Kilatan petir menyambar-nyambar di langit, membuat langit serupa gelas bening yang retak. Dari mata jendela, kulihat awan hitam hendak pecah menjadi butir-butir air. Skenario yang biasa akan berulang, hujan akan jatuh satu-satu. Menderas. Bumi dengan tabahnya menerima jatuhan ton-ton air dengan suka cita atau mungkin terpaksa, sebab ia telah menua dan menjadi saksi dari cinta yang itu-itu saja.
Di penghujung tahun, aku ingin menyalahkan hujan yang menjelma tangan-tangan kenangan yang berusaha menarikku pulang akan ingatan setahun silam. Ketika percakapan-percakapan hanya berlangsung di layar telepon genggam tanpa ekspekstasi berlebihan. Tentang pertemuan. Pertemanan. Jatuh cinta. Berpisah. Lalu tentu saja, luka-luka yang bertahan lebih lama daripada bahagia.
Tapi hujan, lagu sendu yang terus berputar, secangkir kopi hitam bukan perpaduan yang epik untuk menjebak seseorang menuju ingatan masa lalu. Aku yang sengaja menceburkan diriku ke lumpur ingatan yang menyakitkan. Menghisap harap serta kebahagiaan dan membiarkan diriku terhisap di dalamnya tanpa perlawanan.  
Kepalaku boleh saja keras melebihi batu. Menginginkanmu begitu kuatnya hingga melupa tentang orang-orang di sekelilingku, melupa tentang mencipta bahagia selain kamu. Tapi hatiku hanya sebuah cermin dengan banyak luka goresan, rapuh, dan mudah pecah. Betapa mudahnya hatiku tergores hanya mendengar cerita tentang seseorang yang dekat denganmu atau seseorang yang selalu ingin kamu jadikan rumah untuk berpulang. Kamu mungkin tak menyadari betapa banyak luka yang disebabkan cerita-ceritamu tentangnya.
Aku tak ingin mendengarnya lagi. Tidak lagi.
Hujan akan reda, langit akan dihiasi kembang api warna-warni. Aku akan membuat segelas kopi lagi dan mendengarkan voice note darimu, ucapan selamat tahun baru yang kamu kirimkan beberapa menit setelah pergantian tahun setahun lalu.

Di tahun mendatang, mungkin tak banyak bahagia yang singgah di hidupku. Seperti kata temanku, yang kubutuhkan barangkali bukan bahagia. Bukan juga kesedihan. Aku hanya perlu hidup. Biasa-biasa saja, datar-datar saja, tapi tetap hidup.




Kapalmu hatimu akan berlabuh, entah di mana dan kepada siapa. Menurunkan jangkar dan menancapkannya pada karang di lautan. Mengikat tali-temali di batang kokoh dermaga. Duduk memandangi cahaya laut yang berubah keemasan, sebulat jeruk matang di ujung barat menunggu hari menjadi malam. Dan angin yang berhembus pelan menerbangkan ujung-ujung rambutmu, menembus pori-pori kulitmu membuatmu tergigil sekaligus hangat pada saat bersamaan karena lenganmu telah bertautan. Jemarinya mengisi sela sela jemarimu. Mengalirkan hangat ke hatimu.
Kapalku tak akan berlabuh, kubiarkan terus berlayar menerjang ombak kehidupan. Kadang hari-hari berlalu tanpa ombak, begitu datar sekaligus menenangkan. Burung-burung beterbangan di atas lautan, mengincar ikan-ikan. Sepasang ikan layaran bergoyang menuju matahari senja. Segerombolan lumba-lumba mengeluarkan bunyi yang indah. Kapalku tetap diam dan menyerahkannya nasibnya pada angin dan lautan.
Kapalmu hatimu akan berlabuh, entah di mana dan kepada siapa. Aku sempat percaya, kita mampu menerjang semua badai yang datang, melabuhkan kapal kita di sebuah pulau tak bernama. Menghabiskan semua-semuanya berdua. Lalu kamu memutuskan berlayar sendiri tanpa pernah kutahu alasannya. Kamu mungkin telah berlabuh, semoga begitu. Aku akan terus berlayar, menerjang badai karena satu-satunya alasanku tetap tinggal adalah kamu dan alasan itu telah mati seiring dengan kepergianmu.


Anjing menggonggong di luar, memecah keheningan malam.
Perempuan di sampingku masih saja mengulang-ulang satu nama yang sama dengan sederetan makian setelahnya. Seolah kosa-kata menguap dari kepalanya dan hanya menyisakkan caci maki, sumpah serapah yang sama sekali tak enak didengar. Lidahnya mendadak pelo, dihajar berbotol-botol minuman. Merebahkan tubuhnya di sofa, menarik lenganku agar lebih dekat dengannya, lalu menerikaku dengan kata-kata makian. Bukan untukku, tetapi untuk lelaki yang amat dicintainya.
Lambungnya yang belum terisi makanan sejak pagi meronta karena hanya dijejali minuman yang katanya mampu membuat seseorang lupa segalanya. Bohong belaka, alkohol hanya membuatnya lebih sendu dari biasanya. Dia memintaku memapahnya ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi cairan kecoklatan. Tak luput memuntahkannya di kausku. Ah, mandi malam hari sangat tak menyenangkan.
Kupijat tengkuknya perlahan. Dia duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di closet. Menangis. Isi perutnya telah terkuras. Kata-kata di kepalanya telah habis keluar, tinggal air mata yang ingin dia habiskan.
Anjing masih saja menggonggong di luar, memecah keheningan malam.
Untuk terakhir kali, kataku dalam hati. Teman-temanku akan menertawaiku jika aku mengatakannya kepada mereka. Telah puluhan kali aku mengatakan pada diriku sendiri, pada teman-temanku, ini terakhir kalinya aku menemaninya melewati masa-masa sulit hidupnya. Menemaninya mengumpat dan memaki satu nama yang sama, seseorang yang dicintainya bertahun-tahun lamanya. Seseorang yang membuatnya menjadikanku pelarian dari kesepiannya dan setelahnya, ditinggalkannya.
Aku memapahnya ke sofa, membawakan segelas air hangat untuknya. Menunggunya hingga tertidur lelap.
Aku berharap pernah dicintainya. Sekali saja. Sedikit saja. Meski aku tahu, aku hanya pelarian dari semua kegagalan cintanya. Ketika harapan datang untuknya, dia pergi meninggalkanku untuk seseorang yang amat sangat dicintainya. Ah, pandir benar ini kepala. Tak seharusnya aku memikirkannya. Ini untuk terakhir kalinya. Aku janji. Dan kamu selalu tahu, janji ini tak pernah bisa kutepati.





Jika mencintai adalah sebuah sandiwara, kita memainkan peran dengan cara yang buruk
Masing-masing dari kita adalah protagonis dalam hidup kita. Seperti kau tahu, protagonis merupakan sebutan bagi tokoh utama dalam sebuah cerita. Tak melulu baik, tak melulu jahat. Protagonis bisa saja menjelma malaikat baik hati atau menjelma penjahat paling keji. Masing-masing kita menentukan peran yang kita pilih. Hidup tentu tak membiarkan kita sesuka hati merencanakan cerita seperti yang kita mau. Kamu mengenal harapan dan tak semua mewujud menjadi kenyataan.
Kita seringkali membunuh satu harap untuk menghidupkan harap lainnya.
Kita memilih peran sepasang sepi. Dipertemukan semesta kemudian jatuh cinta. Kupikir ini premis dari jalan cerita kita.
Lalu kita menyusun jalan cerita yang indah. Susun-menyusun harap sehingga tercipta plot yang indah dan tentu saja bahagia. Harapan kita telah terbang menuju langit dan kita sengaja melupa bahwa kaki-kaki kita masih menapak di bumi. Mengesampingkan luka-luka dan kegagalan. Ya, siapa juga yang ingin merencanakan sebuah kesedihan dan kehilangan. Kita menyerahkan itu pada hidup, biar dia yang memberikan kejutan-kejutan kepada kita. Dan kita selalu tahu, luka dan kesedihan selalu datang lebih banyak dari bahagia.
Sejak awal sudah kukatakan, kita berperan sangat buruk. Sepasang sepi sebaiknya hanya saling mengisi dan berakhir pada waktu tertentu. Kita bahkan lupa menyepakati bagian itu. Kita lalu terjebak dalam peran yang kita mainkan. Menganggap ini kenyataan dan yang paling menyedihkan, kita mulai bertanya-tanya dan mendefinisikan kedekatan ini sebagai sebuah cinta yang ditakdirkan tuhan.
Ah, betapa naifnya kita. Aku barangkali yang terlalu percaya bahwa ini memang cerita yang sudah ditentukan bagi kita. Aku lepas kendali, kamu lepas kendali, dan kita terjebak dalam permainan yang kita ciptakan. Lalu suatu hari kamu menyadari, ini hanya cerita tentang sepasang sepi yang saling mengisi waktu luang dan ketika kesepian tak lagi menjadi beban yang menghantui malam-malam yang panjang, cerita ini sebaiknya diakhiri.
Aku telat menyadari dan terus saja memainkan peran ini. Bodohnya membiarkan diri tetap terluka oleh ilusi-ilusi bahagia yang pelan-pelan telah menancapkan pisau di hati. Kamu beranjak pergi dan mengakhiri cerita dengan tiba-tiba. Aku masih terjebak di dalamnya dan tak tahu bagaimana menerima ending yang tak kuinginkan,  berusaha mengubahnya menjadi akhir bahagia.
Tapi, aku tahu, masing-masing dari kita adalah protagonis dalam hidup kita. Kamu memilih peran mencari dan berjalan. Aku memilih peran menunggu dan berharap kamu datang. Sayangnya, peran yang kamu mainkan tak mengarah kepadaku.
Jika suatu hari kamu datang dan ingin memainkan peran sepasang kesepian lagi, mungkin ada baiknya kita membuat kesepakatan-kesepatan agar peran yang kita mainkan tak lagi menyakiti dan melukai kita.