Aku tak bisa melarangmu pergi, memaksamu untuk tetap tinggal juga bukan hakku. Aku ingin meminta sedikit waktu dari waktu-waktu yang kau punya, yang tentu saja sudah kaubagi-bagi dengan banyak orang. Namun, jatahku tak kunjung kau berikan. Jadi, kutuliskan saja beberapa hal yang ingin kukatakan kepadamu melalui surat ini.
Carilah teman untuk menemanimu ngebir sepanjang malam. Jangan biasakan dirimu ngebir sendiri sepanjang malam. Tentu saja, aku tak melarangmu untuk ngebir, hanya saja kau seringkali melakukannya seorang diri. Jangan tiru aku, aku terbiasa tidur di bar jika sudah tidak kuat untuk pulang tapi aku khawatir jika kamu melakukan hal serupa. Di sana, tentu tidak ada aku, maka carilah teman jika kau ingin menghabiskan sepanjang malammu di bar. [.....]
Bunuhlah dengan pisau, bukan dengan kata-kata
Kau tahu, saat marahmu reda dan kembali tersenyum, akan akan selalu membalas dengan senyuman. Sebuah senyuman yang tidak akan pernah sama lagi. Sebuah senyuman formalitas, basa-basi. Karena senyum hangat yang kutawarkan kepadamu telah mati , dia terbunuh dengan kata-katamu. Saat kamu meluapkan segala kata-kata menyebalkan itu di hadapanku, di hadapan orang-orang kemarin [.....]