Apa 
resolusimu 
di  
tahun 
depan?







Menghadapai pergantian tahun, saya--mungkin hampir seluruh dari kalian--mendapat pertanyaan seperti ini. Saya hanya menggeleng. Jika pertanyaan diajukan melalui sambungan telepon, saya menjawab tidak tahu. Jika melalui pesan singkat atau aplikasi WhatsApp/Line, saya juga menjawab tidak tahu. Tidak ada resolusi, tidak ada target, tidak ada rencana. Saya melewati serangkaian pergantian tahun baru dengan biasa saja, seperti melewati pintu di rumah, hanya perlu membuka pintunya dan lewat begitu saja.
Namun saya berpikir ulang, mencoba memikirkan apa yang seharusnya saya kerjakan menyambut tahun baru. Saya menemukan satu kata yang pas, melepas. Saya ingin belajar melepas banyak hal, tidak melulu tentang kekecewaan tetapi juga kebahagiaan. Bukankah kebahagiaan dan kekecewaan kekal (kita kekalkan) dalam ingatan kita.
Kita menikmati momen-momen kesedihan, hidup dalam masa lalu, mengutuki rasa sakit, mengenggenggam erat-eret kekecewaan dan tak berani berajak. Setiap kali berusaha keluar dari rasa sakit,  ketakutan menguasai diri kita.  Bayangan kegagalan dan kekecewaan mematahkan semangat yang baru saja menyala. Harapaan yang baru tumbuh serupa tunas pun layu, kehilangan hangatnya harapan. Dia mati sebelum berkembang, mati terbunuh ketakutan dalam diri kita.
Begitu pun bahagia. Kita kerapkali membicarakan kebahagiaan yang itu-itu saja. Seolah kita tak pernah mendapatkannya di kemudian hari. Kepala kita dipenuhi kenangan yang itu-itu saja. Kita takut menciptakan harap, takut tak pernah menggapainya lagi.
Tahun depan, saya mau belajar melepas. Mencari kebahagiaan baru, menerima kegagalan baru. 

*Gambar dipinjam dari sini




Saya cukup kaget melihat perubahannya. Entah apa dan mengapa dia berubah menjadi sosok yang lebih serius dari sebelumnya. Apakah hidup yang keras sehingga membuatnya juga menjadi sedikit lebih keras. Kami sudah jarang bertemu, bukan karena masing-masing dari kami sibuk tetapi dia sungguh sibuk dan saya masih tetap bekerja dalam kondisi yang sangat santai. Tidak mau terikat dengn sebuah perusahaan, kalau pun iya, kesepakatan awal, saya hanya ingin bekerja 10 hari dalam satu bulan.

Kami terbiasa bekerja dengan santai, dalam artian tidak terikat oleh tempat dan waktu. Ada fase di mana kami tidak tidur selama satu minggu. duduk di depan layar komputer, menenggak kopi bergelas-gelas dan mengahabiskan beberapa bungkus rokok untuk menyelesaikan proyek penulisan. Ada waktu di mana kami menolak tawaran pekerjaan. berapa pun besar tawaran itu, kami tetap menolak. Kami mencoba mencukupkan diri, tidak ingin hidup melulu tentang kerja dan itu membuat kami lebih menikmati hidup. suatu hari dia menghilang, menghindari kontak dari teman-teman, termasuk komunikasi dengan saya. 

“Gue kayak ketemu astronot, yang ngerakit pesawatnya sendiri untuk bisa sampe ke bulan. Seorang astronot dadakan tapi nekatnya nggak ketulungan. Gue masih berpijak di bumi dan lo udah hampir sampe di bulan. Lo baik-baik aja?” kata saya sambil menyikut sikunya.


gambar dipinjam dari sini


“Kenapa senyum-senyum sendiri, ada yang lucu yah?” tanyanya sambil mencubit pinggangku.
“Nggak, cuma heran aja sih,” kataku
“Heran kenapa?” wajahnya berubah serius. Bantal yang menjadi sandaran punggungnya ditarik, dipeluk. Tubuhnya dicondongkan ke arahku. Bersiap menanti jawaban dari mulutku.
“Kamu sadar nggak sih, kondisi sekarang sangat menyenangkan. Kita bisa tertawa lepas. Membicarakan apa saja, menertawakan apa saja. Nggak ada ribut-ribut, seperti masih pacaran dulu.”
“Iya,” jawabnya sambil tersenyum. Tubuhnya kini disandarkan ke sofa, bantal kecil itu tetap dipeluknya. “Kemasan ini lebih cocok buat kita yah.”






“Aku minta secangkir kopi hitam, Bali-Kintamani yah, di-brew saja,” kata prempuan itu ketika aku berdiri di hadapannya.
Sebelumnya dia melambaikan tangan ke arahku, kupikir meminta bill dan berniat membayar minumannya.  Segelas kopi Toraja Kalosi yang dipesannya sudah habis. Aku mengurungkan untuk memberikan bill namun tak ingin memenuhi pesanannya. “Sudah mau tutup Mba, last order pukul sembilan tadi,” kataku. Teman-temanku, satu orang barista dan dua orang waiters sedang merapikan bagian kafe yang diperuntukkan bukan untuk perokok sedangkan area untuk perokok belum kami rapikan, menunggu satu-satunya pelanggan-perempuan di hadapanku-pergi.
Tamu adalah raja, begitulah aturan yang berlaku dalam bisnis kuliner, tak terkecuali bisnis kopi. Aturan yang kadang merenggut sedikit waktu kami. Kejadian seperti ini tentu bukan pertama kali terjadi sejak setahun lalu aku membangun kedai kopi. Aku memberikan sedikit waktu untuk mereka meninggalkan kedai kami tanpa harus memaksanya keluar. Sebuah paksaan akan meninggalkan kesan buruk dan membuat pelanggan enggan datang kembali ke kedai kami.

Mencintaimu selalu mudah, seperti yang sudah-sudah. 

Nai, kuikuti saranmu untuk melakukan sebuah perjalanan. Katamu, aku perlu berjalan lebih jauh, menjejak langkah di tempat yg belum pernah kupijak. Melihat sisi lain dari kehidupan yang belum pernah kulihat.  Bertemu dengan banyak orang dan berbagi cerita tentang hidup. Kamu bilang, sudah takdirnya bagi manusia untuk terus berjalan, semakin banyak jalan yang kutempuh semakin banyak hal baru yang kutemukan. Anggap saja ini sebuah permainan petak umpet dengan skala dunia. Untuk menemukan orang-orang yang bersembunyi, kamu harus berjalan, tidak bisa hanya diam saja. Kamu harus melakukannya sesering mungkin, keluar dari rutinitasmu yang hanya bekerja dan bermain ke kedai kopi, kalimat itu yang kuingat saat terakhir kali kita bertemu.
Panitia sedang memberi arahan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan ini berlangsung. Jangan heran, aku memang mengikuti open trip yang diadakan sebuah agent travel. Aku terlalu malas untuk me-arrange sendiri perjalananku. Bagiku, hiburan dan liburan tak jauh dari membaca buku di dalam kamar. Jika ingin melihat tempat yang belum kukunjungi, aku membaca buku travelling atau browsing-browsing di internet. Biarlah pikiranku yang berjalan, kakiku tetap tangguh berada di dalam ruang kamar. Jika bosan membaca, aku akan menonton film seharian menggunakan komputer jinjing. Membeli buku loak di blok M Square atau sekadar menikmai kopi di kedai-kedai kopi yang tersebar di Jakarta. Itu sudah cukup, lebih dari cukup untukku.




Di bangku kayu yang menghadap kolam, seorang perempuan duduk sambil sesekali menggoyangkan lembut kepalanya. Aku berani bertaruh, dia tidak sedang mendengarkan musik. Kamu tidak akan menemukan ear phone yang terpasang di telinganya yang tertutup  rambut lebatnya. Tidak akan menemukan pemutar musik dari telepon genggamnya atau ipad di sakunya. Dia menggoyangkan kepala mengikuti lantunan lagu yang dia nyanyikan. Jika kau berjarak cukup dekat, kau akan mendengar suaranya bernyanyi. Entah lagu apa karena yang keluar dari bibirnya hanya gumaman. Dia bernyanyi dengan cara bergumam, selalu seperti itu.
Barangkali kalian berpikir aku sok tahu, akan kujelaskan sedikit tentang perempuan itu. Aku mengenalnya lima tahun lalu. Saat kami masih berstatus mahasiswa di perguruan tinggi yang sama. Jurusan kami berbeda tapi kami memiliki satu kesamaan, sama-sama membutuhkan referensi untuk mengerjakan tugas skripsi. Perpustakaan yang mempertemukan kami. Akh, bukan, perpustakaan hanya benda mati. Barangkali takdir yang mempertemukan kami meski kata takdir terdengar pasif dan terlalu mengada-ngada. Nyatanya, kami bertemu di sana. 
Buku referensi yang kami cari jelas berbeda, jadi tidak ada adegan di mana aku bertemu dengannya dalam satu rak buku dan sama-sama mencari buku yang sama. Tidak ada adegan kami berebut buku atau menjatuhkan buku dan sama-sama mengambilnya lalu tanpa sengaja tangan kami bersentuhan dan saling menatap. Kemudian jatuh cinta. Tidak seperti itu, sungguh cerita di televisi itu tidak terjadi dalam hidupku, dalam hidup kami.
Dia menghampiriku yang sedang sibuk berkutat dengan tumpukan buku. Aku menatapnya sekilas, berpikir mungkin dia sedang menghampiri temannya karena mustahil dia repot-repot berjalan dari posisi duduknya untuk menemuiku-seseorang yang tidak dia kenal.
“Boleh pinjam charger laptopnya?”
Aku mendongakkan kepala, melihat perempuan itu berdiri di hadapanku sambil mengulurkan tangan kanannya. Aku menoleh ke belakang, mencari sosok yang dia ajak bicara. Nyatanya, hanya diriku di pojok perpus ini.
“Boleh. Jangan lebih dari satu jam yah, saya mau pergi,” Aku pun menyerahkan charger komputer jinjingku.
“Janji, nggak bakal lebih dari satu jam. Saya duduk di sana, kalau kamu mau  tiba-tiba mau pergi, bisa ambil di sana.”  Dia pun menunjuk  tempatnya duduk. Hanya beberapa deretan kursi, mungkin jaraknya sekitar enam meter dari tempat dudukku.
Aku hanya menceritakan kepada kalian bagian aku berkenalan dengan perempuan yang kini duduk di bangku kayu yang menghadap kolam itu. Akan jadi lima novel dengan tebal kira-kira 500 halaman jika aku menceritan kisahku dengannya selama lima tahun. Novel yang membosankan dan memuakkan. Novel, yang jika kalian beli akan membuat kalian merasa menyesal karena sudah sia-sia mengeluarkan uang dan membuang waktu berjam-jam untuk membaca sebuah kisah yang biasa saja.
Aku membawa satu buket bunga. Aku tidak menyimpannya di balik punggungku. Ini bukan kejutan, ini hanya kado ucapan selamat. Tak perlu didramatisir.
“Hai, apa kabar? Terima kasih bunganya tapi untuk apa?” tanyanya tanpa sempat mempersilahkanku duduk terlebih dahulu.
Ini bukan rumahnya, ini taman, siapa saja berhak duduk tanpa harus meminta izin atau diminta. Sebelum menjawab pertanyaannya, aku merebahkan pantatku di kursi kayu ini.  Mengambil posisi kiri seperti yang biasa kulakukan jika bertemu dengannya.
“Hanya ucapan selamat untuk pertunanganmu. Maaf, tidak bisa hadir waktu itu.”
“Tidak apa, aku tau kamu sibuk. Terima kasih untuk bunganya dan pastikan, kamu akan hadir di pernikahanku. Selalu ada yang kurang jika kamu tidak ada. Jadi, pastikan kamu mengosongkan jadwal pada hari pernikahanku nanti ya.”
“Ini belum terlambat Nai. Kamu baru bertunangan, belum menikah. Kamu bisa membatalkannya dan kita bisa memulainya dari awal.
“Memulai dari awal?  kita bahkan belum memulainya sama sekali.”
“Lima tahun ini, lima tahun kebersamaan kita. Apa kamu mendadak amnesia? Aku bisa menjadi apa saja untuk kamu, Nai. Ada banyak hal yang ingin aku kasih ke kamu tapi semua akan percuma jika kamu melanjutkan pertunangan dengannya.”
“Itu masalahnya, Bim. Kamu bisa jadi apa aja untuk aku, bisa melakukan segalanya untuk aku tapi kamu gak pernah bisa jadi diri kamu sendiri. Kalau sama aku, selamanya kamu akan jadi orang lain.”
Aku menatap matanya, melihat setitik air di sudut-sudut matanya. Kubiarkan dia menarik napas, menunggu kalimat lain keluar dari bibirnya.
“Kasih kesempatan orang lain untuk kecewa, untuk belajar rasanya sakit. Belajar, bahwa tidak semua yang dia inginkan tidak selalu dapat dipenuhi bahkan oleh orang yang paling disayanginya sekali pun. Rasa kecewa itu yang akan membuatnya menjadi dewasa. Dan . . . belajar menjadi diri sendiri.”
Dia pun pergi setelah menggenggam tanganku. Aku membiarkan berjalan menjauh tanpa berusaha mengejarnya. Membiarkan punggung itu hilang ditelan jalan.



*gambar dari sini