Sering kita merasa sebagai makhluk paling sempurna di antara semua makhluk ciptaan tuhan. Kita akan sangat marah jika disamakan dengan hewan, bahkan perumpamaan bisa mampir ke ranah meja hijau. Hewan selalu diidentikkan dengan sikap buas dan amoral. Tak memiliki otak untuk berpikir dan bebas melakukan apa saja tanpa memperdulikan norma agama dan susila. Alasannya selalu sama, hewan tidak dianugrahi akal yang mampu membuatnya berpikir, sedang manusia dengan akal pikirannya mampu berpikir dan berkembang.

Meski begitu hewan selalu saja hadir dalam kehidupan kita, bukan sebagai hewan peliharan saja tapi juga menjadi kosa kata yang memenuhi rongga kehidupan kita. Nama-nama hewan selalu melekat dalam memori kita. Jika sedang marah atau kesal, tak ayal kita mengabsen satu persatu nama hewan, hewan yang tak tahu menahu masalahpun ikut terbawa-bawa karnanya dan seringkali tak enak didengar.

Kata anjing, babi, kampret dll, seringkali mampir dalam ucapan sehari-hari kita. Lalu dimana letak kesempurnaan yang kita miliki sebagai manusia jika menyamakan manusia dengan hewan. saya sendiri tidak tahu. Seolah umpatan dengan nama hewan selalu menjadi alternatif utama dalam mengungkapkan kemarahan dan kekesalan.

Seringkali juga penempatan nama binatang tidak dipakai sesuai dengan realitasnya. Buaya selalu diidentikkan dengan seseorang lelaki yang gemar mempermainkan wanita. Pada kenyataannya, buaya adalah binatang yang setia. Malah dalam budaya betawi, roti buaya menjadi simbol yang selalu ada dalam setiap acara pernikahan.

Saya jadi teringat kisah dalam buku yang pernah saya baca. Ada kakak beradik umurnya hanya terpaut dua, si kakak 10 tahun dan si adik 8 tahun. Keduanya memiliki tingkat kenakalan yang sama. Jika saja kenakalan dapat dirangkingkan, keduanya mungkin sama-sama mendapat rangking 1. Kalau mereka sedang bertengkar, waduh kayak kapal pecah rasanya. Dan yang tak pernah ketinggalan mereka selalu menggunakan kata-kata yang tak lazim digunakan anak-anak seumurannya.

Dasar lo kon*** (sensor),

Lo tuh yang ngen*** (sensor)

Atau kalo lagi inget nama-nama hewan kata-katanya berubah lagi.

Dasar lo anjing..

Enak aja lo yang babi…

Si ayah yang sedang membaca Koran, dengan kesalnya membentak kedua anaknya dan berkata. Kakak, ade, pokoknya nggak boleh pakai kata-kata kotor. Nggak boleh pakai nama-nama hewan apapun. Setelah melihat reaksi si ayah yang marah keadaan kembali tentram. Tiba-tiba dalam hitungan detik kegaduhan kembali. Diluar dugaan makian yang dikeluarkan kini berbeda.

Dasar lo bengkoang..

Lo tuh yang lobak…

Sampai sekarang saya belum mendapatkan kata-kata makian yang lebih pas untuk menggantikan bahasa kebun binatang yang selalu kita pakai. Nama-nama buah atau sayuran, kiranya lucu juga untuk sementara menggantikan tugas hewan yang selalu menemani kita saat emosi.

Mungkin kalau anda seorang karyawan sebuah perusahaan bisa juga marah dengan menggunakan produk-prosuk perusahaan. Seperti. Dasar lo pelembab wajah, atau dasar lo pengharum ruangan. Mungkin saja semua bisa terjadi, dan bahasa kebun binatang akan terganti dengan sendirinya. MUNGKIN!!!..


Dalam perjalanan hidup saya, begitu banyak masalah yang hadir yang menormalkan saya menjadi manusia. Entah kalau tidak ada masalah rasanya sulit untuk mengakui diri saya sebagai manusia. Masalah hadir bukan hanya sebagai pelengkap, tapi sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Saya tidak memuji masalah, bahkan kadang saya juga menghindarinya. Sepercuma membuang garam di lautan, semakin kita menghindari masalah akan menjadi momok yang menakutkan dan merongrong hidup kita setiap saat. Padahal setiap orang mendapat jatah masalah tersendiri dalam hidupnya.
Dari sekian banyak masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita, salah satu yang menarik perhatian saya adalah harmonisasi antara anak dan orang tua. Saya bukan pendengar yang baik juga bukan seorang problem solver yang jitu jadi tak banyak yang menumpahkan keluh kesahnya terhadap saya. Tapi ada beberapa orang yang sudah terlanjur salah menilai saya, dan mereka terbuka mengenai konflik kelurganya.
Buat saya, sebagian masalah yang muncul antara orang tua dan anak adalah masalah komunikasi dan asumsi yang terlanjur menjadi stigma dan disakralkan oleh orang tua dan anak di dunia. Orang tua seringkali menganggap mereka tahu keinginan anaknya bahkan melebihi pengetahuan si anak sendiri, mereka mewariskan apa yang orang tua mereka ajarkan secara turun temurun. Padahal setiap anak memiliki karakter tersendiri dan cara menyampaikan kasih sayang dan mendidiknya membutuhkan pola tersendiri.
Si anak, yang terlanjur dididik seperti itu, akan mengkultuskan orang tuanya. Menganggap orang tuanya sebagai makhluk asing yang harus selalu dipatuhi dan diikuti perintahnya. Sang anak menajdi takut utuk mengembangkan diri. Sejak lahir orang tua mentargetkan anaknya menjadi ini dan itu. Seolah stempel profesi sudah disematkan di dahi sang anak yang masih merah. Stigma ini berlanjut dan manjadi patologi yang tak pernah usai.
Buat saya sebenarnya sederhana. Sebagai orang tua, cobalah liat si anak bukan sebagai anak, melainkan sahabat yang dengannya kita dapat terbuka dan berbagi. Tanyakan keinginananya, keluh kesahnya, masalah yang dihadapinya dalam kesehariannya. Jangan judge dia karena kesalahannya, dia butuh proses untuk bertanggung jawab atas semua tindakannya. Beri dia kepercayaan untuk menjadi apa yang dia mau, ketika mulai melenceng, arahkan dia. Komuikasi ini akan membuat dia merasa nyaman dan tidak takut lagi untuk terbuka.
Sebagai anak, cobalah liat sisi lain dari orang tua. Liat mereka sebagai manusia biasa. Mereka bukanlah tuhan yang tahu segalanya. Kesalahan mereka dalam mendidik mungkin karena ketidaktahuan mereka tentang karakter kita dan kemauan kita. Mereka tidak semenakutkan yang kita pikirkan. Mulai terbukalah dan bicarakan apa yang menjadi ganjalan dalam hubungan kamu dan orang tua..
Ini hanya sekian persen dari seratus persen masalah yang mengganjal hidup kita, banyak hal yang mampu kita lakukan dan selesaikan dan saya yakin hal ini pun dapat kita selesaikan dengan baik..