2/27/2015

Selepas Malam


“Aku bukannya nggak sayang sama Mama, justru aku ingin  ada yang mengurusnya dengan baik.” “Kalau kamu sayang, nggak sepantasnya kamu membuangnya.”   Suara itu lagi, teriakan itu lagi. Suara-suara yang lahir dari kemarahan, suara yang terus meninggi hingga mengubah malam yang sepi menjadi ingar-bingar. Suara perdebatan yang tak pernah usai. Suara yang kupikir lebih mirip lolongan anjing di malam bulan purnama, bersaut-sautan, saling memanggil dan menjawab. Suara yang  tak pernah lelah keluar dari tenggorokan pemiliknya. Suara yang membuatku sakit, membuatku sedih dan pada akhirnya membuatku muak.  Suara-suara itu terus berbunyi diselingi dentuman benda pecah  belah. Aku sempat berpikir mengganti semua perabotan di rumah dengan plastik, hingga tak perlu lagi bangun pagi hari untuk membereskan semua pecahan kaca [.....]

2/03/2015

Apatis



“Bagaimana hidupmu?” “Biasa saja. Terkadang mengalami kesulitan, terkadang lancar-lancar saja. Berdiri di antara keramaian, selebihnya merasakan kesepian. Terkadang aku merasa sedih, pada lain waktu aku merasa begitu bahagia. Ya, dunia memang tak baik-baik saja. Tak perlu berpikir untuk mengubahnya, aku hanya perlu belajar menerimanya. “ Hidup yang paling buruk adalah menjadi apatis. Berangkali benar ungkapan itu. Bukan apatis terhadap hal-hal tertentu seperti politik, tetapi apatis terhadap semua hal di dunia ini. Mengeluh bukanlah hal baik tetapi lebih baik daripada menjadi apatis. Jika kau masih mengeluh, tandanya kamu merasakan hidup, masih peduli pada hal-hal yang mengusikmu, masih merasakan kesal terhadap hal-hal yang tak [.....]