Perjalananmu kali ini, bukanlah perjalanan pertama dan terakhir. Bukan juga perjalanan biasa sebab kamu memulainya dengan hati yang patah, kepala yang terus memaki agar kakimu mau beranjak di tempat terakhir kali dia mengucap perpisahan, dan hatimu yang terlalu bebal memintamu terus bertahan.
Kepergianmu kali ini sudah kamu rencanakan jauh-jauh hari, tapi selalu gagal kamu lakukan. Telah kamu kumpulkan semua kenangan tentangnya, kamu simpan dalam satu kotak, dan berjanji tak akan membukanya lagi. Pada hari lain, kamu membukanya. Rindu, katamu, yang mendorongmu melakukannya dan rindu yang tak pernah sampai kepadanya melukaimu, sekali lagi, dari setumpuk sakit yang kamu rasakan.
Kamu mulai berkemas. Memasukkan kecewamu, rindumu, sedihmu, dalam koper hidupmu. Jika saja bisa, kamu ingin meninggalkannya dan menggantinya dengan hal-hal bahagia saja. Namun kamu teringat, luka-luka ini pada akhirnya yang membuatmu lebih dewasa dan lebih kuat, meski kamu juga paham, seberapa banyak pun perpisahan, kita selalu tergagap di hadapannya. Kamu tinggalkan harapmu padanya. Untuk satu itu, aku tak jamin kamu mampu meninggalkannya, tapi kamu perlu berkemas.
Dan jika akhirnya kamu kembali membongkar kopermu, menggagalkan kepergianmu dan kembali menunggunya pulang, kamu berharap, untuk kali ini;
kesedihan memaafkanmu.