Jadi, tidak mungkin saya memaksanya untuk pindah agama demi menikah dengan saya.
Saya juga menceritakan momen Aamul Hajni (tahun kesedihan). Tahun di mana Rosulullah ditinggal pamannya untuk selamanya. Pamannya merawat beliau sejak kecil, setelah kakek yang merawatnya wafat. Pamannya meninggal belum sempat mengucapkan syahadat. Bahkan, Rosulullah hanya menjadi perantara hidayah dalam mengislamkan seseorang. Hidayah tetap menjadi kuasa Allah.
Jika mesin waktu benar-benar ada, saya tidak (belum) mengubah pikiran saya, saya ingin ke Fathul Makkah. Melihat Rosulullah berkhutbah.



“Kabu, gimana kabarnya, Nai?”
Kabu sahabat kami, seekor anjing kecil jenis Shiba. Nai pernah mengatakan padaku ingin memelihara seekor anjing dan memintaku menemaninya membeli dari pet shop. Kupikir itu bukan pilihan yang baik. Kita tidak pernah tahu, bisa saja anjing lucu dan menggemaskan yang kita bawa pulang hasil dari penyiksaan seseorang terhadap induknya. Aku menyarankan Nai untuk mengadposi saja dari salah satu teman kita. Butuh waktu berbulan-bulan hingga akhirnya seorang teman mengizinkan kami mengadopsinya.
Aku akan menjenguknya sesekali, jika kamu tak becus merawatnya akan kuambil lagi, kata temanku. Kami sepakat mengenai hal itu. Baik Nai dan aku memang tak punya reputasi memelihara hewan apa pun, kupikir perkataannya berasalan. Dia tak ingin salah orang. Anjing mungil ini mengingatkanku pada sosok Hachiko.
“Kita butuh nama, biar mudah manggilnya,” ucap Nai penuh antusias.
“Kabu,” celetukku pendek.
“Kabu? Apa artinya?”
“Nggak tau. Aku nggak ngerti bahasa Jepang, tetapi Kabu nama Anjing dalam film 5 Centimeters per Second.”
“Dasar maniak anime, apa-apa hubungannya sama anime,” Nai jengkel denganku.
“Ini keren, Nai, tonton dulu baru komentar.”
Kami menyingkarkan persoalan nama sejenak, menikmati film dari layar leptopku. Aku ingat betul perkataan Makoto Shinkai, sutaradara film ini. ‘The title 5 Centimeters Per Second comes from the speed at which cherry blossoms petals fall, petals being a metaphorical representation of humans, reminiscent of the slowness of life and how people often start together but slowly drift into their separate ways.’
Makoto benar, tidak ada yang bisa menutup kemungkinan apa pun di dunia ini. Bertahun-tahun memperjuangkan sesuatu yang kita anggap paling besar dalam hidup kita, berusaha mengikis jarak yang membentang, lalu, pada satu kesempatan kita akhirnya bisa tinggal dalam satu kota tetapi tetap saja tak bisa bersama. Bahkan, kita mulai mempertanyakan, benarkah jarak yang merenggut semuanya dari kita atau kita yang merasa tak lagi bisa bersama.
film ini membuatku memahami, jarak terjauh bukanlah satuan kilomter, melainkan hati. Hati yang tak lagi jatuh dan mengalir, tak peduli sedekat apapun jarak di antara sepasang kekasih.
Nai masih sesegukan sambil mengelap matanya yang basah menggunakan ujung kausnya. Aku tersenyum puas melihatnya menangis karena menonton film yang dianggapnya buruk itu. Ketawain aja, Bim, nggak perlu ngumpet-ngumpet gitu, katanya, tangannya menyikut tubuhku pelan. Aku pura-pura kesakitan, Nai malah mencubit perutku tanpa henti dan baru berhenti ketika kukatakan aku menyerah dan tidak tertawa lagi.
Ketika tangannya menjauh dari tubuhku, aku tertawa lagi dan Nai ikut tertawa. Kami tertawa bersama untuk sesuatu yang tidak kami pahami. Nai setuju memberinya nama Kabu, meski dia tak tahu artinya.
“Kamu pelihara apa, Bim?
Ini pertanyaan sulit buatku. Aku tak terlalu suka binatang, tepatnya, malas mengurusnya. Aku sangat teledor dalam banyak hal, tak becus mengurus diriku sendiri, lantas bagaimana jika memiliki hewan peliharaan.
Ketika kecil, aku pernah memelihara ikan mas koki. Karena tak memiliki aquarium, aku menggali tanah di halaman rumah, membuat kolam dari plastik. Aku menaruh beberapa potongan genteng agar ikan peliharaanku dapat berteduh di bawahnya. Sesekali aku pergi ke selokan mencari cacing sutra. Naas betul basib ikanku, dia berakhir di perut seekor kucing ketika aku lupa menutup kolam itu.
Aku juga pernah memelihara seekor kucing. Kucing kampung berwarna putih dan bergaris-garis hitam di tubuhnya. Ekornya pendek tetapi bulunya sangat lebat. Aku memangilnya Remi, tokoh kartun yang sering kutonton di televisi. Mama melarangku memasukannya ke rumah, bulu yang tertinggal di sofa kerap membuatnya bersin. Remi tidur di depan rumahku. Suatu hari, dia menghilang dan setelah itu aku tak pernah lagi memelihara hewan apa pun.
“Pelihara kamu aja, gimana? bisa jadi teman hidup beneran kan,” candaku.
“Ngomong sana sama dedek-dedek gemes. Geli aku dengernya.”
“Aku aja mau muntah, Nai.. hahaha.”
“Serius, Bim, mau pelihara apa? aku bantu rawat deh.”
“Burung hantu. Yang putih. Lucu kan, kalau malem suaranya bikin merinding.”
“Itu horor, aku takut hantu. Jangan macem-macem deh.”
“Fix. Aku akan pelihara burung hantu dan akan kukasih nama Malam.”
Nai hanya geleng-geleng kepala yang kutafsirkan sebagai umpatan, dasar gendeng. Dia bermain bersama Kabu di halaman belakang rumahnya. Aku hanya duduk memerhatikannya tersenyum bahagia. Aku tahu, ini muskil dan sangat membosankan karena terlalu sering kukatakan berulang-ulang, Tapi ini salah satu keinginan terbesar dalam hidupku, mengabadikan momen-momen bahagia bersamamu, Nai. Selalu ada rasa bahagia yang mengalir dalam hatiku ketika melihatmu bahagia.
# # #
“Bim . . . Bim, denger omonganku, nggak? Malah bengong
“Oh, iya, sorry . . . sorry. Gimana Kabu?” kataku gelapan. Tepukan Nai di pundakku menarikku kembali dari pusaran masa lalu. Tentang Kabu yang tak pernah lagi kujenguk semenjak kami berpisah.
“Kabu baik, sangat baik. Gemuk banget dia. Suamiku seneng banget main sama dia,” jawab Nai. “Kapan-kapan kamu harus jenguk dia, Bim,” pinta Nai dan membuatku sedikit berpikir mencari kata-kata yang pas untuk menanggapinya.
“Kapan-kapan pasti kujenguk.”
Meski aku tak tahu kapan-kapan itu akan datang atau tidak. Akan ada atau tidak







tuhan sedang asik bermain catur, melawan dirinya sendiri
malaikat bukan tandingan, hanya pesuruh yang terlalu patuh,
iblis hanya segumpal api yang tertarik menggoda manusia, tak berniat mengalahkan penciptanya
manusia sedang mengeluh di ujung malam, berharap terbangun di pagi hari dan menemukan bahagia.

tuhan sedang asik bermain catur, melawan dirinya sendiri
seorang gadis mati ditikam harapannya,
seorang lelaki mati terbakar dendam membara
dua ekor cicak bersenggama di langit-langit rumah, entah milik siapa

tuhan sedang asik bermain catur, melawan dirinya sendiri
digebraknya papan, bidak catur berhamburan
bumi bergoyang, gunung beterbangan, langit runtuh
manusia berdoa tapi ajal tak mengenal siapa-siapa