gambar dipinjam dari sini
“Aku belajar melepas. Belajar menerima kehilangan. Aku tak tahu bagaimana  mengobatinya, dia bukan serupa luka setelah mengalami kecelakaan yang dapat diberi obat merah lalu diperban. Aku tak bisa menyentuhnya, mendeskripsikannya saja aku tak mampu. Aku ingin berpura-pura lupa, membiarkannya hilang perlahan. Namun, rasa sakit itu ada. Nyata.”
Aku membaca berkali-kali pesan singkat dari temanku. Mencoba menemukan kata yang pas untuk menjawab pesan singkatnya. Namun, seberapa keras pun aku berpikir, aku tak juga menemukan jawaban.




“Kau lihat seorang pria dan wanita di meja sana, sungguh menyedihkan mereka.” Kata seorang pria pada kekasihnya.
“Iya. Ada yang salah dengan mereka?” tanya kekasihnya.  
“Duduk berhadapan, tidak ada percakapan. Keduanya sibuk dengan telepon genggam. Apa jadinya dunia jika manusia lupa cara untuk saling menyapa dan berbicara.”
“Mungkin mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing atau sedang bertengkar. Kita tidak tahu apa yang mereka pikirkan,” jawab kekasihnya.
Si pria meletakkan tangan kanannya di punggung tangan kekasihnya. Menggenggam erat lalu perlahan dikendurkannya genggaman itu. “Akan kuceritakan sebuah kisah,” kata lelaki itu sambil menarik napas dan perlahan menghembuskannya. Dia pun mulai berkisah, tentang seorang prajurit yang dikutuk menjadi awan karena telah membunuh rajanya. Prajurit itu mencintai permaisuri, begitu pun permaisuri raja, dia amat mencintai prajurit tersebut. “Dia prajurit yang tangguh,” kata pria itu meyakinkan kekasihnya.




Apa 
resolusimu 
di  
tahun 
depan?







Menghadapai pergantian tahun, saya--mungkin hampir seluruh dari kalian--mendapat pertanyaan seperti ini. Saya hanya menggeleng. Jika pertanyaan diajukan melalui sambungan telepon, saya menjawab tidak tahu. Jika melalui pesan singkat atau aplikasi WhatsApp/Line, saya juga menjawab tidak tahu. Tidak ada resolusi, tidak ada target, tidak ada rencana. Saya melewati serangkaian pergantian tahun baru dengan biasa saja, seperti melewati pintu di rumah, hanya perlu membuka pintunya dan lewat begitu saja.
Namun saya berpikir ulang, mencoba memikirkan apa yang seharusnya saya kerjakan menyambut tahun baru. Saya menemukan satu kata yang pas, melepas. Saya ingin belajar melepas banyak hal, tidak melulu tentang kekecewaan tetapi juga kebahagiaan. Bukankah kebahagiaan dan kekecewaan kekal (kita kekalkan) dalam ingatan kita.
Kita menikmati momen-momen kesedihan, hidup dalam masa lalu, mengutuki rasa sakit, mengenggenggam erat-eret kekecewaan dan tak berani berajak. Setiap kali berusaha keluar dari rasa sakit,  ketakutan menguasai diri kita.  Bayangan kegagalan dan kekecewaan mematahkan semangat yang baru saja menyala. Harapaan yang baru tumbuh serupa tunas pun layu, kehilangan hangatnya harapan. Dia mati sebelum berkembang, mati terbunuh ketakutan dalam diri kita.
Begitu pun bahagia. Kita kerapkali membicarakan kebahagiaan yang itu-itu saja. Seolah kita tak pernah mendapatkannya di kemudian hari. Kepala kita dipenuhi kenangan yang itu-itu saja. Kita takut menciptakan harap, takut tak pernah menggapainya lagi.
Tahun depan, saya mau belajar melepas. Mencari kebahagiaan baru, menerima kegagalan baru. 

*Gambar dipinjam dari sini




Saya cukup kaget melihat perubahannya. Entah apa dan mengapa dia berubah menjadi sosok yang lebih serius dari sebelumnya. Apakah hidup yang keras sehingga membuatnya juga menjadi sedikit lebih keras. Kami sudah jarang bertemu, bukan karena masing-masing dari kami sibuk tetapi dia sungguh sibuk dan saya masih tetap bekerja dalam kondisi yang sangat santai. Tidak mau terikat dengn sebuah perusahaan, kalau pun iya, kesepakatan awal, saya hanya ingin bekerja 10 hari dalam satu bulan.

Kami terbiasa bekerja dengan santai, dalam artian tidak terikat oleh tempat dan waktu. Ada fase di mana kami tidak tidur selama satu minggu. duduk di depan layar komputer, menenggak kopi bergelas-gelas dan mengahabiskan beberapa bungkus rokok untuk menyelesaikan proyek penulisan. Ada waktu di mana kami menolak tawaran pekerjaan. berapa pun besar tawaran itu, kami tetap menolak. Kami mencoba mencukupkan diri, tidak ingin hidup melulu tentang kerja dan itu membuat kami lebih menikmati hidup. suatu hari dia menghilang, menghindari kontak dari teman-teman, termasuk komunikasi dengan saya. 

“Gue kayak ketemu astronot, yang ngerakit pesawatnya sendiri untuk bisa sampe ke bulan. Seorang astronot dadakan tapi nekatnya nggak ketulungan. Gue masih berpijak di bumi dan lo udah hampir sampe di bulan. Lo baik-baik aja?” kata saya sambil menyikut sikunya.