Apa 
resolusimu 
di  
tahun 
depan?







Menghadapai pergantian tahun, saya--mungkin hampir seluruh dari kalian--mendapat pertanyaan seperti ini. Saya hanya menggeleng. Jika pertanyaan diajukan melalui sambungan telepon, saya menjawab tidak tahu. Jika melalui pesan singkat atau aplikasi WhatsApp/Line, saya juga menjawab tidak tahu. Tidak ada resolusi, tidak ada target, tidak ada rencana. Saya melewati serangkaian pergantian tahun baru dengan biasa saja, seperti melewati pintu di rumah, hanya perlu membuka pintunya dan lewat begitu saja.
Namun saya berpikir ulang, mencoba memikirkan apa yang seharusnya saya kerjakan menyambut tahun baru. Saya menemukan satu kata yang pas, melepas. Saya ingin belajar melepas banyak hal, tidak melulu tentang kekecewaan tetapi juga kebahagiaan. Bukankah kebahagiaan dan kekecewaan kekal (kita kekalkan) dalam ingatan kita.
Kita menikmati momen-momen kesedihan, hidup dalam masa lalu, mengutuki rasa sakit, mengenggenggam erat-eret kekecewaan dan tak berani berajak. Setiap kali berusaha keluar dari rasa sakit,  ketakutan menguasai diri kita.  Bayangan kegagalan dan kekecewaan mematahkan semangat yang baru saja menyala. Harapaan yang baru tumbuh serupa tunas pun layu, kehilangan hangatnya harapan. Dia mati sebelum berkembang, mati terbunuh ketakutan dalam diri kita.
Begitu pun bahagia. Kita kerapkali membicarakan kebahagiaan yang itu-itu saja. Seolah kita tak pernah mendapatkannya di kemudian hari. Kepala kita dipenuhi kenangan yang itu-itu saja. Kita takut menciptakan harap, takut tak pernah menggapainya lagi.
Tahun depan, saya mau belajar melepas. Mencari kebahagiaan baru, menerima kegagalan baru. 

*Gambar dipinjam dari sini




Saya cukup kaget melihat perubahannya. Entah apa dan mengapa dia berubah menjadi sosok yang lebih serius dari sebelumnya. Apakah hidup yang keras sehingga membuatnya juga menjadi sedikit lebih keras. Kami sudah jarang bertemu, bukan karena masing-masing dari kami sibuk tetapi dia sungguh sibuk dan saya masih tetap bekerja dalam kondisi yang sangat santai. Tidak mau terikat dengn sebuah perusahaan, kalau pun iya, kesepakatan awal, saya hanya ingin bekerja 10 hari dalam satu bulan.

Kami terbiasa bekerja dengan santai, dalam artian tidak terikat oleh tempat dan waktu. Ada fase di mana kami tidak tidur selama satu minggu. duduk di depan layar komputer, menenggak kopi bergelas-gelas dan mengahabiskan beberapa bungkus rokok untuk menyelesaikan proyek penulisan. Ada waktu di mana kami menolak tawaran pekerjaan. berapa pun besar tawaran itu, kami tetap menolak. Kami mencoba mencukupkan diri, tidak ingin hidup melulu tentang kerja dan itu membuat kami lebih menikmati hidup. suatu hari dia menghilang, menghindari kontak dari teman-teman, termasuk komunikasi dengan saya. 

“Gue kayak ketemu astronot, yang ngerakit pesawatnya sendiri untuk bisa sampe ke bulan. Seorang astronot dadakan tapi nekatnya nggak ketulungan. Gue masih berpijak di bumi dan lo udah hampir sampe di bulan. Lo baik-baik aja?” kata saya sambil menyikut sikunya.


gambar dipinjam dari sini


“Kenapa senyum-senyum sendiri, ada yang lucu yah?” tanyanya sambil mencubit pinggangku.
“Nggak, cuma heran aja sih,” kataku
“Heran kenapa?” wajahnya berubah serius. Bantal yang menjadi sandaran punggungnya ditarik, dipeluk. Tubuhnya dicondongkan ke arahku. Bersiap menanti jawaban dari mulutku.
“Kamu sadar nggak sih, kondisi sekarang sangat menyenangkan. Kita bisa tertawa lepas. Membicarakan apa saja, menertawakan apa saja. Nggak ada ribut-ribut, seperti masih pacaran dulu.”
“Iya,” jawabnya sambil tersenyum. Tubuhnya kini disandarkan ke sofa, bantal kecil itu tetap dipeluknya. “Kemasan ini lebih cocok buat kita yah.”






“Aku minta secangkir kopi hitam, Bali-Kintamani yah, di-brew saja,” kata prempuan itu ketika aku berdiri di hadapannya.
Sebelumnya dia melambaikan tangan ke arahku, kupikir meminta bill dan berniat membayar minumannya.  Segelas kopi Toraja Kalosi yang dipesannya sudah habis. Aku mengurungkan untuk memberikan bill namun tak ingin memenuhi pesanannya. “Sudah mau tutup Mba, last order pukul sembilan tadi,” kataku. Teman-temanku, satu orang barista dan dua orang waiters sedang merapikan bagian kafe yang diperuntukkan bukan untuk perokok sedangkan area untuk perokok belum kami rapikan, menunggu satu-satunya pelanggan-perempuan di hadapanku-pergi.
Tamu adalah raja, begitulah aturan yang berlaku dalam bisnis kuliner, tak terkecuali bisnis kopi. Aturan yang kadang merenggut sedikit waktu kami. Kejadian seperti ini tentu bukan pertama kali terjadi sejak setahun lalu aku membangun kedai kopi. Aku memberikan sedikit waktu untuk mereka meninggalkan kedai kami tanpa harus memaksanya keluar. Sebuah paksaan akan meninggalkan kesan buruk dan membuat pelanggan enggan datang kembali ke kedai kami.

Mencintaimu selalu mudah, seperti yang sudah-sudah.
Nai, kuikuti saranmu untuk melakukan sebuah perjalanan. Katamu, aku perlu berjalan lebih jauh, menjejak langkah di tempat yg belum pernah kupijak. Melihat sisi lain dari kehidupan yang belum pernah kulihat. Bertemu dengan banyak orang dan berbagi cerita tentang hidup. Kamu bilang, sudah takdirnya bagi manusia untuk terus berjalan, semakin banyak jalan yang kutempuh semakin banyak hal baru yang kutemukan. Anggap saja ini sebuah permainan petak umpet dengan skala dunia. Untuk menemukan orang-orang yang bersembunyi, kamu harus berjalan, tidak bisa hanya diam saja. Kamu harus melakukannya sesering mungkin, keluar dari rutinitasmu yang hanya bekerja dan bermain ke kedai kopi, kalimat itu yang kuingat saat terakhir kali kita bertemu.
Panitia sedang memberi arahan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan ini berlangsung. Jangan heran, aku memang mengikuti open trip yang diadakan sebuah agent travel. Aku terlalu malas untuk me-arrange sendiri perjalananku. Bagiku, hiburan dan liburan tak jauh dari membaca buku di dalam kamar. Jika ingin melihat tempat yang belum kukunjungi, aku membaca buku travelling atau browsing-browsing di internet. Biarlah pikiranku yang berjalan, kakiku tetap tangguh berada di dalam ruang kamar. Jika bosan membaca, aku akan menonton film seharian menggunakan komputer jinjing. Membeli buku loak di blok M Square atau sekadar menikmai kopi di kedai-kedai kopi yang tersebar di Jakarta. Itu sudah cukup, lebih dari cukup untukku.
Pagi hampir tiba, fajar hadir seraya tanda bahwa sang matahari sebentar lagi bertahta. Aku ingin memejamkan mata sejenak, semalaman aku tak bisa tidur. Di kapal ferry menunju pelabuhan Bakauheni, aku memasuki ruang teater. Menambah uang lima ribu rupiah demi mendapatkan tempat nyaman. Seorang petugas menanyakan film apa yang ingin kutonton. Conjuring, jawabku asal. Kupikir tidak mungkin dia akan menayangkan film horror itu pada tengah malam seperti ini. Hampir seluruh penumpang ingin tidur, suara-suara yang dihasilkan film horror akan membuat penumang tidak bisa tidur. Dugaanku salah, dia benar-benar menayangkan film itu. Akh, candaan yang tidak tepat waktu mengakibatku terjaga sepanjang perjalanan.
Sesampainya di pelabuhan, lima angkot sudah menunggu. Aku tak tahu angkot ini akan mengantarkan kemana dan tidak peduli kemana. Aku tak mendengarkan briefing yang diberikan panitia semalam. Mobil berwarna kuning ini berjalan menembus pagi. Sang supir dengan gilanya mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, tidak peduli jalan yang dilewati rusak parah. Kepalaku terbentur beberapa kali. Gagal lagi usahaku untuk tidur. Beberapa penumpang mengeluh, seperti angin, suara mereka nyaris tak terdengar. Si sopir dengan cueknya melaju tanpa menghiraukan keluhan yang mereka berikan.
Mobil berhenti di depan sebuah warung, satu-satunya warung yang buka di pagi buta. Sepasang suami istri, pemilik warung ini menanyakan apakah aku ingin makan atau meminum sesuatu, aku mengiyakan dengan memintanya membuatkan secangkir kopi hitam. Aku tak terbiasa sarapan sepagi ini, akan membuatku sakit perut seharian. Beberapa orang mulai sibuk berebut colokan, berusaha agar gadget-nya tak mati selama perjalanan. Terkadang, aku merasa sedih, mereka-orang yang berpergian dengan pasangan dan segerombolan kawan-kawan- masih saja ditakutkan dengan  telepon genggam yang mati. Sudah lupakah kita cara berkomunikasi melalui lisan? Akh, sudahlah tak perlu membebani pikiran-pikiran berat sepagi ini.
Aku membawa kopi ke ujung jembatan di dermaga, yang kutahu kemudian bernama Dermaga Canti. Dermaga ini menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal kecil yang memuat buah-buah untuk dibawa ke pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Hanya ada tiga perahu kayu sedang bergoyang halus digerakkan ombak. Seorang laki-laki dengan sarung yang diselempangkan di tubuhnya berdiri di atas kapal yang berada di sebelah kanan pandanganku. Menggeliat, menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, berjongkok sebentar lalu lompat ke jembatan. Dia tersenyum hambar, kutawarkan sebatang rokok, dia pun menerima dan langsung menyulutnya. Ke anak gunung Krakatau mas? Tanyanya basa-basi. Aku mengangguk, dia pun pergi meninggalkanku. 
 

Pukul tujuh pagi, panitia meminta seluruh peserta open trip berkumpul. Seperti perayaan api unggun, kami membentuk sebuah lingkaran dengan tiga orang panitia di tengahnya. Aku berada paling belakang, sekilas kudengar kami akan singgah sejenak di Pulau Sabesi untuk mengambil bekal makan siang lalu melanjutkan perjalanan menuju anak gunung Krakatau. Aku meninggalkan lingkaran manusia itu, bergegas menuju toilet karena tak kuat lagi untuk menyegerakan membuang hajat. Aku punya kebiasaaan – yang entah dianggap sebagian besar orang adalah hal baik-untuk pup setiap pagi. Pencernaanmu bagus, begitu kata mereka. Aku tak paham, perutku lebih banyak diisi dengan kopi dan asap, makan hanya sesekali saja. Apanya yang bagus, pikirku.
Lega, kataku sambil mengelus-ngelus perut. Seorang panitia sudah menungguku persis di depan pintu toilet. Akh, menyusahkan sekali anak ini, barangkali begitu pikirnya. Padahal, kalau mereka akhirnya pergi dan meninggalkanku di pelabuhan ini seoarng diri pun aku tidak akan komplain. Tidak akan berkoar-koar di media sosial dan menuntut mereka mengembalikan uangku. Tapi itu sudah tugasnya, memastikan seluruh peserta mengikuti acara ini dengan baik.
Bagian dalam perahu sudah penuh, di bagian atasnya pun sudah terisi. Aku menyimpan tas di bagian dalam dan memilih duduk di bagian depan kapal daripada harus berdesakkan-desakkan dengan orang lain. Aku bertanya ke juru kemudi kapal,  jika aku duduk di sini, apakah akan menghalangi pandangannya. Katanya tidak, selama aku duduk dan bukan berdiri, itu tidak masalah baginya. jangkar ditarik, ikatan perahu pun dilepas, suara mesin mulai gaduh menandakan perjalanan ini segera dimulai. Aku merapatkan jaket, angin pantai dan langit mendung menjadi perpaduan yang membuat tubuhku sedikit kedinginan.
Di hadapanku kini hanya air. Aku membayangkan seekor ikan berukuran besar melompat dan melahapku, menjadikanku sarapan paginya. Atau, kapal ini tiba-tiba saja membentur kapal lain, pecah berantakan. Aku tak bisa berenang dan mudah dipastikan aku akan mati tenggelam. Khayalan-khayalan itu tak sedikitpun membuatku takut. Khayalan tentangmu, Nai,  yang justru membuatku gelisah. Akh, seandainya kamu di sini Nai, kita bisa membicarakan banyak hal sambil menunggu kapal ini mencapai tujuan. Jika lelah, kamu bisa bersandar dan aku akan memastikan kamu bisa tidur dengan nyenyak.
Mesin baru saja dimatikan, seorang awak kapal melemparkan tali berukuran besar ke bibir dermaga. Seoarang lainnya, yang sudah menunggu di jembatan dermaga,  menerimanya lalu mengikatnya kuat-kuat di beton. Dua orang panitia berjalan untuk mengambil bekal makan siang,  satu orang lainnya berdiri di samping kapal dan membagikan snorkle kepada peserta. Aku berjalan melewati antrean itu, menuju warung untuk membeli beberapa botol air mineral. Sekembalinya dari warung, masih ada yang mengantre. Aku langsung menaiki kapal, tak tertarik untuk ikut menyewa alat snorkling itu.
Perahu kembali berjalan. Dua jam perjalanan, kata juru mudi saat kutanyakan waktu tempuh dari Pulau Sabesi menuju anak Gunung Krakatau. Dia menawarkanku kacang rebus, aku mengambilnya. Lumayan untuk mengisi perutku yang kosong. Kulihat termos tepat di sebelah kaki kirinya, kukeluarkan dua sachet kopi hitam dan meminta kepada juru mudi air panas dalam termos tersebut. Sambil berseloroh, dia membolehkanku membuat kopi dengan air panas miliknya asalkan dia dibuatkan juga. Aku duduk di sampingnya, mendengarkannya bercerita tentang apa saja. Mulai dari pengalamannya menjadi supir angkot hingga diminta kakaknya untuk mengemudikan perahu milik kakaknya. Dia pun beralih profesi, tetep mengemudi hanya medan dan benda yang dikendarainya saja yang berbeda.
“Mas tahu acara TV yang pembawa acaranya dua cowo tatoan? Dia pake kapal ini pas pergi ke Kiluan,” tanyanya sambil menunjuk stiker yang ditempel di kaca bagian depan perahu.
“Oh, My Trip My Adventure, saya tahu kok Pak.”
“Awalnya, saya tidak tahu itu artis, pas banyak kamera tv, baru sadar kalau mereka mau shooting. Cuma sehari aja sih sewa kapalnya,” katanya bangga.
Aku hanya mendengarkan saja dia bercerita sambi sesekali menanggapi dengan oh, dan wah. benar kata orang, mengobrol bisa membunuh waktu dengan cepat. Tak terasa, kami sudah sampai di anak gunung Krakatau. Dua jam lima belas menit tidak terasa cepat berlalu. Di pulau itu, hanya terdapat satu rumah (mungkin pos) yang ditempati polisi hutan. Rumah berbahan kayu itu berwarna hijau, mungkin mencoba menyelaraskan dengan pohon-pohon di sekitarnya.
Kulirik jam tanganku, pukul 11. Matahari dengan senangnya membakar kulitku, sisa-sisa mendung pagi hari sudah tidak terlihat lagi. Yang nampak, hanyalah matahari yang panas dan menyengat. Ada dua antrian yang mulai mengular, antrian kamar mandi- tanpa atap dan hanya dilapisi dengan karung di empat sisinya-yang berada di belakang rumah itu. Bagi yang menyukai tantangan, silakan saja bermalam di pulau ini dan menikmati sensasi buang hajat besar pada malam hari. Mungkin kau bisa melihat bintang-bintang bertaburan saat melaksanakan hajatmu, mungkin menemukan penampakan. Yang lain mengantri untuk poto-poto tugu yang bertuliskan anak gunung krakatau.
Aku mulai mendaki, mengikuti jalur pendakian dan meninggalkan panitia yang masih menunggu seluruh peserta berkumpul. Aroma pinus mulai menjalar di hidungku, aroma yang hampir kulupa setelah hampir empat tahun tidak pernah lagi menjejakkan kaki ke puncak gunung. Aku menarik napas panjang, napasku hampir habis rasanya. Para pengantri kamar mandi dan foto tugu, satu-satu berlajan melewatiku. Daya tahan tubuh mereka rupanya lebih kuat dariku.
Terkadang, kau harus berhenti sejenak untuk melihat sekelilingmu. Ini bukan soal menyerah, ini soal menikmati hidup. Mungkin kamu akan tertinggal dengan orang-orang lain yang lebih dahulu mencapai puncak. Tapi bukankah kebahagiaan tidak melulu bicara tentang tujuan akhir,  tetapi ketika kamu bisa menikmati proses untuk mencapai tujuan itu. 


Aku menarik napas panjang, menguatkan diri untuk melanjutkan pendakian. Beberapa orang melewatiku sambil menyemangatiku, kuberikan senyuman untuk menyemati balik mereka. Seorang pria sedang mendorong bagian belakang tubuh perempuan di hadapannya. Bisa, nggak tinggi-tinggi banget kok. Masa nyerah, kata lelaki itu berusaha memompa semangat perempuan yang didorongnya untuk terus melanjutkan perjalanan. Aku menutupi kepalaku dengan hoody yang kubawa, panasnya matahri tidak bersahabat denganku.
akhirnya sampai juga, kataku sambil berjongkok dan menarik napas dalam-dalam lalu kuhembuskan. Sudah tak terhitung berapa kali aku berjongkok, menarik napas lalu berjalan.  Kulihat kepulan asap keluar dari ujung gunung itu. seorang perempuan memintaku mengambil beberapa fose dirinya yang membelakangi gunung tersebut. Permintaan itu diikuit dengan permintaan beberapa orang lainnya yang juga ingin mengabadikan perjalanan mereka. Aku pun mengambil beberapa gambar, barangkali bisa menjadi kenangan terakhir dari sebuah perjalanan.  


Kami pun turun dengan jalur yang berbeda, jalur yang lebih mudah.  Makan siang, sudah tersedia ketika sampai di bawah. Aku makan dengan lahapnya. 


Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pulau Cemara, pulau tak berpenghuni itu, katanya memiliki terumbu karang yuang sangat bagus. Jaraknya hanya setengah jam dari  pulau anak Gunung Krakatau.
“Kenapa nggak ikutan snorkling?” tanya perempuan yang tadi memintaku untuk memotret dirinya.
“Sedang malas,” jawabku tanpa berbohong. Aku memang tidak bisa berenang tetapi kan ada pelampung. Aku sedang malas saja.
“Sama, gue juga malas. Besok pagi saja main airnya sebelum pulang,” jawabnya tanpa kuminta. “Sendirian atau sama rombongan? Pacar mungkin?”tanyanya lagi.
“Sendiri, lagi pengen sendiri aja.”
Aku mengambil bungkus rokok dalam tasku, mencomotnya sebatang lalu menyulutnya. Aku menyodorkan bungkusan rokokku kepadanya, dia pun mengambilnya sebatang dan meminjam korekku untuk menyulutnya. Kubiarkan asap-asap kami yang berbicara dan membiarkan mulut kami sibuk dengan rokok yang kami isap. Aku tak punya bahan obrolan, sepertinya dia pun begitu. Bingung mau bertanya apa lagi.
“Gue baru pulang dari Wairebo, tempatnya bagus banget. Lo nggak bakal nyesel kalo travelling kesana. Ada niatan travelling kemana lagi?”
“Belum tau, belum kepikir. Temen saya mau jalan kesana sih sambil liat festival tahunan disana.”
“Liputan atau main? Kalau main, mending jangan pas festival, rame banget dan nggak bisa nikmatin suasananya. Wairebo tuh nikmatnya kalau sepi, bisa menikmati pemandangan yang ada, nikmatin suasanya.”
“Temen saya yang mau kesana, nanti saya bilang ke dia,” jawab saya.
Kami pun kembali terdiam. Dia pamit diri dan mengucapkan terima kasih sudah menemaninya mengobrol dan memberinya sebatang rokok. Sebelum benar-benar pergi, dia mengatakan lebih menyenangkan melakukan perjalanan seoarang diri. Tidak repot dan bisa berkenalan dengan banyak orang. Setelah mengatakan itu, dia pergi ke bagian atas perahu.  Aku masuk ke dalam perahu, menutup wajah dengan hoody berusaha memejamkan mata.
# # # # #
“Bangun Mas, sudah sampe di pulau Sabesi,” kata seorang panitia kepadaku.
Sudah sampai rupanya, aku pun menggerakkan badan. Cukup pegal tidur di dalam kapal. Aku berlajan menuju warung, membeli peralatan mandi. Dua buah mobil pick up hitam sudah menungu di depan warung, siap mengantarkan peserta menuju penginapan.
Penginapan yang dimaksud adalah sebuah kamar yang cukup luas yang mampu menampung 10 orang. 10 kasur dengan kover gambar superhero berjejer rapi. Kamar ini hanya beberapa meter dari bibir pantai, menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan. Seseorang memberikan kertas kepadaku, memintaku mengisi urutan jadwal mandi. aku memilih urutan terakhir. Berjalan meninggalkan kamar, menuju satu-satunya warung di dekat penginapan itu. memesan secangkir kopi hitam.
 “Antre mandi ya mas?” tanya pemilik warung.
“Iya, bu. Ngantri banget.”
“Mandi aja di belakang warung ibu, airnya bersih kok. Mandi aja.”
Beruntung sekali hari ini, tidak perlu report mengantre dan bisa mandi sepuasnya.
Selepas mandi, penitia mengajak untuk berkumpul di bibir pantai. Asap mengepul dari arang yang sedang dikipas-kipas panitia yang lain. Beberapa ekor ayam, ikan dan jagung siap untuk dipanggang. Dua buah gitar juga disiapkan untuk dimainkan. Mengiringi para pengipas arang tersebut. Aku menghampiri sebentar, sekadar basa-basi lalu memilih untuk membaca buku di depan kamar penginapan.
Beberapa kali mereka memanggilku untk bergabung, aku hanya melambaikan tangan dan dua kali mengatakan sedang tak ingin makan. Mereka pun menyerah pada panggilan ketujuh. Suara ombak lebih menyenangkan daripada petikan gitar yang dimainkan tak kunjung arah. Aku teringat sahabatku yang begitu menyukai suara ombak. Setiap kali dia mengunjungi pantai, dia merekam suara ombak. Dia memiliki satu folder khusus di laptopnya yang diberi nama “Suara Merdu”. Kumpulan-kumpulan suara ombak yang dia abadikan dari aplikasi rekam di telepon genggamnya lalu dikumpulkannya di folder khusus itu.  
Kadang dia mengirimiku rekaman suara ombak, sambil sesekali memaksaku untuk mengunjungi tempat di mana suara itu diambil. Kamu akan suka tempat ini, sunyi dan hanya suara ombak yang saling mengisi. Kamu kan suka sepi, pasti cocok buat kamu menyendiri sambil meminum segelas kopi. Begitu pesannya yang disimpan di badan surat elektronik.
# # # # #
Anakonda dalam perutku mulai mengamuk minta makan. Rupanya, dua gelas kopi, kacang rebus dan sepiring makan siang kemarin tidak mampu menahannya untuk tidak mengamuk. Aku menuju warung –satu-satunya warung yang ebarda di dekat penginapan, tempatku menumpang mandi kemarin- untuk memesan mie rebus, tidak lupa meminta penjualnya memotong beberapa cabe rawit untuk ditaburkan di atas kuahnya.
Aku membawa semangkuk mie rebus dan segelas teh tawar ke sebuah bale-bale (bangku kayu dari papan) yang dipayungi pohon biji ketapang. Pantas saja kamarku sepi, hampir semua peserta sudah berjalan di bibir pantai. Beberapa orang melewatiku dengan wajah sedikit ditekuk. Aku tak tahu kenapa dan tak tertarik untuk mengetahui apa yang membuat wajah mereka tak cerah seperti kemarin. “Sunrise-nya nggak kelihatan, ketutupan bukit itu,” kata salah satu dari mereka. Aku hanya tersenyum, tak tahu bagaimana menanggapi pernyataan itu dan kupikir, mereka tidak membutuhkan tanggapan apa pun.  
Aku merasa tak perlu kecewa tak bisa melihat matahari terbit. Aku kecewa, karena kemanapun aku pergi, bayangmu tak pernah hilang, Nai. Aku mengikuti saranmu untuk melangkah, menemukan hal baru, menjejaki tempat baru.  Namun semuanya percuma,  tidak mengubah apa-apa. Aku tetap hidup dalam bayangmu, dalam harapan yang tidak pernah bisa tercapai. Nai, bisakah kamu pergi sejenak dalam pikiranku, sebentar saja. Jika kamu sudah bosan bermain, silakan kembali dan penuhi lagi pikiranku.
“Mas, udah ditunggu di depan warung. Siap-siap untuk pulang, semua sudah berkumpul,” kata panitia seraya menepuk bahuku.
Aku harus berterima kasih padanya, dia sudah menyelamatkanku dari lamunan tentangmu. Aku berjalan menuju penginapan setelah membayar mie rebus dan teh manis kepada penjaga warung. Barangku tak banyak, hanya satu buah kaus dan handuk kecil. Sebuah buku karangan Antonio Skarmeta, Il Postino yang kubaca semalam.
Lagi-lagi aku merasa beruntung ketika berada di kerumunan anggota open trip, petuah-petuah dari panitia sudah selesai, aku tak perlu mendengarkan ocehan tak penting itu. Aku datang saat sesi doa dimulai, lalu berjalan kaki menuju dermaga pulau Sabesi. Aku berjalan paling belakang, mencoba merekam suara ombak. Aku berniat mengirimkan kepada sahabatku. Kupikir ada baiknya sesekali memberikan seseorang hadiah, meski hanya rekaman suara ombak.
“Kamera kaya gitu, berapa harganya Mas?” tanya juru mudi kapal ketika aku duduk di sebelahnya.
“Standar lah Pak. Kalau bukan untuk keperluan kerja, saya juga males pakainya.”
“Hape saya mah yang penting bisa sms dan telepon, kalau yang mahal kaya gitu, buat apa. Mending uangnya buat makan sehari-hari.” Dia mengeluarkan telepon genggamnya dari saku dan menunjukkan padaku.
Dia kembali bercerita tentang petani-petani buah seperti pisang dan duren yang menggunakan perahunya untuk diangkut menuju Dermaga Canti. Bagian atas, sesekali digunakannya untuk mengangkut mobil. Sekali jalan, dikenakan biaya 1 juta rupiah. Buat tambahan aja, katanya. Baginya, hidup tidak muluk-muluk. Bekerja, punya uang untuk makan dan bisa menyekolahkan anak sudah membuatnya bahagia. “Anak saya harus sekolah tinggi, biar jangan kaya bapaknya. cuma tukang perahu.”
# # # # #
Kapal ferri baru saja mendarat di pelabuhan Merak. Antrean panjang manusia memenuhi pintu keluar kapal. Sudah tak sabar rupanya manusia-manusia itu untuk segera pulang. Aku menyalami beberapa teman seperjalananku. Mengucapkan salam dan berharap bisa bertemu di kemudian hari. Aku tahu, ini klise. Tapi inilah hidup, sekadar basi-basi tidak akanmembuatmu terbnuh kan.
Aku berjalan perlahan menuju terminal Merak. Membeli sebotol air mineral di warung yang bersebelahan dengan toilet umum dan menyakan kepada penjualnya bus menuju Bogor. Dia menunjukkanku bus Arimbi. Bus di deretan paling ujung yang berwarna kuning.
“Mau langsung pulang? Pulang kemana?”. Kata perempuan yang kemarin mengajakku berbicara di pulau Cemara.
“Ke Bogor,” jawabku tanpa berusaha untuk bertanya balik.
Sebaiknya aku segera pulang, meski aku tidak tahu akan melakukan apa setibanya di rumah nanti. Aku tidak memiliki pekerjaan tetap. Dua tahun terakhir, aku mengundurkan diri dari pekerjaanku dan memilih bekerja serabutan, seorang freelance writer. Tidak ada pekerjaan yang menantiku, Sudah sebulan aku menolak tawaran kerja. Aku ingn rehat sejenak dan bermain. Sebuah pesan singkat dari Nai mendarat di telepon genggamku.
“Apa kabar Bim? Tiga hari lagi. Aku nggak terima alasan apa pun, kamu harus dateng. Inget, kamu janji di taman itu akan datang di pernikahku.”
Mendadak, keinginanku untuk pulang hilang selama-lamanya. Aku ingin tenggalam saja di perairan Selat Sunda ini atau bersembunyi di pulau terpencil dan tidak pernah kembali lagi. Bagaimana bisa aku datang ke pernikahannya. Bagaimana bisa aku melihat orang yang paling aku cintai menikah dengan orang lain. “Aku masih di Lampung, belum tahu pulang kapan. Akan aku usahkan untuk datang,” balasku.
“Aku malas pulang, mau ngopi atau ngebir dulu,” tanyaku pada perempuan yang tadi menegurku.
“Boleh,” jawabnya.
Aku tak tahu harus bahagia atau sedih atas pernikahanmu, Nai. Jika boleh memilih, aku akan merayakannya dalam sepi. Lebih baik untukku mengambil jarak darimu. Lebih baik untuk kita tidak bertemu lagi.
Nai, mencintaimu selalu mudah, seperti yang sudah-sudah. Melupakanmu, tidak pernah mudah, seperti yang sudah-sudah.