1/26/2018

pecel



Riuh rendah suara perutnya menemaninya malam itu. Kadang ia membayangkan lambungnya mengerut karena jarang diisi. Sekeras apa pun perutnya meronta, dia tak dapat memenuhinya, tak ada lagi uang yang dia miliki. Uang terakhirnya telah dia habiskan  untuk membeli makanan tadi pagi. Di kosantnya yang berukuran dua meter persegi itu, ia menepuk-nepuk perutnya, berbisik pada dirinya sendiri. Sabar ya, perut. Jangan manja. Jangan masuk angin dulu. Malam ini dia harus bersabar, menyabarkan perutnya karena sampai esok mungkin tidak ada olahan makanan yang [.....]

1/13/2018

kulit ayam



“Foya-foya yuk, Kak,” ajak adiknya. Aku tidak dapat menafsirkan senyum di wajah kekasihku ketika adiknya mengajak kami berfoya-foya. Di benakku terlintas gambaran: foya-foya itu semacam menghabiskan waktu untuk berbelanja apa saja, sebagian perempuan selalu merasa tidak memiliki cukup baju padahal lemarinya penuh, kata perempuanku suatu hari. Jika dugaanku benar, aku bisa melipir ke toko buku sambil menunggu mereka berbelaja. Tapi dugaanku meleset ketika adiknya berhenti di sebuah restoran cepat saji yang menyajikan ayam [.....]

1/13/2018

secangkir teh



“Aku ingin peluk. Harus peluk. Peluk yang lama,” katanya. Ingin rasanya mengabadikan wajahnya yang sedang cemberut atau mencubit pipinya yang chubby itu. Tapi jika kulakukan, ia akan bertambah kesal, meski aku tahu, ia tidak tahan berlama-lama menahan rasa kesalnya padaku. Seperti ketika ia memutuskan sambungan telepon denganku, kemudian pesan-pesanku tak mendapat balasan. “Marahnya masih lama, ya?”  tanyaku. Teleponku berdering, memunculkan namanya di layar. Tidak ada kata-kata, hanya gelak tawa yang panjang. Kamu tuh bener-bener ya, masa ada orang marah ditanya kaya [.....]

1/12/2018

es goyang



Aku menemukan jiwa anak-anak dalam dirinya. Jiwa yang terus ia pelihara serta meski usianya telah berada di pertengahan 20an. Bersamanya, aku tak lagi merasa ganjil, menjadi satu-satunya manusia aneh penghuni bumi. Ia menerimaku dan membuatku menerima diriku seutuhnya. Di hadapannya, aku bisa mengenakan apa saja – jaket jeans belel yang kedodoran di tubuh tirusku, cardigan ijo toska yang menurut teman-temanku lebih pas jika dikenakan nenekku, rok motif bunga-bunga yang menjadi bahan candaan orang-orang dengan mengatakan segera menyiramnya agar bunganya tak layu [.....]

1/10/2018

gulali



“Pasar malam tak pernah lengkap tanpa mencicipi gulali,” katamu. Pada jejak pertama kakimu di pasar malam itu, matamu mengedarkan pandang ke seluruh arah, menangkap warna-warna yang segera memenuhi matamu. Ada rasa asing yang menyergapmu; keramaian. Berdiri di tengah lautan manusia tak pernah menjadi pilihanmu, tapi demi rindu mencipipi gulali, kamu menembus keramaian itu, membiarkan rok motif bunga-bunga yang menggantung manis di atas mata kakimu bergoyang halus mengikuti langkahmu. Sejenak kamu berhenti, membetulkan [.....]