Hanya Perantara

Hari ini aku datang ke rumahmu, hal yang aneh memang berkunjung ke rumahmu pada hari sabtu. Kita tidak seperti pasangan lainnya yang menghabiskan waktu sabtu dan minggu. Sabtu dan minggu adalah harimu bersama sahabat dan keluarga. Sedangkan kita mencuri waktu di sela kegiatan kita yang padat. Tapi semua itu cukup.

“Loh kamu ngapain ke sini? Aku mau jalan sama temenku,” tanyamu melihat wajahku muncul di depan rumah.

“Aku hanya waktu lima menit, setelah itu aku akan pergi dan kamu bebas jalan dengan temanmu”

Kamu membukakan pintu tapi aku menolak. Cukup di teras saja, toh aku hanya punya waktu lima menit. Sebelum berbicara aku jelaskan padanya bahwa aku tak ingin pembicaraanku dipotong sebelum selesai. Aku ingin memanfaatkan waktu lima menitku secara utuh. Setelah itu kamu bebas berkomentar atau pergi. Itu hakmu. Dan kamu mengiyakan permintaanku.

“Sepuluh bulan yang lalu aku menemukanmu dalam keadaan terluka dengan sebelah sayap yang patah. Awalnya aku hanya simpati tapi entah kenapa, aku tiba-tiba aku ingin mengobati. Mendapatimu terluka karena seseorang dan bayangan masa lalu yang tak bisa kau hempaskan.  Aku memutuskan untuk membantumu membalut dan mengobati (hati)mu yang patah.

Perlahan kamu mulai bisa bangkit, tapi setumpuk persoalan melanda. Banyak yang mengucilkan dan merendahkanmu. Kamu hampir terjatuh lagi, tapi aku selalu berdiri di belakang, memastikan keadanmu baik-baik saja dan siap memapahmu ketika terjatuh. Kamu melaluinya dengan baik, sedikit terseok-seok tapi akhirnya bisa berjalan dengan mulus.

Kini lukamu telah pulih. Kamu sudah sembuh dari luka masa lalumu. Kamu telah menemukan sahabat yang selalu ada untukmu. Kamu sudah menemukan tempat yang aman dan nyaman untuk bercerita. Sudah saatnya aku pergi. Bersisian denganmu bukanlah takdirku.

Aku hanyalah perantara, yang hadir saat kau luka dan pergi saat kau kembali ceria. Aku hanya perantara, yang mengantarkanmu menuju jalan kebahagian dan bukan menemanimu melaluinya. Aku hanya perantara, temukanlah takdirmu. Berikalah warna terang padanya, jangan abu-abu. Kamu layak mendapatkannya"

Bunyi klakson mengisyaratkan kata cukup.  Temanmu telah menunggu, berikanlah dia warna terang, jangan abu-abu.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar