Aku ingin bilang, aku paham keraguanmu. Namun tidak sepatah kata pun yang keluar. Aku ingin bilang, aku mengerti ketakutanmu untuk memulai dan sendiri menjadi pilihan paling masuk akal buatmu. Aku ingin kamu tahu bahwa aku memahamimu, tapi, entah kenapa di saat seperti ini aku justru kehilangan kemampuan berkata-kata. Di saat kamu butuh dikuatkan dan diyakinkan. Barangkali, kebisuan menjadi hadiah untuk akhir sebuah pertemuan. Sebab ‘sementara’ yang kamu ucapkan di ujung pertemuan, menjadi akhir segalanya. Kamu menutup pintu rapat-rapat untuk semua hal yang berkaitan dengan kita. Tapi, kalau [.....]
“Ini seperti di sinetron,” katanya, membuka percakapan, “datang seseorang yang lebih baik, lebih soleh, dan lebih mapan darimu.” Kalimatnya menggantung di sana. Ia butuh jeda. Kata-kata barangkali sedang memenuhi kepalanya dan ia harus memilih kata yang tepat, yang tak melukaiku lebih dalam. Meski sehalus apa pun kata-kata yang dipilihnya, perpisahan tetap saja menorehkan luka. “Dan itu membuatku ragu melangkah bersamamu,” katanya lagi sambil melempar pandangannya dariku ke arah anak kecil yang bermain di taman itu. Kalimat yang baru saja ia lontarkan kepadaku membuatku terbelah dua. Sebagian diriku [.....]
Kamu beranjak dari tempat duduk selepas memasukkan telepon genggammu ke dalam tas. Berjalan meninggalkan meja tempat kita mengisi waktu dengan percakapan. Punggungmu kian menjauh dari pandanganku. Aku hanya perlu mempercepat langkah untuk sampai di sampingmu, namun jarak yang membentang itu rasanya tak mampu kukejar meski berlari sekalipun. Dari jarak ini, aku bisa melihatmu lebih utuh. Menilai perasaanku kepadamu secara lebih jernih. Dari jarak yang seharusnya dapat kukikis dengan mempercapat langkahku, aku menyadari perasaan sayang kepadamu telah tumbuh di hatiku. Tapi kita berada pada kualitas diri yang berbeda. Ini bukan tentang materi, pun status sosial, jabatan yang lebih tinggi dan penghasilan yang lebih besar. Bukan pula tentang definisi cantik dan tampan, pun tentang gaya hidup yang memisahkan antara [.....]
Matamu menatap layar telepon genggam di atas meja. Tanganmu sesekali menyentuh angka-angka di aplikasi kalkulator, memencet tanda tambah, kurang, bagi, dan sama dengan. Memindahkan hasil perhitunganmu di buku catatan, memasukkan angka tersebut di kolom tabel yang di atasnya tertulis Biaya Hidup Dasar (BHD). Kamu tengah mengkalkulasi kebutuhan dasar hidup kita, memperkirakan apa saja kebutuhan pasangan setelah menikah. Ketika kuserahkan hasil perhitunganku, kamu melihatku dengan tatapan aneh, seolah tak percaya aku telah membuatnya. Aku bertanya kepada teman-temanku yang sudah menikah, kataku, meski kamu belum melontarkan pertanyaan, tapi tatapanmu [.....]