“Akhirnya,” hanya kata itu yang terucap dari bibirmu.
Satu kata yang membungkam mulutku, membuatku berhenti tertawa. Seolah ada tangan yang tiba-tiba saja membekap mulutku, membuatku gelagapan dan tersadar, hal yang baru saja terjadi bukan untuk ditertawakan.
“Kamu bisa tertawa juga,” tambahmu. 
Membuatku semakin bingung merespons. Aku hanya garuk-garuk kepala melihatnya cengengesan lalu berjalan ke arah jemuran,  mengambil handuk, mengelap wajahmu yang tertumpah cat. Cat yang kamu pakai untuk mempercantik rumahmu. Kamu tersenyum, melemparkan handuk kepadaku. Menyeruput teh chamomile yang kuletakkan di meja dekat jendela.
Aku memintamu mandi, membersihkan diri dari tumpahan cat. Anak-anak rambutmu yang keriting berubah menjadi warna-warni, kaus belel bertuliskan Jogja Never Ending Asia pun penuh tumpahan cat, membuat penampilanmu sangat memprihatinkan. Penampilan yang membuatku tak tahan ketawa. Kamu menepuk-nepuk bagian kursi di sebelahmu, isyarat memintaku duduk. Aku mengikuti permintaamu, duduk di sebelahmu.
“Aku lupa caranya bahagia, itu yang kamu katakan pertama kali kita bertemu. Pernyataan yang membuatku bingung, pernyataan yang pelan-pelan menarikku  ingin mengenalmu.”
Aku ingat kali pertama kita bertemu, di sebuh kedai di selatan Jakarta. Kamu salah mengenali seseorang, mengira aku adalah temanmu. Kamu meminta izin duduk di hadapanku sambil menunggu temanmu datang. Teman yang kamu tunggu-tunggu tak kunjung datang dan perbincangan kita perlahan-lahan terbangun. Perbincangan yang kamu menangkan. Kamu mendominasi percakapan kita sore itu.
Dan, kemenangan itu begitu mudah dipatahkan, hanya dengan empat kata, “Aku lupa caranya bahagia”.  
Ada jeda cukup lama setelah kalimat itu keluar dari mulutku. Sebuah dering dari telepon genggammu menyelamatkanku, menyelamatkan kita dari kecanggungan. Sebuah kabar yang mangatakan pertemuanmu berpindah tempat, kamu pergi dan meninggalkan secarik kertas. Bertuliskan ID Line-mu. Kertas itu kukepal-kepal menjadi bola kecil dan kulemparkan ke tempat sampah.
Kita kembali bertemu di tempat yang sama.  Bagiku, pertemuan ini hanyalah sebuah ketidaksengajaan, begitu pun bagimu. Meski ketidaksengajaan seringkali tipis adanya. Ketidaksengajaan yang sebelumnya berbentuk kesengajaan yang kamu ciptakan. Pada kedatanganmu kesekian, kamu melihatku lagi, begitu katamu.
“Sering-sering ketawa yah,” pintanya sambil mengubah posisi tubuhnya. Menaikkan kakinya, menyilangkan kaki kanan dan kirinya, bersila. Menghadap wajahku, menatap wajahku.
Kupikir, seseorang yang memutuskan menjalin hubungan dengan seseorang, baik ikatan pacaran atau pernikahan, mempertaruhkan banyak hal dalam hidupnya. Begitupun dirimu.
Kamu mempertaruhkan waktu.
Waktu untuk mengenal seorang lelaki murung yang lupa caranya berbahagia. Lelaki yang lupa bagaimana rasanya merindu seseorang. Kamu memilih jalan berliku, yang bisa saja menyesatkanmu. Menyesali kebodohanmu di kemudian hari. Waktu yang seharusnya bisa kamu gunakan untuk mengenal dan menjalin hubungan baru dengan orang lain. Yang tahu bagaimana caranya bahagia dan membahagiakan. Yang tahu caranya merindu dan dirindukan.
Kamu mempertaruhkan perhatian.
Aku lupa bagaimana membagi perhatian ke orang lain. Aku bahkan tak tahu bagaimana memperhatikan diriku sendiri. Semua-semua yang kulakukan hanya berdasarkan ingin. Memotong rambutku karena ingin. Mengganti bajuku karena ingin. Lari pagi karena ingin dan jarang sekali kulakukan. Bekerja karena ingin, yang membuatku harus mencari pekerjaan lain karena rasa ingin itu hilang dan akhirnya menyerah karena rasa ingin itu digantikan ingin menganggur saja.
Aku tak terbiasa mengabari siapa pun dan memang tak ada yang bisa kubagi kabar. Aku hidup sendiri dan kesendirian mengajarku untuk tidak pernah berbagi apa pun selain untuk diriku sendiri.
Kamu begitu mudahnya menanganiku. Mengirimiku pesan-pesan yang mengabarkan keberadaanmu. Kesibukan-kesibukan, kesulitan-kesulitan, keresahan-keresahan, dan kebahagian. Kamu membuatku terbiasa menerima perhatian dan mengajariku membagi perhatian.
Kamu mempertaruhkan harapan.
Aku tahu sedikit harapan-harapan yang kamu bangun. Harapan yang kamu kubur dan kamu ganti dengan harapan baru. Harapan yang kadang terbentur dengan diriku,  kamu lepaskan. Begitu mudah, meski aku tahu tak pernah mudah. Jika saja bukan bersamaku, harapan itu mungkin tak sekadar hidup tetapi sudah bertumbuh menjadi sebatang pohon kokoh dengan daun yang rindang dan kamu bisa berteduh di bawahnya.
Dengan siapa pun, hukumnya sama saja. Jika bukan harapan ini, harapan lain yang mesti kukubur, begitu katamu, seolah semua biasa saja.
Aku tak bertaruh apa pun.
Aku mungkin saja mempertaruhkan hidupku, ya seluruh hidupku. Aku terbiasa sepi, kini, tak lagi sepi. Hal-hal yang kubangun, runtuh seketika di hadapanmu. Namun, aku tak merasa mempertaruhkan apa pun.
Jika nanti kamu pergi, dengan alasan apa pun, aku akan tetap berterima kasih. Kamu telah mengajariku bagaimana merindu seseorang. Mengajariku cara bahagia.


Perjalanan paling menyakitkan adalah perjalanan menemui sebagian dirimu yang terkunci rapat-rapat di sudut pikir. Perjalanan yang nantinya menguras habis seluruh energimu, membuatmu enggan melanjutkan kehidupanmu yang sekarang. Aku sadar, ketika mengatakan berhasil mengunci sebagian diriku di sudut pikir hanyalah cara agar aku sedikit tenang, sedikit bahagia. Juga sebagai bukti bahwa aku telah berjalan ke depan, meninggalkan kenangan-kenangan menyedihkan itu dalam ruang hampa.
Perkataan itu jelas bohong adanya. Ingatan, sebagaimana adanya tak pernah berhasil kita kurung rapat-rapat di  sebuah ruang. Dia memilih diam di sana, sesekali datang menjengukku di masa sekarang, sesekali menyiapkan amunisi untuk menyerang. Aku tak ingin lagi berperang, tak ingin lagi berurusan dengan kenangan. Tapi, di sinilah aku sekarang, di paruh perjalanan menuju sebagian diriku. Membangunkannya, mengajaknya bicara.
Ada ragu yang menahan laju kakiku. Keraguan yang menyisipkan sebuah pertanyaan, siapkah kamu kehilangan? sepertihalnya kita tahu, tidak ada yang benar-benar siap dengan kehilangan, tidak ada persiapan yang mampu mengurangi pedihnya kehilangan.
“Aku butuh bantuanmu,” tembakku, langsung ke inti.
“Manusia cepat menjadi tua dan pelupa. Kemarin mengatakan tak butuh, hari ini memohon. Menyedihkan,” katanya sambil terkekeh.
“Bagaimanapun kita satu. Berbaiklah,” kataku, sedikit memohon.
“Di antara kita, kita tahu siapa yang membuang siapa. Siapa yang meninggalkan siapa, dan bukan aku.”
“Dan kita tahu, siapa yang meminta kembali. Tapi, aku tak tahu, jawaban dari permintaanku.”
“Apa yang kamu perlukan?” tanyanya tanpa memberi jawaban dari permintaanku.
“Ingatan tentang seorang gadis oriental. Dia menemuiku  sebulan lalu, memberikanku sebuah surat dan beberapa lembar foto. Aku tak mengingatnya, tak mengenalnya tetapi merasa begitu dekat dengannya.”
“Jangan, yang satu ini jangan. Hidupmu akan hancur,” pintanya, membuatku heran.
Sebegitu besarkah pengaruh perempuan ini dalam hidupku hingga mampu menghancurkan semua yang telah kubangun selama ini. “Aku mohon,” kataku. Dia mengangguk dan berjalan ke arahku. Memelukku, membuatku satu dengannya. Mengembalikan memori yang kubuang jauh-jauh.
Perlahan-lahan gambaran masa lalu muncul di kepalaku. Potongan-potongan gambar  mulai tersusun, terus terususun hingga sepuluh tahun lalu. Awal masa aku mengenal perempuan itu, jatuh cinta dan menjalin hubungan dengannya. Aku melihat diriku begitu bahagia dalam potongan gambar itu. Kebahagiaan yang tak lagi kutemukan tujuh tahun terakhir dalam hidupku.
Lalu pertentangan-pertentangan hadir. Penolakan dari keluarga masing-masing yang tak menginginkan anaknya menikah karena berbeda keyakinan. Kami bertahan, terus bertahan hingga akhirnya menyerah. Mengaku kalah. Entah pada takdir atau pada keegoisan orangtua kami.
Aku melihat diriku hancur. Mengurung diri berbulan-bulan di kamar. Menenggak anti depresan agar merasa tenang dan dapat tidur pulas. Kehilangan pekerjaan. Kehilangan kepercayaan atas keluarga. Kehilangan perempuan itu,  kehilangan diriku sendiri. Tak ada yang lebih menyedihkan ketika kita kehilangan diri sendiri.
Aku tak memiliki lagi impian atau harapan. Aku menikah dengan perempuan pilihan keluarga, yang tak pernah kunenal sebelumnya, yang tak pernah membuatku jatuh cinta atau membuatnya jatuh cinta kepadaku. Murni perjodohan. Apa lagi yang harus dilakukan seseorang yang kehilangan dirinya sendiri selain menerima keinginan dari orang lain.
Hingga sebulan lalu, perempuan itu datang. Membuatku sadar, ada yang hilang dalam diriku. Memaksaku menemuimu, memintamu mengembalikan kenangan-kenangan burukku.
“Aku akan kembali kepadanya,” kataku mantap.
“Terserah, itu hidupmu. Aku hanya masa lalu, tak bisa diubah, tak mampu kauubah,” katanya.
Aku pergi meninggalkan sebagian diriku di masa lalu. Tak menguncinya, tak memintanya untuk pergi. Dia bebas kapan pun datang kepadaku. Aku menerimanya, selalu menerimanya. Pesanku hanya satu kepadanya, datanglah saat hujan, saat kopiku sedang panas-panasnya dan persediaan rokokku banyak.


Tahun lalu, gue mungkin berpikir kalau perkataan gue dulu cuma celetukan biar hidup nggak bosen-bosen amat. Sampe akhirnya gue ketemu Cima. Gue  mulai berpikir ulang kalau celetukan gue waktu itu bukan sekadar iseng, ada harapan di sana. Sedikit memang, tapi ada. Dan gue mulai melihat jawaban itu terkabul sekarang.
Nama Cima nggak asing di telinga gue. Meski belum pernah bertemu langsung, gue sering mendengar namanya disebut-sebut temen-temen gue. Cima itu cantik, pinter, humble banget anaknya, suka baca dan sederetan kebaikan-kebaikan lainnya. Nih orang nggak ada jelek-jeleknya apa, yang disebutin bagus-bagus semua.
Cima baru saja merampungkan pendidikannya S2-nya di Belanda. Sambil menunggu wisuda, cewek yang dulu kuliahnya di Bandung ini udah dapet tawaran kerja di perusahaan asing di Jakarta. So, habis wisuda, doi langsung cabut ke Jakarta. Temen-temen gue ngomongin kepindahannya ke Jakarta kayak orang abis menang lotere, seneng anget, susah digambarin.
Sampai akhirnya Cima menetap  di Jakarta, temen-temen gue ngajak kumpul-kumpul sekalian ngenalin gue ke Cima. Biar lo tau kalau ngomongan kita-kita nih benar, kata teman gue. Gue sebenarnya penasaran pengin lihat orangnya tapi berhubung ada kerjaan di luar kota, gue menolak. Nggak segitunya gue bela-belain ninggalin kerjaan cuma buat ketemu cewek yang belum tentu nyambung sama gue.
Tapi yang namanya takdir emang nggak bisa ketebak sih. Saat lagi jenuh di kantor, biasanya gue kabur ke kedai kopi di Tebet. Tempatnya enak banget, sepi dan homey, berasa kayak di rumah sendiri. Tempat ini juga biasa dijadiin nogkrong gue sama anak-anak. Gue memilih duduk di tempat biasa, pojok, dekat jendela, dan dekat colokan.
Di pojok sebelah kanan, seorang perempuan sedang membaca buku. hmm.. cantik banget, bukan, manis banget. Rambutnya sebahu, mengenakan parka biru, dress hitam selulut dan sepatu converse. Ditambah kacamata dan buku, membuat gue terdorong untuk terus menatapnya. Kacamata yang sering gue lepas kalau lagi baca atau ngetik pun nggak gue lepas. Padahal, selain berkendara dan meeting, gue selalu lepas kacamata, pegel aja kalau terus-terusan dipake. Kali ini nggak gue lepas biar nggak burem lihat wajahnya.
Tapi ya dasarnya mental kerupuk, ya lembek aja. Ada perempuan cantik duduk di depan aja gue nggak berani selain cuma lirik dikit-dikit. Bukannya nyamperin ngajak kenalan, gue malah pasang earphone dan nulis. Payah.
Ketikan gue terhenti ketika suara bangku di depan gue tergeser. Teman gue dan pacarnya duduk di hadapan gue. Dan yang membuat kaget bukan kedatangan temen gue itu tetapi perempuan di sebelahnya yang masih berdiri sambil memegang buku. Perempuan cantik di pojok kanan itu ngapain ikutan ke sini ya, batin gue.
“Woy, turunin tas lo, Cima mau duduk tuh,” sentak temen gue.
Gue gelagapan dan buru-buru memindahkan tas gue ke lantai. Cima duduk dengan tenang, meletakkan buku di atas meja dan menggantungkan tasnya di sandaran kursi. Gue mamatikan laptop, nggak enak kerja di tengah teman-teman gini.
Sepanjang obrolan, mereka membahas kenangan semasa kuliah di Bandung. Gue cuma bengong, sesekali menimpali obrolan yang gue pahami. Biasanya tentang buku atau film, kedua hal ini agak nyambung gue. Sisanya gue kembali bengong dan curi-curi pandang ke Cima.
Tanpa sengaja, kaki kami beradu. Gue membayangkan kaki gue memiliki pintu yang langsung menuju ke hati. Cima masuk mealui pintu itu, menuju ke hati gue. Tapi gue nggak berani masuk ke pintu yang berada di kaki Cima. Sumpah, nggak berani gue.
“Anterin Cima, ya. Udah malem nih,” kata temen gue sambil pamit.
Gue bahkan belum bereaksi apa-apa saat temen gue ngeloyor pergi begitu aja. Gue berjalan menuju parkiran motor. Agak ragu sebenarnya. Melihat tampilan Cima dan melihat motor gue, rasanya ada perbedaan cukup jauh. Kasian banget nih cewek malem-malem naek motor. Udah dandan cakep-cakep, eh malah naek motor,  Mio pula. Kalau motor gede sih masih kebayar deh.
“Beneran nggak apa-apa naek motor, kalao mau naek taksi, biar gue cariin,” kata gue.
Cima mengambil helm dari genggaman tangan gue. Duduk manis di jok. “Yuk,” katanya. Gue pun menaiki motor, melaju pelan. Di sebelah kiri dekat perempatan jalan, gue berhenti. Memarkirkan motor di warung pecel lele. Laper nggak? Gue laper nih. Tanya gue. Cima melepaskan helm dan menaruhnya di spion gue. Masuk ke warung dan memilih tempat duduk.
“Ayam atau ikan lelenya sih biasa aja tapi sambilnya oke banget,” promo gue ke Cima.
Pesanan kami pun datang, dua ikan lele goreng, ati ampela dan kol goreng plus sambel pecel sepiring penuh. Cima kaget melihat sambel gue porsinya lebih banyak daripada punya dia. “Abangnya udah tau, biasanya gue nambah. Daripada repot, jadi dikasih banyak sekalian.”
Gue seneng pas liat Cima makan dengan lahap. Bahkan, dia nggak segan-segan mengambil jatah sambel gue. Peluhnya bercucuran. Gue menyodorkan tissue, diambilnya beberapa lembar. Tangan kirinya sibuk mengusap dahinya, tangan kanannya tetap fokus pada makanan.
Seusai makan, gue mengantarnya menuju apartemennya di daerah Warung Buncit. Sepanjang perjalanan, kami bisu. Kepala gue penuh dengan pertanyaan, segini aja nih, begini doang nih, ajak jalan lagi dong, kerupuk amat lo, kata-kata itu terus berputar-putar di kepala gue. Sampai akhirnya tiba di depan apartemennya, gue tetap nggak bersuara apa-apa.
Cima menyerahkan helm ke gue. Kalau nggak sekarang, nggak bakal ada kesempatan lagi, teriak hati gue. Cima berjalan meninggalkan gue setelah mengucap terima kasih.
“Cima,” teriak gue. “Lo kan kuliah di Bandung terus langsung cabut ke Belanda, masih baru di Jakarta, kalau butuh guide, kabarin gue aja, ya. Gue siap anter-anter.”
“Panjang banget bridging-nya. Tapi oke,” katanya sambil tersenyum.
Sejak hari itu, gue mulai sering jalan bareng sama Cima. Seringnya ke tempat gue biasa makan, sesekali ke lapak buku murah di blok M Square. Urusan makanan enak, gue sedikit tahu. Kalo soal enak dan mahal, gue nyerah. Jarang banget gue makan makanan mahal. Gue lebih rela ngabisin duit buat nongkrong berjam-jam di coffe shop, jajal berbagai macam kopi daripada cicipin makanan mahal yang belum tentu cocok sama perut gue.
Kadang, kami menghabiskan waktu di apartemennya. Menonton film, membaca buku atau sekadar mengobrol. Kadang, bertemu teman-teman di kedai biasa kami berkumpul. Kadang, nggak bertemu beberapa minggu karena gue ada dinas di luar kota atau Cima sedang sibuk dengan pekerjaannya. Namun, sesibuk apa pun, kami saling menghubungi. Sekadar bercerita tentang hari-hari, cuaca, apa saja.
Nggak pernah ada kata jadian antara gue dan Cima. Gue berpikir, untuk orang seusia gue, tembak-menembak nggak penting. Bagi Cima pun sama. Walau gue juga berpikir, bagaimana pun seseorang butuh kepastian. Tapi kami sadar, ikatan di antara kami lebih dari sekadar teman. Kami merasa tak perlu lagi pernyataan-pernyatan lisan, semua sudah diungkapkan melalui perbuatan.
# # #
Gue mengajak Cima makan pecel lele di tempat biasa kita makan. Cima memesan menu biasa, lele goreng, ati ampela dan kol goreng. Gue cuma mesen teh tawar anget. “Nggak laper,” kata gue saat dia bertanya kenapa nggak makan. Cima masih sibuk dengan makanannya, sesekali mengusap peluh di dahinya, sesekali menyeruput minumannya dan tiba-tiba saja tersentak, hampir menyemburkan air di mulutnya ketika gue meletakkan kotak cincin di atas meja.
“Itu apa,” tanyanya.
“Cincin.”
“Ya, tau, itu Cincin. Tapi buat apa?” tanyanya.
“Saya kok bosen yah, kita gini-gini aja. Sudah hampir setahun. Nikah yuk,” kata gue.
Cima meletakkan gelas di tangannya ke atas meja. Menatap gue dengan tatapan heran. Gila nih, orang, barangkali begitu suara batinnya. Gue masih cengengesan di depannya. “Ini serius?” tanyanya.
“Saya nggak pernah seserius ini dalam hidup. Gimana? Tanya gue.
Ada yang jatuh dari mata yang Indah itu.  Air mata yang nggak bisa gue terjemahkan. Sedihkah, bahagiakah. Air mata penerimaan atau penolakan. Gue menunggu, cuma bisa menunggu kalimat dari bibirnya. Cima mengangguk dan mengelap air matanya dengan tangan kanannya yang membuatnya menangis, terus menangis karena lupa tangannya sedang belepotan sambal pecel.
Gue tertawa, saking girangnya lupa kalau perempuan yang menerima lamaran gue sedang kepanasan karena mengelap mukanya dengan tangan belepotan sambal.
“Lain kali, liat-liat dong kalo ngelamar. Udah di tukang pecel, aku lagi makan pula. Perih kan mata,” katanya sambil cemberut.
“Nggak ada lain kali, Cima. Saya ngelamar cuma sekali, cuma kamu. Nggak pernah kepikiran buat ngelamar yang lain,” kata gue.
Setahun lalu, gue mungkin masih berpikir kalau celetukan gue waktu itu cuma keisengan belaka. Nyatanya, hari ini, celetukan itu jadi kenyataan. Berhati-hatilah dengan omonganmu, kawan.. hehehe.






Setahun lalu, gue mungkin masih berpikir kalau perkataan gue waktu itu cuma celetukan laki-laki yang bosan sama hidupnya. Di taman komplek, di atas ayunan yang gue ayun pelan, gue mengeluarkan kata-kata yang membuat teman gue tersentak lalu menancapkan kakinya kuat-kuat di tanah. Menghentikan gerakan ayunannya yang cukup kuat. Melirik gue dengan tatapan tajam, tepatnya tatapan iba. Mungkin, baginya, kata-kata yang gue lontarkan lebih mirip harapan jomblo ngenes ketimbang laki-laki dewasa yang ingin memulai langkah besar dalam hidupnya.
Sore itu, temen gue mengabarkan sedang menjajal resep baru. Dia minta gue dateng buat mencicipi masakannya. Tawaran  yang nggak bisa gue lewatkan. Gue sih nggak punya ekspektasi apa-apa soal masakannya. Tapi, kopi dan obrolan dengannya yang menarik gue datang ke rumahnya. Saat gue datang, dia baru mulai mencapur bahan-bahan masakannya. Gue langsung menyeduh kopi. Udah kaya rumah sendiri deh.
Sambil nunggu dia masak, gue membuka komputer jinjing, memutar lagu-lagu sendu. Cuacanya mendukung banget, mendung-mendung plus berhalilintar. Stok lagu sendu gue banyak, hampir mengisi seluruh folder lagu gue malah. Kebanyakan lagu-lagu dari band indie. Kalau ditanya penyanyi terkenal atau yang lagi hits, gue langsung angkat tangan. Bukan tahu jawabannya tapi menyerah. Selera musik gue agak payah memang dan gue ngga berniat naik ke level leih tinggi lagi. Puas aja dengan apa yang gue sukai.
Sedang asik-asiknya tenggelam dalam lantunan lagu, temen gue nyeletuk, bantuin gue kek, asik banget hidup lo. Sentakan yang membuat gue sadar kalau gue lagi numpang di rumah orang, udah minta kopinya, dibuatin makanan, pula, tapi lupa diri. Gue pun pura-pura ke dapur, bantu-bantu dikit terus duduk manis lagi depan laptop.
Nggak lama setelah itu, masakannya selesai. Gue menuju ke dapur, mengambil dua piring, dua sendok dan garpu. Mengambilnya sedikit, meletakkannya di atas piring dan mencicipinya. Ada yang kurang nih, tapi apa yah, kata temen gue dan disusul kalimat, bumbunya kurang jadi agak hambar. Gue diam aja, nggak berani berkomentar. Takut salah ucap. Tiba-tiba temen gue menyodorkan pertanyaan yang membuat gue nggak bisa mengelak.
“Menurut lo gimana?” Tanyanya.
Gue makan dengan pelan. Kepala gue berpikir keras mencari kata yang pas. Ada dua hal yang gue hindari ketika memberikan komentar ke temen cewek. Satu, penampilannya. Dua, masakannya. Gue rasa, memberikan komentar untuk dua hal ini agak rumit. Salah-salah ucap bisa bikin gempar.
Gue mengerutkan kening, pura-pura berpikir, “kayaknya, adonannya kurang bumbu nih, agak hambar,” kata gue. Padahal, untuk urusan makanan, gue nggak pernah ambil pusing. Kalo enak ya dihabisin, kalo nggak, ya jangan dikompain. Bahkan, kebiasaan ini kebawa ketika gue makan di warung makan. Biasanya, kalau nggak enak kan kita bisa komplain, toh kita beli. Tapi gue anti banget ngelakuin hal itu.
“Iya, kayaknya emang kurang bumbu,” kata temen gue yang membuat gue merasa aman. Sore itu akhirnya kami memesan makanan dari warung langganannya. Makananya enak banget, gue aja sampe nambah, nambah lauk, bukan nasi.
Gue menepuk-nepuk perut yang kekenyengan. Menyulut rokok, menghisapnya dan menghembuskan asapnya pelan-pelan. Nikmat. Temen gue duduk di sebelah, menyerahkan secangkir kopi ke gue, menyulut rokok sambil bersender di dinding. Hujan belum juga datang, rintik sempat mampir sebentar lalu menghilang. Mendung masih bertengger di langit, hanya mendung bukan hujan. Kami pun berjalan menuju taman komplek, menunggu hujan datang.
Saat sedang asik bermain ayunan, kata-kata itu pun meluncur. Membuat teman gue menghentikan gerakan  ayunananya. “Taun depan, gue nikah.”
“Udah ada calonnya?” tanya temen gue.
“Belom sih tapi ya pengin aja. Bosen ya hidup gue gini-gini aja.”
Temen gue cekikikan, gue tahu dia pengen ketawa kenceng-kenceng tapi nggak tega. Habis cekikikan, dia masang tampang serius. “Semoga terkabul deh,” kata temen gue dan melanjutkan mengayunkan ayunannya kuat-kuat. Dalam hati gue berucap aamiin. Dalam hati, nggak sanggup mengucapkannya dari bibir.