12/30/2012

(Kesadaran) Yang Bertumbuh

Saya pikir melepaskan seseorang yang kita sayangi pergi dan menemukan kebahagiaanya bersama orang lain adalah sulit. Kita tak pernah benar-benar bisa mengikhlaskannya, bahkan mungkin tertawa saat dia terluka.

Dia meninggalkan saya dua kali. Pertama, dia gagal. Seseorang yang dipilihnya hanya memberikan harapan palsu dan kembali ke sisi mantannya. Dia pun kembali kepada saya, saya memaafkan, bukan kah hati layak memberi kesempatan kedua. Tak lama berselang, dia memilih orang lain. Seseorang yang saya sering dengar namanya, seseorang yang dia anggap anak kecil tetapi mampu memikat hatinya. Untuk yang kedua, dia sukses dan kini dia bahagia bersamanya. Saya tentu saja ditanggalkan lalu ditinggalkan.

Untuk satu hal di atas, saya salah. Bukan merasa seperti malaikat yang tak memiliki rasa [.....]

12/21/2012

Mencari Peluk



Kamu duduk di bangku taman menghadap air mancur yang hampir mati. Tepat di bawah pohon besar dan lampu taman yang  enggan hidup . Tenaganya sudah redup dan tak ada seorang pun yang menginginkannya terus hidup. Taman yang hampir mati dan kamu menikmati sambil berharap mati di sana. Sepi. Ya, kamu menginginkan sepi setelah sekian banyak keramaian yang kamu lalui. Ternyata kamu membutuhkan sepi, sebuah kata yang kamu coret hitam dalam hidupmu.

Aku duduk di sebelah kananmu. Entah kegilaan apa yang membuatmu selalu memilih duduk di sebelah kiri. Yang aku tahu, kamu menggilai pelukan. Dan kamu menikmati pelukan dari seseorang yang [.....]

12/10/2012

Sekotak Rindu

 Satu tahun aku mengumpulkannya. Kamu tahu, bukan perkara sulit untukku merangkainya menjadi satu. Setiap kali serpihan-serpihan itu hadir, aku menyimpannya. Menuliskannya kembali dalam lembaran-lembaran kertas warna-warni. Tak ada spesifikasi warna dan warna tak mewakili apa yang tertulis di dalamnya. Aku tak tahu berapa jumlah pastinya. Seperti kukatakan sebelumnya, jika serpihan itu hadir aku menulisnya. Tak pernah sehari pun aku melewatkannya. Ada masa di mana aku menulis puluhan kali dalam sehari. Tetapi ada masa di mana aku hanya menulis sekali, lalu berdoa dan [.....]

12/07/2012

Sudut Kiri Kafe



Sudah satu jam aku berbaring di kasur selepas mandi. Enggan rasanya menuju PIM, tetapi janji adalah janji dan seorang pria pantang membatalkan janji. Semalam, 15 menit pertama di bulan Desember telepon genggamku berbunyi. Sebetulnya aku enggan mengangkat, tetapi pada panggilan kesepuluh aku menyerah. Penting, pikirku. Jika tidak,  dia tak mungkin segigih ini.
Suaranya pelan, seperti berbisik. Menanyakan kabar adalah kalimat keduanya setelah jeda tiga puluh detik dari kata hallo. Mungkin malam [.....]

11/30/2012

Memo Kecil di Bangku Taman



Aku melihat hujan turun dan berharap kamu seperti itu. Tetapi kamu bukan hujan, yang bisa kapan saja datang tanpa harus ada mendung sebelumnya.
Hari ini aku menunggumu di taman kota. Aku akan datang pukul 15:15, hingga kamu datang atau hingga aku lelah dan menyerah untuk pulang. Tak ada yang spesial dengan pukul  15:15, kecuali perjumpaan kita dan serentetan pertemuan-pertemuan yang berlanjut setelahnya. Tak ada yang menjadikan itu tanggal spesial, kecuali diriku [.....]

11/22/2012

Berdamai Dengan Masa Lalu


“Maaf, jika setelah kita berpisah aku menarik diri. Aku butuh waktu untuk menerima keadaan ini. Semua terjadi begitu cepat, aku marah, kecewa dan patah. Kalau kamu butuh bantuan apa pun, just let me know yah. Aku akan bantu sebisa aku.”
itu sederet kalimat yang kukirimkan melalui WhatsApp. Aku tak menunggu balasan dan memang tak butuh jawaban. Aku hanya ingin kita berdamai. Mungkin tak sebaik dulu dan memang sulit untuk mengembalikan keadaaan seperti [.....]

10/23/2012

38


Mungkin kita  bisa memilih untuk berhenti atau melanjutkan hidup. Mencintai seseorang atau tidak, tapi tidak dengan kenangan. Ia memilih bagian mana yang harus dikenang. Dan dia memilih kamu.
Dua hari lagi 40 hari kepergianmu. Kamu bahagia yah disana. [.....]