Lagu sarjana muda mengalun keras di kamarku, hentakkan musik dengan speaker simbadda membuat suasana siang yang biasanya lengang di rumahku kini mulai gaduh. Sesekali aku mengikuti irama musik yang seolah memanggil-manggilku untuk ikut bernyanyi meski hanya sebait, dua bait. Awalnya biasa, sama seperti lagu-lagu Iwan Fals lainnya tapi semakin jauh dentakkan jantungku ikut terpacu, mulai bergetar mendengarnya. Suaraku yang terkunci kini mulai membuka, dan mulai beriringan dengan suara bang Iwan yang sama sekali tak matching dengan suaraku.

Tadi pagi setelah bangun tidur hal pertama yang aku lakukan memindahan unduhan lagu Iwan Fals dari flashdisk ke komputer jinjing kakakku yang kebetulan nganggur, karena si empunya sedang libur ngajar setelah para siswanya menyelesaikan ujian semester ganjil. Musik memiliki efek psikologis yang sangat erat dengan keadaaan seseorang dan saat ini yang ingin kudengar adalah lagu-lagu bang Iwan. Musik mengikuti denyut nadi manusia, begitu kata salah seorang sahabatku yang mengerti tantang psikologi musik. Saat marah kerap kali kita ingin mendengarkan alunan musik yang keras, ketika sedih lagu metal (mellow total) menjadi alternatif lainnya. Begitulah kira-kira, meski tidak selalu seperti itu.

Masih dengan sempoyongan ku buka telepon gengam yang sudah tak sedap dipandang mata. Casingnya sudah pecah lantaran tak kuat lagi menahan baterainya yang menggelembung akibat terlalu sering digunakan main game. Untuk mensiasatinya kutempelkan stiker sonik agar cassingnya tak lepas, Joysticknya pun sudah tak berfungsi, seringnya kehujanan membuat beberapa keypadnya sudah tak lagi nyaman untuk dipakai. Seringkali komentar bermunculan, dari menyarankan untuk ganti casing hingga lembiru (baca: lempar dan ganti baru). Dengan santainya aku menjawab, masih bisa dipake koq, masih bisa untuk telepon dan sms. Meski sebenarnya kantong yang tidak memungkinkan untuk membeli telepon gengam yang lumayan.

Ada pesan singkat yang mendarat di inbox, seorang teman yang bernasib sama mengajakku menaruh lamaran. Langsung saja aku mengiyakan ajakan itu. Melihat printer yang sudah modar kutambahkan balasan minta dibuatkan surat lamaran, kapan lagi pikirku. Sambil menunggu, aku ke dapur mencari sesuatu yang bisa dimakan dan yang kudapati hanya telur. Tak apalah, selama ini telur adalah sahabat makan terbaikku setelah mie instan. Telor ceplok dan kecap kini menemani nasi putih, asapnya masih mngepul baru diambil dari mesin pengahangat.

Kuhidupkan saklar agar air keluar dari sumur melalui bantuan mesin penyedot air, penyedot air? Kira-kira kata apa yang tepat untuk menggambarkan mesin yang digunakan untuk menyedot air. Sudahlah, yang penting saya mengerti dan anda juga mengerti maksud saya. Air yang langsung disedot dari sumur lebih terasa hangat dari air yang sempat diendapkan di kolam. Setelah hal-hal remeh berlalu kini saatnya memberi polesan akhir, penampilan selalu menajdi perhatian utama. Tak perduli seberapa bodohnya kita, asal penampilan menarik. Itu modal yang cukup untuk menarik perhatian pemilik perusahaan.

Temanku datang, belum sempat mematikan motornya langsung kusuruh tancap gas. Alamat yang kurang jelas dan minimnya pengetahuan jalan, membuat aku muter-muter tak tentu arah. Setelah hampir dua jam berjibaku dalam kesesetan, akhirnya sampailah aku menuju sasaran. Setelah merapihkan kembali penampilan yang sudah lecek karena tersesat, aku dan temanku menuju resepsionis. Hal yang menjengkelkan terjadi, ternyata bukan walk interview. Kalau tau bukan walk interview mending aku pake celana levis atau celana pendek sekalian. Sesampainya di rumah aku langsung masuk kamar, bang Iwan Fals sudah menunggu gilirannya untuk bernyanyi siang ini. kusetel lagunya keras-keras, tak lupa secangkir kopi hitam dan sebatang rokok penikmat siang yang kacau balau ini. Satu demi satu mulai mengalun dan berujung pada sarjana muda. Hendak kuganti tapi hatiku menyuruh untuk diam dan mendengarkan, seketika aku mulai menikmatinya.

Kenapa Iwan Fals? Tepatnya aku tidak tahu.

Kenapa sarjana muda? Untuk pertnyaan ini aku bisa menjawabnya, karena aku sarjana muda. Seseorang yang menamatkan pendidikan dan hanya menjadi pria penggilan. Ironis memang, saat banyak orang ingin bangkit dari keterpurukan, justru aku baru menggali lobang untuk jatuh di dalamnya. Mungkin dengan jatuh dan terpuruk terlebih dulu semangat untuk bengkit lebih besar dari sekarang. Setidaknya pahit itu telah tercicipi dan asam garam yang didengung-dengunkan banyak orang telah ku cicipi. Meski hanya seujung lidah.

Rasanya dunia tak lagi aman…

Hari ke 40 wafatnya paman saya, saya dan keluarga besar berkumpul untuk membacakan tahlil di rumahnya. Pembacaan tahlil dan do’a yang diadakan selepas maghrib ini dihadiri sekitar 70an orang. Saya sesekali membantu membawakan makanan dan minuman untuk para tamu yang hadir. Selepas pengajian ini setiap orang diberikan besek (baca: nasi yang dibungkus dengan saringan plastik dan lauk berupa ayam, telur dan bihun), tidak jarang makanan ringan yang disuguhkan di piring pun ikut dimasukkan ke dalam besek tersebut. Beberapa anak-anak tak luput berebutan memasukkan makanan dalam plastik besek yang mereka terima.

Seluruh tamu yang hadir telah pulang, sebagian dari keluarga merapihkan piring dan gelas. Saya dan beberapa sepupu lainnya duduk sambil menikmati kopi dan sebatang rokok kretek yang memang disedikan untuk para tamu yang hadir. Obrolan saya tak lepas dari timnas sepakbola Indonesia yang akhir-akhir ini menjadi sorotan publik dengan prestasi gemilangnya di piala AFF. Pesepakbolaan Indonesia yang selama ini selalu melempem kini bisa membabat habis lawan-lawannya dengan skor yang besar. Ditambah dengan dua pemain naturalisasi yang memiliki talenta di lini depan menambah ketajaman tim yang selama ini hanya digantungkan kepada Boas dan Bambang pamungkas.

Obrolan tidak berhenti hanya pada sepakbola Indonesia, kini obrolan mulai merambat ke liga Inggris dan Spanyol. Di tengah-tengah obrolan yang semakin syeru, tiba-tiba perhatian saya tertuju kepada obrolan bapak dan paman-paman saya. Ada hal menarik yang mencuri perhatian saya dan seketika membuat saya berpidah posisi duduk menuju bapak dan paman-paman saya.
“Kondisi sekarang sudah berbeda dengan kondsi beberapa tahun lalu, kalau dulu bapak-bapak yang ikut pengajian enggak mau ngambil besek dan makan makanan ringan yang disediakan tapi sekarang malah pada berebut”. Itu kalimat awal bapak saya yang membuat saya tertarik. Dulu itu, kalaupun mereka ambil biasanya dibuang di pinggir jalan atau dilempar ke tempat sampah, sekarang liat aja, semua piring bersih dan besek pun yang disedikan tidak tersisa.

Tiba-tiba kakak saya nyeletuk ‘orang-orang sekarang sudah pada susah ya, kalau dulu mereka nolak tapi sekarang malah berebutan, kampung kita udah kerasa susah ya’. Diam-diam saya mengamini pendapat kakak saya, saya juga berpikiran hal yang sama. Jaman telah berubah, kondisi sekarang memaksa orang-orang yang dulunya tidak suka kini berbalik suka sekedar untuk makan. Sungguh ironi. Warga kampung yang dengan tingkat pendidkan yang sedang dan lapangan pekerjaan yang semakin sempit, membuat persaingan serasa semakin sulit. Usaha mikro makin tergencet dengan pemodal besar. Tak heran memang jika warga berebut sekerat daging hanya untuk bisa makan daging di hari idul qurban beberapa waktu lalu. Meski nyawa taruhannya.

Ternyata saya salah tafsir, semua analisa dalam pikiran saya salah menyimpulkan fenomena yang terjadi di masyarakat. Warga memang semakin susah tapi bukan itu alasan yang paling mendasar kenapa mereka mau menerima besek dan makanan ringan. Tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya bahwa alasan mereka mau menerima besek itu karena mereka tidak lagi mempercayai takhayul tentang orang yang sudah meninggal. Selama ini mereka menolak karena mereka percaya bahwa makanan yang dihidangkan pada malam tahlilan telah diambil sari makanannya oleh orang yang meninggal tersebut. Nasi yang dihidangkan telah diinjak-injak oleh si empunya hajat, sehingga meraka tidak mau menerima makanan yang telah dimakan setan, takut sial menurut mereka. Jauh sekali dengan analisa saya.

Warga sekarang telah terbuka pikirannya, tidak melulu mengaitkan kehidupan dengan hal-hal mistis. Hal ini kelihatannya sederhana tapi memiliki sisi yang menarik, jauh dari jangkauan pikiran masyarakat yang telah mengenyam pendidikan seperti sekarang. Saya hanya sedikit marasakan masa-masa takhayul itu dan sudah lupa apa saja pantangan yang sering dikatakann para tetua yang kini sudah tidak ada lagi. Tapi dibalik semua alasan itu, saya tetap meyakini keadaan ekonomi yang semakin sulit secara tidak langsung merubah pikiran mereka mengenai panganan yang dihidangkan saat tahlil orang meninggal. Tak perduli berkah atau tidak, sial atau tidak yang penting bisa makan untuk menyambung hidup. Mungkin seperti itu.

Suatu kali, ketika sedang istirahat di tengah produksi film untuk tugas akhir mata kuliah produksi televisi, tanpa sengaja mengalir sebuah obrolan antara saya dan teman saya yang saat itu sedang berselonjor dan meneduh di pos satpam dekat lokasi syuting. Tadinya hanya obrolan santai untuk melepas lelah setelah tiga hari maraton menggarap film, tiba-tiba obrolan mengarah ke topik yang serius “poligami”. Saya dikejutkan dengan pertanyaan mengenai poligami, lo penganut faham poligami ya? Saya menjawab “tidak”. Berusaha menegaskan teman saya bertanya lagi, berarti lo benci dong dengan poligami? Lagi-lagi jawaban saya “tidak”. Dahinya mengernyit, alisnya beradu menunjukkan ketidakmengertian, dan tatapannya seolah memaksa saya untuk menjelaskan lebih lanjut.

Serasa diintimidasi, saya pun menjelaskan lebih rinci. Saya bukan penganut paham poligami tapi saya juga tidak membenci orang-orang yang melakukan poligami. Saya lebih suka mendudukkan poligami dalam ranah “cocok atau tidak cocok” bukan dalam ranah “benar atau salah”. Jika kita melandasi perbedaan ini dalam ranah kedua, saya pikir selamanya kita tidak pernah menemukan kata sepakat. Sebagian mengusung poligami atas dasar agama, sebagian lagi mengusung atas nama hukum publik dan nurani. Dua sisi biner ini akan terus mengklaim bahwa dirinya benar dan orang lain salah.

Jika kita melandasi perbedaan ini dalam ranah pertama, permasalahan akan lebih cepat selesai. Apa yang cocok buat saya, belum tentu cocok buat anda dan sebaliknya. Masing-masing dari kita lebih suka berkutat pada hal yang kedua, saling berdebat dan ingin menang dalam perdebatan tersebut. Padahal sulit bagi kita menentukan kadar yang pas untuk cinta. Apakah cinta harus satu, apakah cinta maksimal empat.

Merasa tidak puas dengan jawaban saya yang terdengar filosofis tersebut teman saya lalu bertanya lagi. Kalau nanti lo menikah dan tidak dikarunia anak, apakah itu cukup sebagai alasan untuk lo menikah lagi? sambil berpikir dia meneruskan kembali pertanyaan yang belum sempat saya jawab, atau lo akan mengadofsi anak karena istri lo nggak mampu memberikan keturunan? Saya speechless, nggak tahu harus jawab apa. Untunganya saya terselamatkan oleh panggilan teman-teman yang sudah siap take di lokasi syuting, tanpa pikir panjang saya berjalan meninggalkan teman saya yang masih menunggu jawaban dari saya.

Ketika menuliskan ini, sudah setahun pertanyaan itu terlontar dari mulut teman saya dan saya masih tetap tidak bisa menjawab pertnyaan itu. Kadang saya berpikir bahwa tugas manusia di muka bumi ini berbeda-beda. Ada yang diberi kesempatan untuk menjadi orang tua dan ada yang tidak. Jika kesempatan itu tidak datang pada saya, lalu bagaimana saya menyikapi keadaan ini, apakah saya akan memutuskan berpoligami untuk mendapatkan keturunan atau mengadofsi anak entah dari sanak famili atau panti asuhan. Lagi-lagi saya tidak tahu, terlalu rumit.

Jika saya memutuskan untuk menikah lagi, bukankah saya takut tidak bisa berbuat adil. Dan jika saya menceraikan istri saya, apakah saya sanggup kehilangan dia. Jika seandainya kita tahu bahwa dengan menikahi seeorang yang sekarang menjadi istri kita tidak memperoleh keturunan, mungkin kita akan membatalkan pernikahan ini sebelum semuanya terjadi. Tapi siapa di antara kita yang tahu akan takdir. Lalu bagaimana dengan ide adofsi, ketakutan tidak bisa mencintai anak itu seperti anak sendiri juga muncul dalam hati saya.

Bukankah setiap dari kita takut akan kesendirian. Kepastian akan ditinggal salah satu dari pasangan kita membuat kita berpikir ulang mengenai kehadiran anak. Kesendirian di masa tua membuat kita takut menjalani hidup. Membayangan betapa bahagianya diri kita menikmati masa tua dengan sang cucu di gendongan. Semua berkumpul, anak , menantu dan cucu. Seperti hidup terlengkapi sudah tinggal menunggu detik-detik berjumpa dengan tuhan.

Tapi semua ketakutan itu buyar, entah datang dari mana setitik cahaya mulai menerangi pikiran saya. Bukankah kebahagiaan hidup tidak hanya terletak pada “ada atau tidaknya” anak dalam kehidupan kita. Mungkin istri saya salah satunya yang tidak diberi tugas oleh tuhan menjadi mesin reproduksi manusia. tapi masih banyak tugas lain yang tuhan berikan kepada kita, kita bisa mencintai anak-anak terlantar diluar sana tanpa harus mengangkatnya sebagai anak. Bukankah itu perbuatan mulia.

Dan yang harus kita ingat, tidak seorangpun di muka bumi ini bisa menjamin kebahagiaan. Ada atau tidaknya anak, selama kita bahagia, saya rasa itu sudah cukup. Dan memang itu jatah hidup yang tuhan berikan untuk saya.



Bagaimana tahun ini, sudah tercapaikan semua impian? Apa saja solusi yang harus disiapkan dari setiap kegagalan? Lalu bagaimana dengan rencana tahun depan? Apa saja yang ingin dicapai? Apakah ada rencana jangka panjang, untuk lima tahun atau sepuluh tahun kedepan?
Sederet pertanyaan di atas seolah menjadi bagian yang terpisahkan dalam kehidupan sebagian besar individu. Lalu bagaimana dengan saya? Saya tidak tahu. Dari dulu sampai sekarang saya tidak pernah bercita-cita menjadi apa. Terakhir, saya bercita-cita ingin menjadi seorang arsitek lantaran takjub melihat gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi menghiasi layar televisi di rumah. Tapi itu sudah lama sekali, sepuluh tahun yang lalu, tepatnya ketika saya menginjak kelas enam sekolah dasar.
Saya juga belum mempunyai impian yang ingin dicapai, baik tahun ini, tahun depan atau tahun depannya lagi. Apa yang saya jalani, saya cuma menikmatinya. Bingung rasanya memilih satu dari sekian banyak kemungkinan yang ingin dicapai. Membiarkan takdir memilih jalan hidup saya pun kedengarannya aneh, bukankah manusia bebas memilih jalan hidupnya. Menentukan apa yang diinginkannya. Meski begitu, saya masih tetap bingung untuk memilih impian dan cita-cita saya.
Sampai saat ini saya masih bertanya-tanya, apakah ini sebuah kecelakaan sejarah atau memang jatah saya. Bagaimana bisa saya tercemplung ke jurang jurusan komunikasi, sebuah bidang yang sama sekali tidak saya minati, tetapi dengan bodohnya menjadi pilihan pertama ketika mendaftar kuliah. Mungkin masalahnya bukan di “minat atau bukan minat”, tapi “mau atau tidak mau” melanjutkan kuliah. Dan saya mulai merasa yakin, selama ini saya menjalaninya dengan setengah hati.
Sempat beberapa kali saya mengutarakan keinginan kepada orang tua saya untuk mengundurkan diri dari bangku kuliah, saya merasa lelah untuk mengajak otak saya memikirkan tugas-tugas kuliah. Tetapi donatur tetap itu tetep kekeuh memaksa saya melanjutkan kuliah, dan saya memutuskan untuk melanjutkannya. Mendapati diri saya yang tidak bersemangat kuliah, saya mencoba menghibur diri sendiri dengan mencoba-coba ikut berorganisasi, dan hiburan itu sukses membawa saya hingga proses kelulusan. Organisasi membuat saya merasa betah berlama-lama menghabiskan waktu di kampus. Meski tidak hinggap sampai semester akhir, saya meyakini orgnisasi adalah salah satu alasan untuk tetap melanjutkan kuliah.
Siapa sangka hiburan itu membawa angin kejenuhan dalam diri saya. saya mulai bingung mensiasatinya, berhenti kuliah sekarang adalah hal terbodoh yang saya lakukan, begitu kata hati saya. tidak sebentar saya meyakinkan diri saya untuk mau menjalani aktivitas kuliah ini, dan saya tidak mau apa yang saya lakukan menjadi sia-sia. Mungkin saya butuh suasana baru, bekerja sepertinya menjadi alternatif yang cukup menarik. Bisa menghapus kejenuhan akan rutinitas sekaligus mendapat uang saku tambahan.
Tuhan selalu punya rencana yang tak diduga-duga, untuk kali ini saya amat mengamini keajaiban itu ada. Jam 09.00 pagi saya dibangunkan mama karena ada teman yang main ke rumah. Tidak biasa memang, jam segini teman-teman saya biasanya kuliah atau kerja. Dan yang lebih aneh lagi, dia seorang kawan yang tidak terlalu akrab. Saya lupa persisnya untuk apa dia main ke rumah, tapi ketika saya bilang ingin cari kerja dengan serta merta dia menawarkan sebuah pekerjaan di tempat dia bekerja. Tak pikir panjang saya langsung membuat surat lamaran, karna siangnya jadwal interview terakhir. Tanpa kesulitan sama sekali, saya mendapatkan pekerjaan itu, menjadi seorang pramuniaga di sebuah swalayan. Sungguh disayang saya tidak bertahan lama, selain jadwal kuliah yang sering bentrok, saya juga tak enak hati dengan rekan sif-sifan saya yang selalu mengalah jika jam kuliah pindah tiba-tiba.
Meski saya lulus di semester Sembilan, bukan lantaran saya bersemangat untuk bisa lulus cepat, tapi saya merasa tidak punya alasan lagi untuk lama-lama bertahan di kampus. Jauh-jauh hari saya sudah mengundurkan diri dari semua organisasi yang saya ikuti, mata kuliahpun sudah habis bahkan transkip semua mata kuliah sudah keluar nilainya. Sebenarnya bisa saja saya membiarkan beberapa mata kuliah gagal dan bisa mengulangnya semester depan, tapi mengulang adalah kegiatan yang paling membosankan dan saya memilih untuk tidak melakukan hal itu. Seandainya saya punya alasan yang cukup masuk akal, mungkin saya akan tetap memilih berlama-lama di kampus. Sampai bosan.
Ketika melihat teman-teman saya lulus dengan hanya menempuh 3,5 tahun, dengan prestasi akdemik cumlaude, saya tidak merasa iri apalagi sedih. Juga tidak merasa kecewa karena saya belum lulus dengan nilai yang cukup lumayan untuk ukuran pemalas seperti saya. Saya tidak pernah merasa bersaing dengan siapapun, apa yang saya peroleh sekarang bukanlah hasil dari perjalanan kemarin sore, melainkan akumulasi dari 3,5 tahun duduk di bangku kuliah. Buat saya inilah hasil dan inilah jatah saya.
Lalu mau apa setelah ini? setelah sidang skripsi kemarin, saya belum tahu mau berbuat apa. Buat saya sidang kemarin hanya kebahagiaan sesaat yang tidak layak untuk dirayakan. Saya merasa cepat atau lambat fase ini akan datang juga, jadi tidak ada kejutan dan bukan pula hal yang istimewa. Sidang kemarin meninggalkan PR yang lumayan banyak, revisi yang harus rampung karena jarak antara sidang dan wisuda masih satu bulan. Lagi-lagi saya belum berniat untuk mengerjakannya, saya hanya ingin menkmati momen-momen ini sambil menunggu beberapa hari menjelang hari raya idul fitri.
Bayangan akan masa depan mulai menggrogoti saya, setidaknya ketakutan-katakutan kerap kali mampir dalam celah hidup saya. Meski tidak setiap saat, tetapi ketika bayang itu hadir, saya merasa begitu banyak pertanyaan mulai membrondongi pikiran saya, pertanyaan yang sampai saat ini tidak mampu saya jawab. Welcome to the rill world, bagitulah sapaan yang kerap kali muncul setelah menamatkan pendidkan di bangku kuliah. Seolah ingin memberitahukan bahwa hari-hari kemarin hanyalah ilusi, sebuah simulasi untuk siap menghadapi kenyataan hidup.
Mungkin sudah saatnya saya menentukan pilihan, memilih satu dari sekian banyak pilihan yang ada di dunia ini. Dengan sadar, bahwa dengan memilih saya juga harus menyiapkan lobang kegagalan dimana saya akan terperosok kedalamnya. Setiap orang pernah tersandung dan terjatuh dalam hidupnya, kata seorang sahabat yang terus terngiang di telinga saya. Jangan tanya saya sekarang tentang pilihan itu, saya belum tahu. Mungkin nanti setelah saya dapat memilih, kalian akan menemukannya dalam cerita yang berbeda. Dan saya tidak tahu kapan.


Sering kita merasa sebagai makhluk paling sempurna di antara semua makhluk ciptaan tuhan. Kita akan sangat marah jika disamakan dengan hewan, bahkan perumpamaan bisa mampir ke ranah meja hijau. Hewan selalu diidentikkan dengan sikap buas dan amoral. Tak memiliki otak untuk berpikir dan bebas melakukan apa saja tanpa memperdulikan norma agama dan susila. Alasannya selalu sama, hewan tidak dianugrahi akal yang mampu membuatnya berpikir, sedang manusia dengan akal pikirannya mampu berpikir dan berkembang.

Meski begitu hewan selalu saja hadir dalam kehidupan kita, bukan sebagai hewan peliharan saja tapi juga menjadi kosa kata yang memenuhi rongga kehidupan kita. Nama-nama hewan selalu melekat dalam memori kita. Jika sedang marah atau kesal, tak ayal kita mengabsen satu persatu nama hewan, hewan yang tak tahu menahu masalahpun ikut terbawa-bawa karnanya dan seringkali tak enak didengar.

Kata anjing, babi, kampret dll, seringkali mampir dalam ucapan sehari-hari kita. Lalu dimana letak kesempurnaan yang kita miliki sebagai manusia jika menyamakan manusia dengan hewan. saya sendiri tidak tahu. Seolah umpatan dengan nama hewan selalu menjadi alternatif utama dalam mengungkapkan kemarahan dan kekesalan.

Seringkali juga penempatan nama binatang tidak dipakai sesuai dengan realitasnya. Buaya selalu diidentikkan dengan seseorang lelaki yang gemar mempermainkan wanita. Pada kenyataannya, buaya adalah binatang yang setia. Malah dalam budaya betawi, roti buaya menjadi simbol yang selalu ada dalam setiap acara pernikahan.

Saya jadi teringat kisah dalam buku yang pernah saya baca. Ada kakak beradik umurnya hanya terpaut dua, si kakak 10 tahun dan si adik 8 tahun. Keduanya memiliki tingkat kenakalan yang sama. Jika saja kenakalan dapat dirangkingkan, keduanya mungkin sama-sama mendapat rangking 1. Kalau mereka sedang bertengkar, waduh kayak kapal pecah rasanya. Dan yang tak pernah ketinggalan mereka selalu menggunakan kata-kata yang tak lazim digunakan anak-anak seumurannya.

Dasar lo kon*** (sensor),

Lo tuh yang ngen*** (sensor)

Atau kalo lagi inget nama-nama hewan kata-katanya berubah lagi.

Dasar lo anjing..

Enak aja lo yang babi…

Si ayah yang sedang membaca Koran, dengan kesalnya membentak kedua anaknya dan berkata. Kakak, ade, pokoknya nggak boleh pakai kata-kata kotor. Nggak boleh pakai nama-nama hewan apapun. Setelah melihat reaksi si ayah yang marah keadaan kembali tentram. Tiba-tiba dalam hitungan detik kegaduhan kembali. Diluar dugaan makian yang dikeluarkan kini berbeda.

Dasar lo bengkoang..

Lo tuh yang lobak…

Sampai sekarang saya belum mendapatkan kata-kata makian yang lebih pas untuk menggantikan bahasa kebun binatang yang selalu kita pakai. Nama-nama buah atau sayuran, kiranya lucu juga untuk sementara menggantikan tugas hewan yang selalu menemani kita saat emosi.

Mungkin kalau anda seorang karyawan sebuah perusahaan bisa juga marah dengan menggunakan produk-prosuk perusahaan. Seperti. Dasar lo pelembab wajah, atau dasar lo pengharum ruangan. Mungkin saja semua bisa terjadi, dan bahasa kebun binatang akan terganti dengan sendirinya. MUNGKIN!!!..


Dalam perjalanan hidup saya, begitu banyak masalah yang hadir yang menormalkan saya menjadi manusia. Entah kalau tidak ada masalah rasanya sulit untuk mengakui diri saya sebagai manusia. Masalah hadir bukan hanya sebagai pelengkap, tapi sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Saya tidak memuji masalah, bahkan kadang saya juga menghindarinya. Sepercuma membuang garam di lautan, semakin kita menghindari masalah akan menjadi momok yang menakutkan dan merongrong hidup kita setiap saat. Padahal setiap orang mendapat jatah masalah tersendiri dalam hidupnya.
Dari sekian banyak masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita, salah satu yang menarik perhatian saya adalah harmonisasi antara anak dan orang tua. Saya bukan pendengar yang baik juga bukan seorang problem solver yang jitu jadi tak banyak yang menumpahkan keluh kesahnya terhadap saya. Tapi ada beberapa orang yang sudah terlanjur salah menilai saya, dan mereka terbuka mengenai konflik kelurganya.
Buat saya, sebagian masalah yang muncul antara orang tua dan anak adalah masalah komunikasi dan asumsi yang terlanjur menjadi stigma dan disakralkan oleh orang tua dan anak di dunia. Orang tua seringkali menganggap mereka tahu keinginan anaknya bahkan melebihi pengetahuan si anak sendiri, mereka mewariskan apa yang orang tua mereka ajarkan secara turun temurun. Padahal setiap anak memiliki karakter tersendiri dan cara menyampaikan kasih sayang dan mendidiknya membutuhkan pola tersendiri.
Si anak, yang terlanjur dididik seperti itu, akan mengkultuskan orang tuanya. Menganggap orang tuanya sebagai makhluk asing yang harus selalu dipatuhi dan diikuti perintahnya. Sang anak menajdi takut utuk mengembangkan diri. Sejak lahir orang tua mentargetkan anaknya menjadi ini dan itu. Seolah stempel profesi sudah disematkan di dahi sang anak yang masih merah. Stigma ini berlanjut dan manjadi patologi yang tak pernah usai.
Buat saya sebenarnya sederhana. Sebagai orang tua, cobalah liat si anak bukan sebagai anak, melainkan sahabat yang dengannya kita dapat terbuka dan berbagi. Tanyakan keinginananya, keluh kesahnya, masalah yang dihadapinya dalam kesehariannya. Jangan judge dia karena kesalahannya, dia butuh proses untuk bertanggung jawab atas semua tindakannya. Beri dia kepercayaan untuk menjadi apa yang dia mau, ketika mulai melenceng, arahkan dia. Komuikasi ini akan membuat dia merasa nyaman dan tidak takut lagi untuk terbuka.
Sebagai anak, cobalah liat sisi lain dari orang tua. Liat mereka sebagai manusia biasa. Mereka bukanlah tuhan yang tahu segalanya. Kesalahan mereka dalam mendidik mungkin karena ketidaktahuan mereka tentang karakter kita dan kemauan kita. Mereka tidak semenakutkan yang kita pikirkan. Mulai terbukalah dan bicarakan apa yang menjadi ganjalan dalam hubungan kamu dan orang tua..
Ini hanya sekian persen dari seratus persen masalah yang mengganjal hidup kita, banyak hal yang mampu kita lakukan dan selesaikan dan saya yakin hal ini pun dapat kita selesaikan dengan baik..

Tidak ada yang baik dari memaksakan. Termasuk dalam mencintai.

Barangkali, sebagian orang pernah mengalami percakapan seperti di bawah ini. Sebuah percakapan singkat dan berujung pada perpisahan. 

“Sebaiknya aku pergi”
“Kenapa, bukankah kita baru saja memulainya?” 
“Kamu pantas bahagia”
“Aku bahagia dengan kamu, apa ini hanya sebuah alasan?”
“Tidak, aku tidak sedang mengarang dalam hubungan kita, hanya saja aku tak akan pernah bisa jadi yang kamu mau”
“Aku ingin kamu jadi diri sendiri, meski ada beberapa hal yang harus berubah tapi itu semua aku pinta agar hubungan kita bisa bertahan” 
“Dari awal kamu tahu, aku bukan makhluk instan dan ini akan menjadi penantian yang membosankan untukmu”
“Lalu, dengan alasan ini kamu pergi. Alasan yang akan membuat kamu lari setiap menghadapi perbedaan. Kamu tidak sedang bercinta dengan diri kamu sendri, kamu tidak sedang membentuk seseorang seperti apa yang kamu”
“Lalu apa bedanya dengan kamu, kamu melarang diriku melakukan sesuatu dengan alasan kamu tidak menyukainya, kamu memintaku berubah sesuai dengan harapan kamu. Sebesar apa pun kamu berharap, harusnya kamu sadar aku tetaplah aku, bukan seseorang yang sempurna seperti dalam benakmu”
“Aku gak ingin berakhir seperti ini, aku ingin kita mencobanya lagi, aku ingin kita membangunnya dengan cara berbeda”
“Aku lelah dan terlalu lelah untuk memulainya dari awal. Kamu punya segudang harapan yang tak mampu aku wujudkan, sedangkan aku tak berharap apa-pun dalam diri kamu. Aku mencintaimu secara utuh dan tak berharap kamu berubah bahkan dengan alasan hubungan kita.





Kalau saja milyaran kenangan yang terekam dalam kotak memoriku dapat dipindahkan, maka dengan senang hati aku meminjamkannya padamu. Satu kotak kecil yang berisi tentangmu, hanya kamu dan segala yang berhubungan denganmu. Dengan begitu, kamu akan tahu bagaimana aku menilaimu, mencintaimu dan menggilaimu. Dan dengan begitu tak perlu lagi kupilah-pilah kata dan menyusunnya menjadi rangkaian kata lalu kuberikan padamu. Karena aku tahu, sebaik apapun aku memilah-milah kata, kamu tak dapat ter-reperesentasikan, kamu adalah wujud yang tak tergambarkan.
Kalau saja kotak memori itu bernama hati, maka akan aku alirkan rekaman memoriku tentangmu melalui rasa. Aku yakin hati dapat berbicara meski tanpa kata dan tanpa nada. tapi kamu juga tahu, hati bukanlah tempat menyimpan data, hati akan terus mengalir meski tiba-tiba aliran itu berhenti pada tempat yang datar. Kini aku menyerah, kata-kataku terasa hambar dan semua memori tantangmu mulai terhapus meski aku tak pernah bisa benar-benar menghapusnya.

Maaf, jika diamku telah melukaimu….


Ketika pertama kali bertemu denganmu di perempatan jalan itu, aku yakin kamu adalah teman sehaligus pendamping yang tuhan kirimkan untuk menemani perjalanan hidupku yang mulai terasa menjemukan. Perjalanan hidup yang mulai terasa melelahkan jika dipikul seorang diri, tanpa teman, sahabat apalagi pendamping. Tapi kamu datang, entah dengan cara apa dan dari dimensi mana kamu tiba-tiba muncul di perempatan jalan itu, berdiri di sampingku dan mulai berjalan beriringan.

Meski sedikit kegelisahanku berkurang dengan hadirnya dirimu tapi semua tak seperti semula, ada perhatian yang harus dibagi, ada rasa yang harus dialiri dan aku mulai bingung dengan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba itu. tapi aku sadar yang kubutuhkan hanyalah proses, proses pengenalan karakter dari kita masing-masing, tak ada yang boleh dominan di sini karena semua saling melangkapi bukan memimpin ataupun menggurui.

Ini perempatan pertama kita sejak pertemuan itu, aku ingin kamu yang memilih kemana kita harus melangkahkan kaki, rasanya akan sangat mengejutkan jika tiba-tiba aku memutuskan untuk mengambil keputusan mengenai kanan dan kiri. Biarlah kamu yang memilih, aku hanya mengamini. Saat ini yang kubutuhkan hanyalah kata nyaman, ketika kamu nyaman maka dengan mudahnya nanti kita akan ber-argumentasi mengenai arah perjalanan kita.

Kamu memilih lurus, mungkin kamu ingin membangun pondasi yang kuat atas hubungan yang terjadi secara tiba-tiba ini. Mungkin kamu berpikir terlalu berisiko mengambil arah yang tak pernah kita ketahui, maka kamu memutuskan untuk menghindari resiko itu terjadi. Aku tak mengomentari, hanya menikmati perjalanan kita.

Perempatan kedua berlalu, perempatan ketiga telah kita lewati, sedangan perempatan keempat belum lama kita jejaki, masih ada bau daun kering yang menempel di sela hidung kita, daun kering yang berguguran saat langkah kita mulai melewati perempatan keempat itu. tapi hanya satu hal yang mengejutkanku, kamu tak memilih jalan lain selain lurus. Di depan, perempatan kelima telah terlihat jelas tapi aku tak mau lagi cuma-cuma, aku ingin ikut memilih jalan mana yang harus ditempuh.

“ Kenapa berhenti?” Tanyamu padaku sambil menggenggam erat jemariku.

“Kamu anggap aku apa? Tanyaku tanpa memperdulikan pertanyaanmu

“Teman, sahabat, dan pendamping perjalanan hidupku”

“Kita telah melewati empat perempatan jalan, tapi pernahkan kamu bertanya arah manakah yang ingin aku lalui. aku tak bisa bereaksi, setiap kali aku ingin memilih kamu mengacuhkanku. Dengan ringannya kamu berkata kalau kita tak perlalu mengambil resiko setiap perjalanan kita, dan tau artinya apa, aku jenuh…”

Untuk apa mengambil hal yang tak pasti, dengan lurus kita bisa mendapatkan hal-hal yang kita mau tanpa merasa takut kehilangan sesuatu yang kita miliki”

“Aku pikir dengan membuatmu nyaman dan memberi waktu untuk pengenalan karakter bisa membuat kita saling memahami, tapi aku salah. Aku mengaminimu saat kau memilih lurus pada perempatan pertama, agar kamu nyaman dan kita bisa memulai untuk berbagi pada perampatan kedua hingga tak ada lagi perempatan dalam hidup kita. Tapi aku keliru, kamu tak berubah dan menikmati kenyamanan seorang diri, padahal rasa ini bukan hanya kau yang rasa”

“So, apa yang kamu mau?”

“Aku ingin kita melangkah ke kanan!”

“Untuk apa?”

“ Aku ingin merasakan jalan terjal, tanjakan, jalan becek berlumpur, jalan buntu, jalan setapak dan intinya aku ingin perjalanan ini berwarna tidak hanya lurus-lurus saja”

“Berarti genggaman ini harus dilerai sebelum langkah kita meewati perempaan kelima itu? karena aku ingin tetap lurus tak ke kanan ataupun ke kiri?

“ Ya mungkin sebaiknya begitu, pergilah!”

Setelah ini aku masih ingin duduk di pingir jalan, belum ingin mentajuhan pilihan kemana kaki harus berlabuh, kanan, kiri, lurus apapun itu asalakan jangan belakang. Biarlah kenangan yang sudah terbentuk tak usah lagi dikoreksi, meski sesekali kita menoleh ke belakang, tapi tak perlu lagi kita kembli arah.

Sampi detik ini aku masih duduk di sudut jalan, bukan menungu seseorang hanya tak tau harus kemana berjalan…

Jum’at, Pukul 07, 52 pagi