Aku masih saja berbicara mengenai kenangan. Ada hal-hal yang memang tidak tercatat baik dalam hidup kita. Ada semacam upaya untuk menghapus hal-hal buruk dan menggantinya dengan hal indah agar hidup kita tetap bisa berjalan sambil merapal mantra semua akan baik pada waktunya. Kita berupaya membohongi hidup kita, mencoba menghibur diri dan mencoba menepis bahwa hidup harus berbicara tetang yang indah-indah saja. Bahagia-bahagia saja. Ada semacam kesadaran yang kita tutupi, semacam pelarian dari kenyataan pahit yang kita temui dalam hidup.

Aku mencoba mencatat segala hal, tentang kesedihan yang mudah diingat dan tentang kebahagiaan yang seringkali terlupakan. Tentang kesedihan, kuberikan porsi lebih banyak. Bukankah kesedihan mampu ditangisi berkali-kali tetapi kebahagiaan akan sangat membosankan jika ditertawai berulang-ulang kali. Aku juga berupaya untuk menghadapi ketakutan-ketakutanku, menghadapi hal pahit dan tidak berupaya untuk menutupinya dengan dinding tebal kebohongan.


Aku tidak lupa untuk mengemasi barang-barangmu yang masih tertinggal di kamarku. Beberapa helai pakaian dan buku-buku teori komunikasi yang kamu baca saat mengerjakan skripsimu di kamarku. Aku hanya malas melakukannya. Kamu tahu betul diriku, aku malas dalam segala hal. Jangankan merapikan barang-barangmu, mengirimkan atau mengantarkannya langsung ke kosanmu, merapikan kamarku saja malas sekali rasanya.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali mengepel lantai kamarku, sudah sedikit lengket tetapi belum terasa sangat mengganggu. Aku tidak menyukai binatang tetapi kubiarkan saja laba-laba membuat sarang di rak bukuku dan belum berpikir untuk mengusirnya apalagi membersihkan sarangnya. Biasanya, kamu yang melakukan hal itu. Mengepel lantai, membersihkan jaring laba-laba pada rak bukuku dan mengganti seprai yang baunya sudah bercampur dengan parfum dan keringat tubuhku. Tentu saja, kamu melakukan itu dengan gerakan tangan yang cekatan dan mulut yang tidak berhenti mendumel.


Kakiku bergetar hebat, peluh sebesar biji jagung mulai membasahi dahiku, turun ke bawah dan membasahi kausku.  Aku memicingkan mataku melihat segala sisi, berharap tidak ada penjaga yang berhasil menangkapku. Jika ketauan, aku tak tahu nasib sial apa yang kan menimpaku dan hukuman apa yang akan kuterima.

Aku baru saja mengendap-ngendap masuk ke kawasan terlarang, orang-orang menyebutnya Tanah Gersang. Dari kabar yang kudengar, Tidak ada yang berani melangkahkan kakinya ke tempat ini. Tempat dimana sisa-sisa radiasi bekas bom atom pernah jatuh puluhan tahun lalu. jika kamu memasuki daerah terlarang ini, maka kamu tak akan pernah kembali. Kalau pun kembali, sel-sel otrakmu sudah rusak dan menjadi gila. Mengamuk, maracau apa saja.

Mataku menyisir segala arah, selain menghindari dari patroli polisi, aku mencoba mencari kucing kesayanganku yang hilang beberapa hari lalu. Seseorang pernah melihatnya masuk kawasan ini. Mama sudah memperingatkan agar aku melupakan kucingku dan akan mencari penggantinya, tapi aku sudah terlalu sayang padanya dan tidak mungkin menggantinya dengan yang lain.

Aku menelusuri jalan yang diapit oleh bangunan-bangunan yang hampir roboh. Cat  mengelupas di  seluruh sisi gedung, menandakan tidak ada manusia yang tinggal dalam bengunan itu. Langkahku terhenti, saat menangkap tulisan di sebuah kaca gedung, Kedai Kopi Kami. Persis di sebelahnya, sebuah toko buku bernama Guidebooks Bookstore. Aku mempercepat langkah, hampir saja aku lupa, jika waktuku tak banyak dan bukan hal baik membiarkan rasa penasaran tumbuh subur dalam waktu yang tidak tepat ini.

Aku memandangi Ibu yang sedang berdiri di halaman belakang rumah sambil mengadahkan tangan ke langit. Mulutnya komat-kamit, kusebut begitu karena aku tak paham apa yang dibicarakannya dan bahasa yang digunakannya pun terdengar aneh. Jarakku dengan ibu tak lebih dari tiga meter, aku sedang duduk di saung tempat kami menghabiskan waktu bersama jika sore tiba. Sekadar bercakap-cakap atau mengerjakan kesibukan masing-masing.

Tiba-tiba ibu bersimpuh, tangannya masih saja mengadah ke langit. Aku hampir saja turun dari saung dan hendak menghampirinya. Kupikir, ibu kelelahan dan hendak jatuh tapi telapak tangan kanannya melambai ke belakang, memberi isyarat untukku agar diam saja dan tak perlu mencampuri urusannya.  Matahari terik sekali sore itu, saat ibu menjatuhkan kepalanya di atas rumput, hujan turun satu-satu. Tak ada awan gelap, tak ada mendung, matahari masih saja terik dan hujan tetap turun dengan tenangnya.