Ia tak bicara cinta sebab setiap detak di jantungnya adalah harap agar kamu bahagia.
ia selalu memilih jadi yang terakhir. terakhir menikmati hidangan di meja makan dengan lauk seadanya. terakhir membeli sesuatu untuk dirinya. terakhir menikmati hasil jerih payahnya, yang bisa saja dia sisihkan sebagai bentuk penghargaan atas setiap tetes keringat yang keluar dari tubuhnya. tapi ia memilih menjadi yang terakhir menikmati semua-semuanya karena yang pertama selalu untukmu; anaknya. 
ia tak melihatmu dengan angka-angka. ia menyayangimu bukan dari sederet angka di lembar raport sekolahmu. ia tetap bangga, membusungkan dadanya di hari kelulusanmu meski nilaimu tak seberapa. ia tetap bercerita pada tetangga, betapa bangganya dia terhadapmu meski pekerjaanmu biasa saja dan pakaian yang kamu kenakan tidak berasal dari merek ternama. karena baginya, kamu anaknya, bukan deretan angka-angka yang melekat pada tubuhmu. karena ia mencintaimu apa adanya, bukan dari berhasil atau tidaknya kamu menaklukan dunia. 
ia tak bicara cinta. cintanya mengalir di setiap tetes keringat yang jatuh dari tubuhnya, menjelma makanan yang kamu makan, pakaian yang kamu kenakan, biaya pendidikan, biaya berobat saat dirimu diserang sakit, buku bekas dari tukang loak ketika kamu merengek minta dibelikan mainan dan hal-hal yang seringkali luput dari perhatianmu. ia tak bicara cinta, ia menunjukkannya. tatap sejenak tubuhnya, kamu akan melihat cinta yang besar di sana. 
ia ayahmu, yang mencintaimu tanpa memintamu menjadi apa-apa, menjadi siapa-siapa.

ia menyimpan cemas di jantungnya, memenuhi hatinya dengan doa; untukmu.
ia mengetahui yang tidak kamu ceritakan. merasakan yang kamu rasakan. ia menahan diri untuk bertanya, memberi ruang untukmu, menunggumu bercerita tentang luka juga bahagia, bercerita apa saja. ia menyiapkan sepasang telinga untuk selalu mendengarkan. ia telah terlatih sejak tubuhmu keluar dari rahimnya dan suara tangismu memecah hening ruang persalinan.
tubuhnya tak lagi sekokoh karang, tapi hatinya, benteng yang tak tergoyahkan, tempat paling nyaman untukmu bersembunyi dari segala marabahaya dunia. meski kalut menempanya puluhan tahun, selalu ada ruang kecemasan tentangmu, yang membuatnya bertanya kepadamu, berharap beban yang memenuhi pundakmu dapat terangkat sebagian. jika saja ia bisa mengambilnya, ia akan mengambil seluruhnya hanya agar langkahmu ringan dan berlari mengejar mimpi-mimpimu lagi.
ibu mengetahui yang kamu sembunyikan, merasakan luka yang tak terucapkan karena ia selalu menyimpan cemas di jantungnya. karena hatinya selalu dipenuhi doa-doa agar kamu selalu bahagia.

Jalan itu pernah menjadi tempat kaki kita berpijak. Menyusuri lengang beriringan, saling mengenggam. Langkah-langkah kita terhapus langkah-langkah kaki manusia lainnya. Jejak kita terhapus hujan. Dijatuhi dedaunan pada musim kemarau. Dilintasi zaman yang terus bergerak ke depan. Tapi, setiap kali menyusuri jalan itu, aku kembali hidup di masa lalu. Aku melihatmu yang kini tak lagi bersamaku.
Kursi itu pernah menahan beban tubuh kita. Kali pertama kamu mencuri kecup di pipiku. Kali pertama mengabadikan foto bersama dengan telepon genggam seadanya. Jejak tubuh kita terhapus tubuh-tubuh lain di kursi itu. Pemandangan di malam itu, disaksikan manusia-manusia lainnya. Menu yang kita pesan, dipesan dan dinikmati sepasang lainnya. Tapi, foto buram dengan latar warung  beranyam bambu itu hanya memuat kita dan masih kusimpan sampai hari ini.
Terminal itu dipadati manusia-manusia. Dihuni kendaraan-kendaraan. Tempat mengantar kepergiaan banyak orang. Tempat menjemput kedatangan banyak orang. Kursi berwarna biru di dekat warung itu pernah menjadi tempat berhentiku, menunggumu datang. Warung di dekat loket itu pernah menjadi tempatku berdiri, menunggumu bus membawamu pergi. Tapi, pada setiap kepergianmu, harapku terus tumbuh. Kita akan berjumpa lagi, bersama lagi.


Sebagaimana wajah kota yang berubah, wilayah-wilayah penyangga ikut berubah. Tak hanya kota yang bersolek, kota-kota di sekitarnya yang dihuni para pekerja yang memilih menetap di sana karena biaya hidup lebih murah dibanding hidup di ibu kota, turut bersolek. Kecamatan, desa, perkampungan, mengubah wajahnya, entah karena tuntutan zaman agar terlihat lebih modern atau hidup semestinya berubah. Orang-orang berubah.
Namun ada hal-hal yang tak berubah meski digerus zaman, katanya. Kupikir yang tak berubah hanya ingatan yang mengekal di kepala seperti ingatan sebuah danau di perkampunganku. Dulu, jauh sebelum bangunan-bangunan berdiri di pinggirnya, begitu banyak pohon-pohon kirai. Kau akan dengan mudahnya menemukan ikan gabus di sana. Lalu, satu bangunan dari triplek berdiri – entah siapa yang membangunnya- kedai penjual makanan, tumbuh satu lagi, lagi, lagi, hingga kau dapat melihat danau akibat terhalangi bangunan-bangunan itu.
Kini bangunan semi permanen itu telah lenyap, digantikan bangunan permanen yang dibuat dari semen. Pedagangnya pun silih berganti, ada yang bertahan lama, ada yang begitu mudahnya menyerah dan digantikan orang baru. Yang tak berubah sejak saat itu hanya satu, kau tak lagi bisa melihat danau secara langsung karena tertutupi bangunan-bangunan itu.
Melihat danau itu, aku melihat sepasang kaki kecil berjalan setengah berlari di pinggirannya. Bocah berseragam putih merah berjalan cepat-cepat, padahal pagi belum rampung sepenuhnya, matahari masih enggan, tapi anak itu terburu-buru, takut terlambat datang ke sekolahnya. Mengayun ringan langkah kakinya, menyusuri lengang jalan. Jarak dari bibir gang menuju sekolahnya cukup jauh, tak heran jika banyak anak-anak memilih menggunakan angkutan perkotaan daripada berjalan kaki. Tapi anak itu tak suka naik angkot, lebih suka berjalan. Berjalan sendirian tentunya.
Melihat danau itu, aku melihat diriku. Barangkali benar, ada begitu banyak hal yang berubah, tubuhmu, cara pandangmu, kehidupanmu, tapi ada hal-hal yang tetap bertahan dan tak hilang dari dirimu. Seperti menyusuri sunyi menuju sekolahku, sepertiku yang tetap menyukai sunyi hingga hari ini.

Previous PostPosting Lama Beranda