Sedang memikirkan tuhan dan manusia-manusia lalu tak menemukan apa-apa.
Dua manusia sungguh kecil jika dihadapkan pada miliaran manusia yang hidup di dunia ini. Terlebih jika dihadapkan pada tuhan. Namun, sebenarnya kita memiliki kemampuan menjadi besar dengan porsi yang kita pilih. Tapi seringkali keinginan itu kalah dengan rasa takut, melawan mayoritas membuat kita gugup dan akhirnya menyerah lalu kalah.
Barangkali ego yang membuat kita merasa mampu memiliki segala yang kita inginkan. Lalu kita dibenturkan pada kenyataan bahwa kita tidak mampu memiliki semuanya. Kita dibuat takluk, dipaksa menyerah dan mengakui ketidakmampuan kita.
Ego yang besar harus tunduk di bawah dinding-dinding kebahagiaan orang-orang tersayang. Melepaskan keinginan yang sudah mengakar dan membuat semacam harapan, kebahagiaan dapat diraih di kemudian hari. kita merasa dipaksa melepas atau sebenarnya kita yang melepas karena tak berani memanjat dinding-dinding yang dibuat itu. kita menyalahkan orang lain, mungkin mereka memang salah tapi kita tidak ada bedanya dengan mereka ketika membiarkan kesalahan itu tetap diwariskan dari waktu ke waktu.
Mungkin naif atau pasrah, tapi mungkin juga benar adanya. Jika jodoh, pasti memiliki titik temu. Jika bukan, sekeras apa pun berusaha tetap tidak menemukan jalan. Kita mungkin berpikir kalau kita berjodoh, nyatanya bukan. terlalu cepat meletakkan titik pada sebuah hubungan, nyatanya hanya tanda koma. Kita diminta melanjutkan dengan atau tanpa kita. melanjutkan kalimat demi kalimat hingga mencapai titik.
Tidak ada rumus pasti, tidak ada pola khusus.
Dari semua pemikiran yang saling tumpang tindih di dalam kepala, saya tak menemukan apa-apa. tak bisa menyalahkan siapa-siapa, termasuk diri saya sendiri. ingin rasanya menyalahkan orang lain atau menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan tuhan sesekali meski kita tahu tak akan berguna karena tuhan tidak bisa didikte dan kita tidak tahu cara kerja tuhan.



Gadis di sampingku menopang dagunya dengan kedua lututnya, kedua tangannya melingkari lututnya. Gunung yang gagah, jika kau lihat pada siang hari yang cerah, memunculkan perasaan tenang dalam hatimu, kini tak tampak, tertutup jubah malam, tertutup awan mendung. Dia menarik risletting hingga ke pangkal, menutupi lehernya dari serbuan angin yang kian malam kian kencang. Dia menarik jeda setelah satu jam bercerita banyak hal kepadaku.
Aku mengikuti pandangannya, hanya gelap yang kulihat. Awan hitam yang bergerak pelan dibawa angin memunculkan bulan berbentuk bulan sabit. Hanya sekilas, sekelebat, lalu tertutup lagi. Pesta telah usai, suara-suara di ruang tamu mulai hening. Masih terdengar beberapa orang berbicara dengan nada yang lebih pelan.
“Aku akan benar-benar sendiri,” gumamnya. Meluruhkan kakinya, menggapai lantai. Direbahkan tubuhnya pada sandaran kursi, memalingkan wajahnya ke arahku.
“Justru bertambah satu orang yang menyangimu, itu berita baik bukan?”
“Dia tidak menyayangiku dan kehadiran orang baru, hanya akan membuatnya jauh dariku. Aku masih bisa melihatnya, bercanda dengannya. Orang baru itu akan membawanya pergi. Jauh, pergi jauh. Aku akan semakin jauh dengannya.”
“Dia menyayangimu.”
“Dari mana kamu tahu? aku bahkan tidak pernah mendengar dia mengucapkannya.”
“Setiap orang, memiliki cara sendiri untuk mengungkapkan sayang. Terkadang, kamu hanya perlu membuka hati dan kamu bisa merasakannya. Aku punya rahasia kecil, jika kamu berjanji tidak mengatakannya pada orang lain, akan kuceritakan kepadamu.”
“Aku janji,” katanya sambil mengangkat dua jarinya ke atas.
“satu-satunya, bukan . . . tepatnya, salah satu alasan kakakmu tidak pergi dan menggapai mimpinya melakukan perjalanan seorang diri, menetap jauh dari keluarga dan membangun rumah tangganya dengan seseorang yang cintainya, adalah kamu. Aku tidak bisa melihat adikku yang ceroboh itu gagal dalam hidupnya. Aku ingin dia bisa mandiri, setelah itu aku akan melepasnya, kata kakakmu kepadaku.”
“Kenapa dia tidak mengatakannya?”
“Dia gengsi, sangat gengsi mengakui hal itu tapi dia sangat sayang kepadamu.”
Gadis di sampingku memelukku. Memeluk erat, air matanya meleleh di kausku. Aku mengusap lembut kepalanya. Andai saja kamu jadi kakakku, ucapnya pelan di tengah isaknya. Aku masih kakakmu, meski aku tidak menikah dengan kakakmu, ucapku. Ya, aku ingin menjadi kakakmu, menjadi suami kakakmu, ucapku dalam hati. Hanya dalam hati.
Perempuan itu terkejut melihat adiknya sedang memelukku. kenapa, tanyanya sambil merebahkan pantatnya pada kursi, membuatnya adiknya terhimpit tubuhku dan tubuhnya.
“Aku sayang kamu, Kak,” kata gadis, memeluk kakaknya.
Aku pergi meninggalkan kakak beradik itu berpelukan. Pesta telah usai. Pesta pertunangan mantanku.


Wajah-wajah orang jatuh cinta, wajah yang memancarkan aura bahagia. Kamu dapat melihatnya di film 500 Days of Summer, ketika Tom Hansen berjalan sambil bernyanyi dan seluruh orang tersihir melihatnya, ikut menari dan bernyanyi bersamanya. Aku tak menyadarinya hingga dia menyikut lembut tubuhku. Sepanjang hari, kamu selalu tersenyum, godanya dan membuatku kikuk sendiri.
“Aku jemput kamu besok sore.”
“Kemana?”
“Bawa yang kamu butuhkan dan jangan banyak bertanya.”
Aku menggerakkan tangan kananku dari ujung bibir sebelah kiri ke kanan, seperti menarik risletting pada jaket. Dia melakukan hal yang sama dan tidak bertanya lagi setelahnya. Mengecup pipiku, berjalan menuju pintu dan melambaikan tangan sebelum pintu menghalangi punggungnya dari pandanganku.
Motorku telah terparkir manis di depan rumahnya, satu panggilan singkat cukup membuatnya keluar dan membawakan senyum manisnya untukku. Siap kapten, katanya setelah duduk di jok belakang motorku. Memelukku erat. Kulajukan motor perlahan, kami tak dikejar apapun, tak diburu apapun. Aku ingin merekam momen bahagia dengannya selama mungkin, kupikir dia menginginkan hal yang sama.
Selama perjalanan, dia bertanya beberapa kali kepadaku mengenai tujuan perjalanan ini. Aku tak mengacuhkannya dan membuatku harus menerima beberapa cubitan di pinggangku. Semakin menanjak, semakin banyak warung-warung berjajar. Udara dingin dan jernih menyambut kedatangan kami. Kamu perlu menghirup aroma hutan, bukan hutan sebenarnya memang. Setidaknya, bukan beton-beton tinggi yang selalu kamu lihat setiap harinya,” ucapku, memarkirkan motor di depan sebuah warung yang terbuat dari anyaman bambu.
Aku tak bisa menahan senyum melihat ekspressinya ketika sepiring ubi cilembu diletakkan di atas meja. Dengan sigap dia membelah sepotong ubi menjadi dua, kepulan asap yang dikeluarkan dari ubi berwarna kuning madu itu membuatnya tak bisa menahan diri untuk mengambilnya dan meniup-niupkannya. Digigitnya ubi itu dan mulutnya menganga menahan panas yang belum hilang.
“Hahasiknya haakan shagi pahas,” ucapnya. Aku mengernyitkan dahi, tak memahami ucapannya. “Asiknya dimakan selagi panas,” jelasnya setelah sepotong ubi melewati tenggorokannya.
Aku merekam wajahnya melalui ponsel. Tangannya mengibas-ngibaskan kepulan asap, meniup-niupnya dan memakannya. Saking asik merekam wajahnya, aku lupa meminum kopiku yang begitu cepat menjadi dingin dan hanya tersisa satu potong ubi di atas piring yang penuh tadi. Dia melihatku, meminta persetujuan. Aku menggeser piring itu sebagai tanda baginya untuk menghabiskan sepotong lagi lalu memesan indomie rebus dengan potongan rawit dan perasaan buah limau.
Dia menepuk-nepuk perutnya lalu mengeluarkan perlengkapan gambarnya. Aku tengah sibuk dengan makananku. Pemandangan kebun teh yang terhampar luas sepanjang mata melihat, indomie rebus, kopi hitam, dan orang yang kucintai ada di sampingku, rasanya aku tak membutuhkan apa-apa lagi di hidup ini.
“Udah malam, pulang kita?”
“Ada satu tempat lagi yang ingin kutunjukkan ke kamu. Tapi, malam ini kita cari penginapan dulu. istirahat, besok pagi baru kesana,” jelasku dan dibalas dengan sikap hormat seperti seorang prajurit yang menerima perintah dari atasannya.
Sepanjang malam, aku memeluknya. Peluk aku sampai tidur ya, pintanya. Bahkan, setelah dia terlelap pun, aku tak mengendurkan pelukanku, sedikit pun tidak. Aroma tubuhnya, hembusan halus napasnya yang menyentuh pipiku, rambut panjangnya yang menimpa wajahku saat dia bergerak  pelan dalam tidurnya, sesuatu yang ingin kuabadikan dalam kepalaku. Kukekalkan dalam ingatanku.
“Kenapa belum tidur?” sebentar lagi jawabku. Dia merapatkan tubuhku ke tubuhku. Membenamkan wajahnya di dadaku. Aku mengecup kepalanya, mengucapkan selamat tinggal sementara pada dunia dan ingin terbenam dalam mimpi yang indah.
Sinar matahari masuk melalui celah-celah udara, menampar wajahku. Membuat mataku panas dan terbangun. Aku tak menemukannya di sampingku. Kusibak selimut dan berjalan keluar penginapan. Dia tengah asik duduk sambil menggenggam secangkir teh hangat, membiarkan tubuhnya dihangatkan sinar matahari pagi.
“Dengkurmu sedikit mengganggu.”
Aku hanya tersenyum, mengambil cangkir teh dari tangannya dan meminumnya. Dia merengut, aku mengacak-acak rambutnya lalu dia tersenyum. Kemana hari ini, pertanyaannya kujawab dengan tarikan tangan dan memintanya berganti pakaian.
Jalan masih lengang, penjaga loket masih tampak segar, rambutnya belum kering benar. Aku memintanya duduk di depan loket, aku masuk ke dalam dan membeli dua tiket dan membayar jasa guide. Awalnya, membayar guide untuk tujuan wisata yang tidak jauh ini hanya upaya sebuah mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari pengunjung. Baru kuketahui belakangan, guide tidak hanya memandu pengunjung tetapi juga memastikan pengunjung menaati peraturan agar terhindar dari bahaya.
Aku dan dia mengekor di belakang pemandu. Berjalan pelan, menikmati aroma hutan dan membasuh muka dengan air yang mengalir jernih. Dia tampak terkejut ketika melihat jembatan membentang di hadapannya, canopy bridge. Jembatan itu menggantung sepanjang 140 meter dengan ketinggian 50 meter. 

“Aku mau gambar ini,” ujarnya penuh antusias.
Aku meminta pemandu kami sedikit bersabar menunggu kekasihku menggambar. Dari obrolan singkat dengan pemandu, baru kuketahui, jembatan ini dibangun pada  tahun 2009. Awalnya, hanya diperuntukkan bagi para peneliti yang sedang mengobservasi alam dan memastikan spesies burung yang tersisa di hutan ini. Pada tahun 2012, jembatan ini resmi diperuntukkan bagi umum. Pada tahun 2013, jembatan ini mulai ramai dibicarakan. Jembatan ini hanya mampu menampung berat 350 kg, setara dengan lima orang. Guide memastikan pengunjung tidak melewati daya tampung dari jembatan ini.
“Yuk,” ajaknya. Mengapit lenganku dan berjalan melewati jembatan gantung itu. Aku dan dia bergantian memotret dan meminta pemandu mengambil gambar kami berdua.
300 meter dari jembatan, air terjun Ciwalen menyambut kami. tidak sebesar air terjun Cibereum. Jumlah pengunjung pun hanya sedikit. Justru itulah kenikmatannya, semakin sedikit yang datang, semakin kami bisa menikmati keindahannya.
# # #
Pertengkaran-pertengkaran kecil hal biasa terjadi dalam sebuah hubungan, hubunganku dengannya tidak terlepas dari pertengkaran. Semacam hiburan agar tidak jenuh menjalaninya. Pertengkaran hebat pernah terjadi, biasanya, kami masing-masing memberi jeda, mengambil waktu, mencoba berpikir jernih. Jeda yang singkat, satu malam, namun terasa begitu panjang tanpa kabar dan obrolan.
Aku juga pernah mengajaknya ke tempat yang sama, bukan melewati jembatang gantung, tetapi ke curug Cibereum. Kami juga mendatangi kebun raya beberapa kali, dia sibuk menggambar, aku berbaring di atas rumput. Kadang, kami hanya mengobrol di kafe yang terletak di sana. Tak jarang, dia menemaniku bekerja di coffee shop. Seringnya sambil menggambar, terkadang hanya duduk manis sambil membaca buku.
Enam bulan berlalu, kurasakan sikapnya yang berubah drastis. Dia seperti menarik jarak denganku, membantangkan jarak sedikit demi sedikit. Obrolan yang menghiasi layar telepon genggam kami hanya sebatas ucapan selamat pagi dan selamat malam. Tidak ada cerita mengenai pekerjaan, tidak ada cerita-cerita ringan, tidak ada obrolan mengenai cuaca yang meskipun absurd seringkali kami bicarakan. Bahkan, dia tidak mau menemuiku.
“Beri aku jeda, aku butuh spasi.”
Aku mengiyakan permintaannya. Sesekali kukirimkan pesan kepadanya, sekadar menanyakan kabarnya. Dia tidak membalasnya, membacanya pun tidak.
Aku mulai terbiasa dengan ketidakhadirannya dalam hidupku. Perasaan hilang yang awalnya begitu besar semakin surut. Jika sebelumnya aku seperti seorang peselancar yang merindukan ombak besar, bergulung-gulung di atasnya, kini, aku tak lebih dari seseorang yang merindukan pantai tapi hanya menyentuhnya dengan ujung kakiku. Sesekali membiarkan pecahan ombak membasahi celana yang sedikit kugulung. Seperti itu perasaanku padanya.
“Aku butuh bicara,” kataku kepadanya melalui pesan singkat.
Kita tak bisa terus-menerus menghindar. Berlari hanya akan menghasilkan rasa lelah. Kita harus menghadapinya bersama-sama. Esok malam, aku akan meneleponmu, balasnya dalam pesan singkat. Bahkan, membicarakan hubungan sepenting ini pun, dia hanya ingin melalui sambungan telepon. Tak ingin berjumpa denganku.
# # #
“Lukamu sudah sembuh benar?” tanyanya, setelah pertanyaan basa-basi seperti apa kabar dan kesibukanku belakangan ini.
“Sudah. Kenapa?”
“Maaf, jika lukamu harus basah kembali,” ucapnya pelan.
“Maksudnya?”
“Aku menyayangimu. Aku tidak berbohong tentang perasaan ini. Tapi aku . . . aku hanya belum bisa memercayakan hatiku kepadamu. Lukaku belum sembuh dan ini tidak adil bagimu. Kamu menyayangiku begitu besarnya dan aku tidak bisa memberikan rasa yang setimpal untukmu. Sebaiknya kita berpisah.”
“Tidak ada ukuran dalam hal perasaan. Aku tidak tahu, setimpal atau tidak. Aku menyayangimu. Tapi aku tidak bisa memaksa seseorang terus bersamaku. Aku tidak ingin dikasihani. Aku tidak mau berjuang sendiri. Jika itu yang kamu inginkan, aku menerimanya. Semoga hidupmu bahagia.”
“Maaf. Maaf. Maaf.”
Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Kuakhiri sambungan telepon kami, sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kata maaf, sebanyak apa pun diucapkannya tidak membuat luka di hatiku sembuh, malah semakin menganga.
Dan aku, tak lagi merindukan pantai. Tak lagi menginjakkan kaki di atas pasir putih dan membiarkan kaki-kakiku basah terciprat anak-anak ombak. Aku tak ingin lagi merindunya. Tak lagi ingin mengingatnya.




Aku mulai terbiasa dengan ketidakhadirannya dalam hidupku. Perasaan hilang yang awalnya begitu besar semakin surut. Jika sebelumnya aku seperti seorang peselancar yang merindukan ombak besar, bergulung-gulung di atasnya, kini, aku tak lebih dari seseorang yang merindukan pantai tapi hanya menyentuhnya dengan ujung kakiku. Sesekali membiarkan pecahan ombak membasahi celana yang sedikit kugulung. Seperti itu perasaanku padanya.
Aku mengenalnya dua tahun lalu saat kami mengerjakan project event pariwisata. Aku bertanggung jawab sebagai Head Contet dan Promotion. Dia menerjemahkan dan mengemas content yang kubuat dalam bentuk desain yang menarik. Sejujurnya, aku tak terlalu suka dengan desainnya. Meski tak memahami betul, sekilas, tampak sama di mataku. Padahal, pesan yang ingin kusampaikan berbeda-beda dan seharusnya memiliki corak yang berbeda. Karena itu, jarang sekali eksekusi pengerjaan desain berjalan mulus, selalu saja ada perdebatan dengannya.
Malam itu, aku sengaja tak membahas pekerjaan. Kuajak dia ke salah satu kedai kopi dan mengajaknya mengobrol. Aku ingin tahu karakternya, apa yang membuatnya begitu keras kepala dan tidak mengindahkan revisi yang kuminta. Kamu berlagak seperti bos, tidak menghargai orang lain, katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari minumannya.
“Masa? kayaknya biasa aja atau aku terlalu kaku kali ya. Lain kali nggak akan, eh, bukan lain kali, besok deh mulai kerja lagi,” kataku.
“Yap. Kalau masih berlagak bos, aku males,” jawabnya sambil tersenyum. Senyuman yang pertama kali kulihat. Balok es itu mencair juga rupanya.
Pekerjaan sesekali berlangsung alot, jika memasuki fase ini, yang kulakukan adalah duduk di sampingnya. Bertanya kepadanya sambil memasukkan ide-ide di dalam kepalaku. Tidak mendikte tetapi apa yang ada di dalam kepalaku tersampaikan dengan jernih. Tidak ada perdebatan dan tidak ada tenggat waktu yang dilanggar.
Jumat sore, aku sengaja pulang lebih cepat dari biasanya. Kepalaku penuh dan aku membutuhkan secangkir kopi panas sambil bengong menatap jalan raya yang semakin hari semakin semrawut saja. bahkan, akhir pekan yang lengang hampir sulit ditemukan, seperti mitos yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Jalan raya tetap saja ramai meski tidak seramai seperti hari kerja.
Aku melihatnya duduk di trotoar, melipat kedua kakinya, membentuk posisi sila. Di pangkunya sebuah buku, tangan kanannya sibuk bermain di atas kertas putih itu. Sesekali mendongak, memerhatikan pemandangan di depannya. Aku tak ingin menyapanya, tidak ingin membahas pekerjaan, tidak ingin membahas apapun dengan siapa pun. Aku ingin secangkir kopi dan melamun. Anehnya, aku malah duduk di sampingnya. Memerhatikan wajahnya yang tertunduk dan terfokus pada kertas yang dipangkunya.
“Mingkem, Mas.” Tangannya mendorong daguku ke atas. Membuatku tersadar telah melongo dan tertangkap basah memerhatikannya.
Sketch kamu keren banget.” Bukan ucapan terima kasih karena telah memujinya atau senyuman yang kuterima, dia malah menutup bukunya.
“Kepo,” katanya ketus.
Wajah komikalnya jelas membuatku tertawa. Dia tambah cemberut dan memasukkan buku serta alat gambarnya ke dalam tas, bersiap pergi. Spontan kutarik tas selempangnya. Coffee, ajakku sebagai permintaan maaf. Dia diam, menatapku tajam. Kulepaskan tanganku dari tasnya. Dia mengapit tasnya dengan lengan kanannya, seolah menghadapi penjahat yang berusaha menjambret tasnya.
“Satu porsi sate padang, dua botol teh sosro dingin. Setelah itu ngopi, itu baru setimpal dengan permintaan maaf dari orang kepo,” cerocosnya. Aku mengiyakan permintaannya dan kami berjalan beriringan.
Malam itu kami habiskan dengan mengobrol. Darinya, kuketahui skecht seperti terapi baginya. Saat sedang jenuh, pusing dengan pekerjaan dan segala kesemrawutan hidup, dia menggambar. Dia tidak ingin passion-nya dicampur aduk dengan pekerjaan. Dia satu dari sedikit orang yang menolak menjadikan passion sebagai lahan pencarian, sesuatu yang diidam-idamkan banyak orang, termasuk diriku.
Dan profesi desainer grafis dipilihnya, profesi yang tidak jauh dari dunianya dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia menanyakanku kenapa bekerja sebagai content writer, jelas, ini bukan pilihan. Aku merasa tidak punya pilihan lain. Aku tidak sengaja menjatuhkan diri pada dunia penulisan, lambat laut, pekerjaan ini mampu menyambung hidupku. Setidaknya, aku tidak kelaparan.
Diam-diam rasa iri menyelinap dalam hatiku. Tambah lagi satu orang yang memiliki passion dalam daftar kenalanku. Beberapa tahun silam, aku seperti kutu loncat. Pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Tidak dalam hitungan tahun, bahkan, aku pernah mengundurkan diri hanya satu hari kerja. Track record-ku buruk. Hanya sedikit perusahaan yang mau memperkejakanku.
Aku terobsesi menemukan passion dalam diriku. Sesuatu yang hilang sejak menginjakkan kaki di bangku sekolah menengah. Aku tidak pernah punya cita-cita, tidak juga keinginan besar yang ingin dicapai.
“Banyak banget di dunia ini yang ingin bekerja sesuai passionnya, tetapi lebh banyak yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Passion, tidak selalu berkaitan dengan pekerjaan. Jangan batasi dirimu hanya untuk satu pencarian,” kata temanku.
Setelah tahun-tahun yang panjang dan melelahkan, aku berhenti mencarinya. Bukan menyerah, melainkan pasrah. Menyerahkan pada proses hidup. Aku hanya perlu bekerja sungguh-sungguh, memenuhi kebutuhan hidup dan tidak bergentung kepada orang lain. Jika aku tidak bisa membantu orang lain, setidaknya, aku tidak menyusahkan orang lain. Sisanya, kubiarkan waktu yang mengantarkan passion padaku.
Obrolan malam ini membuka pintu untukkku mengenalnya lebih dekat. Menemaninya merekam wajah-wajah lalu lalang, kereta dan stasiun. Menemaninya mengabadikan wajah-wajah bandara udara, pramugari/a yang lelah sehabis melakukan perjalan di atas burung besi. Peluk dan melepas, tak lepas dari coretan di buku skectnya.
Jika sedang didera garis mati, aku pergi mencari coffee shop. Menulis beberapa artikel untuk media cetak dan media daring. Jika waktuku luang, aku duduk di sampingnya, sesekali menggangunya. Dia akan cemberut dan menatapku tajam. Sebuah tanda, aku tak boleh mengusiknya dan hanya duduk manis hingga dia selesai membubuhkan tinta di kertas putihnya. Jika bosan, aku pergi ke smoking area, merokok dan membiarkannya asik dengan dunianya sendiri.
Perjumpaan-perjumpaan, obrolan-obrolan dan menghabiskan waktu bersama membuat hatiku jatuh. Hal yang tidak pernah kuprediksi sebelumnya. Lagi pula, siapa yang mampu memprediksi akan jatuh hati pada seseorang. Aku masih proses mengeringkan luka, luka yang ditinggalkan seseorang beberapa bulan lalu masih meninggalkan koreng di hatiku.
Dia belum percaya cinta. Setelah luka kehilangan satu tahun lalu, dia enggan mempercayakan hatinya pada orang lain. Belum waktunya, entah kapan waktunya, katanya suatu hari. Namun, kepalaku serasa mau pecah menahan perasaan ini. Hatiku bergemuruh, ingin meledak rasanya. Setelah menemaninya menggambar di bandara, di pelataran parkir dekat wc umum setelah menunggunya buang air kecil, aku menyatakan perasaanku kepadanya. Tangannya yang kuganggam, ditariknya perlahan dan kami pulang dalam bisu. Tidak ada percakapan, tidak ada sapaan, bahkan ketika dia tak berbalik menatapku saat memasuki rumahnya.
Aku dihinggapi perasaan bersalah. Bukan, bukan perasaan bersalah karena telah menyatakan cinta kepadanya. Tidak ada yang salah dari mencintai seseorang. Perasaan itu datang tanpa diduga dan dia jatuh saat hatiku belum sembuh benar, jatuh pada seorang perempuan yang enggan berurusan dengan perkara hati. Aku merasa bersalah tidak memberi jeda. Harusnya, kubiarkan kami berproses. Belajar mengenal satu sama lain, belajar menaruh percaya.
Tidak ada sapaan pagi hari. Tidak ada yang menggaguku dengn obrolan-obrolan ringan saat bekerja. Tidak ada obrolan panjang malam hari menemaninya yang sedang galau atau menemaniku yang selalu sulit memejamkan mata. Tidak ada percakapan, tidak ada pertemuan. Pesan terakhirku bahkan tak dibalas. Aku tak ingin mengejarnya, kubiarkan dia mengambil jeda. Rasa kehilangan memenuhi hati dan pikiranku.
Alangkah rumitnya menjadi manusia. Kita bisa merasakan kehilangan untuk sesuatu yang bahkan belum kita genggam.
Pesan darinya datang setelah dua minggu menghilang. Kutunggu di taman dekat Masjid Sunda Kepala, itu pun jika kamu tak sibuk. Pukul tujuh, balasku. Tak ada balasan lagi darinya. 

Dia duduk menghadap patung yang hingga kini tak kupahami artinya. Balutan kaus hitam polos, rok hitam selutut dan rambutnya yang dicepol membuatnya seperti anak kecil yang sedang belajar menggambar. Membuatnya, terlihat begitu manis di mataku. Aku duduk di sampingnya, membiarkannya terus mengotori kertas putihnya dengan pulpen khusus. Dia melirikku sebentar, hai, sapanya, lalu melanjutkan kegiatannya.
Kelompok pemain biola dan cello mulai memainkan lagu, kelompok gitar duduk di atas rumput, jauh dari pandanganku. Sekelompok pecinta kamera tengah sibuk memotret seorang model cantik mengenakan gaun merah yang berfose membelakangi air mancur. Bel sepeda penjaja starling (starbuck keliling) berdering, silih berganti. Satu dua orang memanggilnya, tak kecuali diriku. Meminta segelas kopi dan sebotol air mineral untuknya.
Dia menatapku sambil tersenyum lalu memasukkan alat gambarnya ke dalam tas. Duduk menyerong, sehingga wajahnya dapat melihat wajahku secara langsung. Aku masih di posisi semula saat aku datang.
“Aku tau kamu belum sembuh benar, lantas mengapa kamu bilang suka padaku,” tanyanya tanpa basa-basi, langsung ke jantung persoalan.
“Itu benar, aku belum sembuh seutuhnya. Tapi aku suka kamu dan aku tidak bisa menahan perasaanku.”
“Aku tidak ingin memercayakan hatiku pada seseorang yang masih menyimpan luka di hatinya. Aku tidak ingin gagal lagi, setidaknya, dalam urusan hati.”
“Beri kesempatan pada hati kita. Kesempatan untukku menyembuhkan luka, kesempatan untukmu percaya padaku. Kesempatan itu kita tawarkan setiap harinya. Kita berproses, terus berproses. Kita jalani sama-sama.”
“Terus berproses. Tawarkan kesempatan bagi hati kita. Kubantu merawat lukamu hingga sembuh. Tawarkan dirimu seutuhnya agar aku percaya padamu.” Dia menggenggam tanganku, menyela jemariku, menyandarkan kelapanya di pundakku.
Setelah ini, aku dan kamu menjelma KITA.