kuhentikan suara lagu yang berputar sebab setelahnya akan jeda panjang, memanggil kesunyian. bukan sunyi, melainkan sepi dan aku tidak siap, belum menyiapkan apa-apa. seperti lagu yang terputus di tengah, aku perlu menyiapkan jeda, sebelum benar-benar habis, sebelum benar-benar hubungan ini berakhir, sebelum kesedihan lahir dari rahim perpisahan.
seorang polisi datang menghampiri, meminjam korek api. menyulut rokok yang telah menyelip di kedua jarinya. memerhatikan puntung-puntung rokok yang berserakan di bawah kakiku yang abunya telah beterbangan. sebentar lagi, satu puntung akan jatuh lagi ke tanah, menambah sampah di muka bumi, mencermarkan udara sejak tadi.
“Merokok itu tidak bisa buru-buru. kau perlu menyadari bahwa dirimu sedang merokok, bukan hembas-hembus begitu. begitu kamu sadar apa yang kamu lakukan, setiap tarikan dan hembusan akan memberi kenikmatan,” katanya, mengembalikan korek yang dipinjamnya.
kusulut sebatang rokok baru, kuhisap pelan-pelan, menghembuskan asapnya pelan-pelan, seperti instruksinya. kuhidupkan lagi pemutar lagu, lagu terakhir yang akan membawa sepi setelahnya. sia-sia mengantisipasi kesepian, sia-sia mengantisipasi perpisahan. pada akhirnya, perpisahan selalu membawa kesedihan meski telah dipersiapkan dan dipikir matang-matang.
lagu itu telah berakhir. rokokku masih setengah. aku belum ingin beranjak kemana-mana. biar kunikmati setiap isapan dan hembusan hingga rokok ini habis, setelah itu akan kupikirkan kemana kaki-kaki ini melangkah.


tangan tirus itu tengah sibuk membolak-balikkan lembar-lembar di buku menu. mata yang menatap halaman demi halaman yang dibalikkan tangan seperti tatapan yang sungguh-sungguh. kerutan di dahi yang mempertemukan ujung alis menambah kesan berpikir padanya. seorang pelayan berkaus putih yang dibalut apron cokelat menatapnya dalam diam. tangan kanannya telah siap mencatat di buku pesanan. tangan tirus itu menutup buku menu. pramusaji mencatat dua pesanannya; chicken wings dan lecy tea.
pesanannya, bukan menu pertama kali yang ia pesan. seperti pertemuan kali ini, bukanlah pertemuan pertama dan ia kerap memesan menu yang sama meski didahului dengan melihat-lihat buku menu cukup lama. ia belajar tidak menyerah pada rutinitas dan akhirnya menyerah pada kenyamanan, takut jatuh pada hal baru, ia tidak siap dengan kegagalan.
bunyi klakson kendaraan menjadi latar dari percakapan yang lebih banyak diisi diam. pertanyaan-pertanyaan berputar di kepala, menyangkut di tenggerokan. kalaupun keluar, tidak menyampaikan pikiran yang seungguhnya. ketakutan telah menjalar seisi badan. kekhawatiran mulai merambat, mencekik leher, gigil mulai terasa, tapi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tidak pernah terdengar, tidak dari dua pasang telinga yang tengah duduk saling berhadapan.
beranikah kita?
pesanan datang, pelarian sempurna dari ketidakmampuan memperpanjang percakapan dan mata yang lelah membutuhkan tujuan baru untuk dipandang, selain wajah.
pesanan telah habis. kata-kata telah habis. sedang pertanyaan yang menganggu dua kepala dibiarkan terus menggantung, tanpa menemukan titik untuk berpijak. jawaban yang akan mengantarkan langkah sepasang hanya berujung pada rencana pertemuan selanjutnya. mungkin bukan waktu yang tepat, katanya. bukan hari ini, kataku.
dan waktu yang ‘tepat’ seperti jebakan. kita tidak pernah siap untuk masuk dalam perangkap.



pagi yang muram dan harap yang mati. ia telah mati dibunuh kegagalan, ditikam kekecewaan.
barangkali di seberang sana, harap baru telah menanti. perjalanan ini harus dimulai, meski seorang diri. tidak ada keluarga, tidak ada teman. memutus hubungan dengan semua orang yang dikenal. memulai perjalanan untuk menemukan. ketika gigil datang, kupeluk diriku seorang. ketika kesepian datang, kuberbincang seorang. tangis mungkin pecah, marah yang meledak, sesunyi-sunyinya sepi, seorang diri.


apakah semua kekecewaan telah hilang?
barangkali tidak, dia ada, mengendap dalam diri kita. ada begitu banyak sisi-sisi hidup yang menuntut perhatian dan kekecewaan di masa lalu tidak sempat untuk diperhatikan sehingga dia menumpuk dengan tumpukan kekecewaan lainnya. kita hidup dengan membawa kekecewaan dan penyesalan dalam diri kita. kadang tenang, sebab dia tenggelam dalam kegiatan yang kita lakukan. kadang muncul ke permukaan dan merusak banyak hal.
anehnya, satu kekecewaan menarik keluar kekecewaan lainnya yang terpendam dan menjerumuskan kita ke lubang keputusasaan. sedang, satu kebahagiaan tidak menarik kebahagiaan lainnya sehingga sulit untuk mensyukurinya.
ada waktu di mana kita mempertanyakan banyak hal. menyesali atas pilihan-pilihan yang kita buat yang berakhir pada kesalahan. mensyukuri atas pilihan yang ternyata membawa pada kebaikan. ada yang mengkalkulasi banyak hal dengan pengalaman-pengalaman, meski tak juga menjanjikan keberhasilan. ada yang bertindak tanpa memikirkan, nyatanya pilihan itu membawanya pada kebaikan – juga keburukan – karena tidak ada jaminan di sana.
kita mungkin tidak sempat menyelesaikan seluruh kekecewaan dalam diri kita. kita tetap memikulnya, membawanya dalam diri kita sambil menjalani sisi-sisi lain hidup kita.

Ia mengayunkan kedua kakinya pelan, bergantian, bunyi kecipuk mengiringi gemericik sungai. Ia berharap di mata kakinya terdapat pintu yang langsung menuju hatinya, tempat menyimpan rindu, tempat harap menggebu-gebu. Rindu perlahan turun menuju pintu, jatuh ke sungai. Ia membiarkan semua-semua rindu perlahan mengalir bersama aliran sungai. Terjebak di sungai dangkal, meliuk menghindari air tercemar, tapi sudah sifatnya air menerobos penghalang karena takdirnya harus mengalir menuju muara.
Menuju laut.
Rindu yang dikirimkannya adalah rindu yang teramat tua. Telah ia peram lama seorang diri. Rindunya tak mengenal kata musim. Musim telah berganti-ganti, tapi ia tetap terpaut pada satu hati. Ia ingin belajar kepada petani buah yang memeram hasil panennya di satu tempat dan mengambilnya ketika masak. Tidak membiarkan  buah terlalu matang di pohon, membusuk, dimakan codot atau jatuh ke tanah. Ia ingin belajar agar ia tahu, kapan waktu terbaik menyampaikan rindu yang telah diperamnya kepada seseorang, sebelum rindu itu membusuk dan melukai dirinya sendiri.
Ia telah menarik diri dari percakapan-percakapan yang hanya memperpanjang harapan. Harapan seperti tanaman liar yang merambat di dinding rumahmu. Jika tidak dipangkas, tidak kamu rapikan, ia akan menjalar dan merusak. Ia tidak ingin harapnya terus tumbuh pada perempuan itu dan merusak segalanya. Ia menghindari pertemuan sebab ia tidak tahan menatap matanya dan ingin menyelam di sana. Pertemuan membuatnya berhenti mengenal kata cukup. Ia ingin memiliki, ia ingin dicintai seperti dirinya mencintai perempuan itu.
Tahun-tahun kesepian pernah dijalaninya. Alih-alih berupaya menghalaunya, ia memilih mengakrabinya. Ia memilih menjadi teman sepi. Tidak perlu berbagi, tidak perlu diberi, ia mencukupi dirinya sendiri dan memenuhinya dengan sepi. Lalu perempuan itu datang. Mengisi malam-malamnya dengan percakapan. Layar telepon genggam sering menampilkan namanya yang sebelumnya hanya pemberitahuan dari provider atau pesan yang berisi pekerjaan. Ia sudah lupa caranya tersenyum ketika mengetik pesan di handphone-nya, perempuan itu mengingatkannya. Menghadirkan kembali bahagia yang telah lama hilang darinya.
Cinta pernah mengetuk hatinya. Hanya sesaat setelah dia belajar percaya cinta itu indah. Hanya sesaat tapi meninggalkan luka yang dalam. Amat dalam. Maka diperamnya rindu tanpa pernah ia sampaikan kepada perempuan itu. Hingga ia terjaga di satu pagi, menelusuri lengang menuju sungai. Ia ingin mengirimkan rindunya.
Rindu yang dikirimkannya akan bertahan di laut, bersembunyi di balik karang, bersembunyi di dasar laut hanya agar awan tak mengambilnya dan menjadikannya hujan. Ia akan bertahan hingga perempuan beraroma laut datang, melangkahkan kakinya pelan menyusuri pasir putih. Hingga ia memeluk laut dan rindu menemukannya di sana. Memeluknya. Mengabarkan pada perempuan itu, ada seseorang yang begitu merindukannya.