Kapalmu hatimu akan berlabuh, entah di mana dan kepada siapa. Menurunkan jangkar dan menancapkannya pada karang di lautan. Mengikat tali-temali di batang kokoh dermaga. Duduk memandangi cahaya laut yang berubah keemasan, sebulat jeruk matang di ujung barat menunggu hari menjadi malam. Dan angin yang berhembus pelan menerbangkan ujung-ujung rambutmu, menembus pori-pori kulitmu membuatmu tergigil sekaligus hangat pada saat bersamaan karena lenganmu telah bertautan. Jemarinya mengisi sela sela jemarimu. Mengalirkan hangat ke hatimu.
Kapalku tak akan berlabuh, kubiarkan terus berlayar menerjang ombak kehidupan. Kadang hari-hari berlalu tanpa ombak, begitu datar sekaligus menenangkan. Burung-burung beterbangan di atas lautan, mengincar ikan-ikan. Sepasang ikan layaran bergoyang menuju matahari senja. Segerombolan lumba-lumba mengeluarkan bunyi yang indah. Kapalku tetap diam dan menyerahkannya nasibnya pada angin dan lautan.
Kapalmu hatimu akan berlabuh, entah di mana dan kepada siapa. Aku sempat percaya, kita mampu menerjang semua badai yang datang, melabuhkan kapal kita di sebuah pulau tak bernama. Menghabiskan semua-semuanya berdua. Lalu kamu memutuskan berlayar sendiri tanpa pernah kutahu alasannya. Kamu mungkin telah berlabuh, semoga begitu. Aku akan terus berlayar, menerjang badai karena satu-satunya alasanku tetap tinggal adalah kamu dan alasan itu telah mati seiring dengan kepergianmu.


Anjing menggonggong di luar, memecah keheningan malam.
Perempuan di sampingku masih saja mengulang-ulang satu nama yang sama dengan sederetan makian setelahnya. Seolah kosa-kata menguap dari kepalanya dan hanya menyisakkan caci maki, sumpah serapah yang sama sekali tak enak didengar. Lidahnya mendadak pelo, dihajar berbotol-botol minuman. Merebahkan tubuhnya di sofa, menarik lenganku agar lebih dekat dengannya, lalu menerikaku dengan kata-kata makian. Bukan untukku, tetapi untuk lelaki yang amat dicintainya.
Lambungnya yang belum terisi makanan sejak pagi meronta karena hanya dijejali minuman yang katanya mampu membuat seseorang lupa segalanya. Bohong belaka, alkohol hanya membuatnya lebih sendu dari biasanya. Dia memintaku memapahnya ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi cairan kecoklatan. Tak luput memuntahkannya di kausku. Ah, mandi malam hari sangat tak menyenangkan.
Kupijat tengkuknya perlahan. Dia duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di closet. Menangis. Isi perutnya telah terkuras. Kata-kata di kepalanya telah habis keluar, tinggal air mata yang ingin dia habiskan.
Anjing masih saja menggonggong di luar, memecah keheningan malam.
Untuk terakhir kali, kataku dalam hati. Teman-temanku akan menertawaiku jika aku mengatakannya kepada mereka. Telah puluhan kali aku mengatakan pada diriku sendiri, pada teman-temanku, ini terakhir kalinya aku menemaninya melewati masa-masa sulit hidupnya. Menemaninya mengumpat dan memaki satu nama yang sama, seseorang yang dicintainya bertahun-tahun lamanya. Seseorang yang membuatnya menjadikanku pelarian dari kesepiannya dan setelahnya, ditinggalkannya.
Aku memapahnya ke sofa, membawakan segelas air hangat untuknya. Menunggunya hingga tertidur lelap.
Aku berharap pernah dicintainya. Sekali saja. Sedikit saja. Meski aku tahu, aku hanya pelarian dari semua kegagalan cintanya. Ketika harapan datang untuknya, dia pergi meninggalkanku untuk seseorang yang amat sangat dicintainya. Ah, pandir benar ini kepala. Tak seharusnya aku memikirkannya. Ini untuk terakhir kalinya. Aku janji. Dan kamu selalu tahu, janji ini tak pernah bisa kutepati.





Jika mencintai adalah sebuah sandiwara, kita memainkan peran dengan cara yang buruk
Masing-masing dari kita adalah protagonis dalam hidup kita. Seperti kau tahu, protagonis merupakan sebutan bagi tokoh utama dalam sebuah cerita. Tak melulu baik, tak melulu jahat. Protagonis bisa saja menjelma malaikat baik hati atau menjelma penjahat paling keji. Masing-masing kita menentukan peran yang kita pilih. Hidup tentu tak membiarkan kita sesuka hati merencanakan cerita seperti yang kita mau. Kamu mengenal harapan dan tak semua mewujud menjadi kenyataan.
Kita seringkali membunuh satu harap untuk menghidupkan harap lainnya.
Kita memilih peran sepasang sepi. Dipertemukan semesta kemudian jatuh cinta. Kupikir ini premis dari jalan cerita kita.
Lalu kita menyusun jalan cerita yang indah. Susun-menyusun harap sehingga tercipta plot yang indah dan tentu saja bahagia. Harapan kita telah terbang menuju langit dan kita sengaja melupa bahwa kaki-kaki kita masih menapak di bumi. Mengesampingkan luka-luka dan kegagalan. Ya, siapa juga yang ingin merencanakan sebuah kesedihan dan kehilangan. Kita menyerahkan itu pada hidup, biar dia yang memberikan kejutan-kejutan kepada kita. Dan kita selalu tahu, luka dan kesedihan selalu datang lebih banyak dari bahagia.
Sejak awal sudah kukatakan, kita berperan sangat buruk. Sepasang sepi sebaiknya hanya saling mengisi dan berakhir pada waktu tertentu. Kita bahkan lupa menyepakati bagian itu. Kita lalu terjebak dalam peran yang kita mainkan. Menganggap ini kenyataan dan yang paling menyedihkan, kita mulai bertanya-tanya dan mendefinisikan kedekatan ini sebagai sebuah cinta yang ditakdirkan tuhan.
Ah, betapa naifnya kita. Aku barangkali yang terlalu percaya bahwa ini memang cerita yang sudah ditentukan bagi kita. Aku lepas kendali, kamu lepas kendali, dan kita terjebak dalam permainan yang kita ciptakan. Lalu suatu hari kamu menyadari, ini hanya cerita tentang sepasang sepi yang saling mengisi waktu luang dan ketika kesepian tak lagi menjadi beban yang menghantui malam-malam yang panjang, cerita ini sebaiknya diakhiri.
Aku telat menyadari dan terus saja memainkan peran ini. Bodohnya membiarkan diri tetap terluka oleh ilusi-ilusi bahagia yang pelan-pelan telah menancapkan pisau di hati. Kamu beranjak pergi dan mengakhiri cerita dengan tiba-tiba. Aku masih terjebak di dalamnya dan tak tahu bagaimana menerima ending yang tak kuinginkan,  berusaha mengubahnya menjadi akhir bahagia.
Tapi, aku tahu, masing-masing dari kita adalah protagonis dalam hidup kita. Kamu memilih peran mencari dan berjalan. Aku memilih peran menunggu dan berharap kamu datang. Sayangnya, peran yang kamu mainkan tak mengarah kepadaku.
Jika suatu hari kamu datang dan ingin memainkan peran sepasang kesepian lagi, mungkin ada baiknya kita membuat kesepakatan-kesepatan agar peran yang kita mainkan tak lagi menyakiti dan melukai kita.


angin bertiup kencang, menggoyang daun-daun di pepohonan, menerbangkan daun-daun yang gugur. ada yang jatuh ke tanah, ada yang menerpa wajahku sebelum kembali diterbangkan angin lalu jatuh. gemericik air, suara burung, matahari yang teduh diselimuti awan hitam.
di atas hamparan bunga-bunga liar, aku melihatmu. berdiri mematung, menatapku. senyum yang kurindukan. aroma tubuh yang tak pernah bisa kulupakan. kakiku melangkah, satu-satu, tak terburu-buru. menujumu. menuju pelukan hangat yang telah lama tak kurasakan.
“ayo pulang,” katamu sambil tersenyum.
menggenggam tanganku. aku merasa penuh, sela jemariku kembali penuh.
hari di mana aku bertemu lagi denganmu adalah hari kamu menjemputku pulang. sebenar-benarnya pulang. di atas hamparan bunga liar, tanganmu menggenggam erat tanganku. aku hanya perlu menoleh sekali lagi ke belakang, mengucapkan salam perpisahan pada dunia.
pada kehidupan.


Dia terus berjalan dengan satu tujuan; menemukan jawaban-jawaban yang menghantui alam pikirnya. Mengusik malam-malamnya, membangunkannya dari tidurnya yang tak pernah nyenyak. Menggerogoti harap hidupnya. Siang tak pernah lebih baik dari malam yang buruk. Langkahnya tak pernah tergesa-gesa karena setiap langkahnya hanya menambah beban penyesalan yang menempel di pundaknya semakin berat.
Dia percaya karma. Dia memercayainya melebihi kepercayaannya akan tuhannya. Semesta yang mengatur karma, bukan tuhan. Dia terus percaya, melukai seseorang akan diganjar luka-luka yang lebih menyakitkan. Meninggalkan seseorang hanya akan membuatnya ditinggalkan berkali-kali. Rasa sakitnya selalu besar daripada yang dia lakukan terhadap orang lain.
Dia menyadari itu, amat sangat menyadarinya.
Tapi dia manusia. Egonya besar, harapannya besar, keinginannya untuk bahagia seringkali membuatnya lupa, ada perasaan orang lain yang harus dijaga. Dia ingin mengambil semua bahagia, dia ingin memenuhi dadanya dengan bahagia, hingga pecah, hingga tak berbentuk. Hanya bahagia yang mengisi hidupnya, bukan hal lain.
Dia terus berjalan dengan beban karma di pundaknya. Terus berjalan, meski kakinya telah melepuh, meski harapnya mati satu-satu.
Dia berjalan dengan rasa marah, semua-semua bahagia telah dirampas baginya. Semua-semua cinta hanya semu belaka. Tapi dia lupa, semua-semua bahagia telah dia renggut dari seseorang dan hanya menyisakkan luka yang bertahan lama. Dia hanya ingin bahagia, tanpa peduli jika dia telah melukai. Tanpa peduli, jika luka akan menjelma doa-doa yang diatur semesta menjadi karma.
Dia percaya, doa-doa yang buruk tak akan sampai ke telinga semesta apalagi dikabulkannya. Tapi doa-doa yang baik akan berpulang kepada si pendoa. Namun dia juga sadar, tak semua doa dapat dikabulkan, bukan manusia-manusia yang mengatur alam ini bekerja. Tidak ada pola, tidak ada cara mengkalkulasinya.
Dia terus berjalan dan berharap menemukan jawaban-jawaban. Tapi dia tahu, selama hatinya hanya dipenuhi keinginan untuk bahagia dan tak peduli dengan luka-luka yang disebabkannya, dia tak akan pernah menemukan jawaban. Tidak akan pernah.