12/15/2016

Berlayar


Kapalmu hatimu akan berlabuh, entah di mana dan kepada siapa. Menurunkan jangkar dan menancapkannya pada karang di lautan. Mengikat tali-temali di batang kokoh dermaga. Duduk memandangi cahaya laut yang berubah keemasan, sebulat jeruk matang di ujung barat menunggu hari menjadi malam. Dan angin yang berhembus pelan menerbangkan ujung-ujung rambutmu, menembus pori-pori kulitmu membuatmu tergigil sekaligus hangat pada saat bersamaan karena lenganmu telah bertautan. Jemarinya mengisi sela sela jemarimu. Mengalirkan hangat ke hatimu. Kapalku [.....]

11/19/2016

Tengah Malam


Anjing menggonggong di luar, memecah keheningan malam. Perempuan di sampingku masih saja mengulang-ulang satu nama yang sama dengan sederetan makian setelahnya. Seolah kosa-kata menguap dari kepalanya dan hanya menyisakkan caci maki, sumpah serapah yang sama sekali tak enak didengar. Lidahnya mendadak pelo, dihajar berbotol-botol minuman. Merebahkan tubuhnya di sofa, menarik lenganku agar lebih dekat dengannya, lalu menerikaku dengan kata-kata makian. Bukan untukku, tetapi untuk lelaki yang amat dicintainya. Lambungnya yang belum terisi makanan [.....]

10/31/2016

Peran


Jika mencintai adalah sebuah sandiwara, kita memainkan peran dengan cara yang buruk Masing-masing dari kita adalah protagonis dalam hidup kita. Seperti kau tahu, protagonis merupakan sebutan bagi tokoh utama dalam sebuah cerita. Tak melulu baik, tak melulu jahat. Protagonis bisa saja menjelma malaikat baik hati atau menjelma penjahat paling keji. Masing-masing kita menentukan peran yang kita pilih. Hidup tentu tak membiarkan kita sesuka hati merencanakan cerita seperti yang kita mau. Kamu mengenal harapan dan tak semua mewujud menjadi kenyataan. Kita seringkali membunuh [.....]

10/19/2016

di atas hamparan bunga


angin bertiup kencang, menggoyang daun-daun di pepohonan, menerbangkan daun-daun yang gugur. ada yang jatuh ke tanah, ada yang menerpa wajahku sebelum kembali diterbangkan angin lalu jatuh. gemericik air, suara burung, matahari yang teduh diselimuti awan hitam. di atas hamparan bunga-bunga liar, aku melihatmu. berdiri mematung, menatapku. senyum yang kurindukan. aroma tubuh yang tak pernah bisa kulupakan. kakiku melangkah, satu-satu, tak terburu-buru. menujumu. menuju pelukan hangat yang telah lama tak kurasakan. “ayo pulang,” katamu [.....]

10/19/2016

Tak Ada Jawaban


Dia terus berjalan dengan satu tujuan; menemukan jawaban-jawaban yang menghantui alam pikirnya. Mengusik malam-malamnya, membangunkannya dari tidurnya yang tak pernah nyenyak. Menggerogoti harap hidupnya. Siang tak pernah lebih baik dari malam yang buruk. Langkahnya tak pernah tergesa-gesa karena setiap langkahnya hanya menambah beban penyesalan yang menempel di pundaknya semakin berat. Dia percaya karma. Dia memercayainya melebihi kepercayaannya akan tuhannya. Semesta yang mengatur karma, bukan tuhan. Dia terus percaya, melukai seseorang akan diganjar luka-luka [.....]