Senyum itu...


Aku duduk di atas lantai, mendongakkan kepala ke arahmu yang duduk di atas kursi. Aku sengaja tak mengambil kursi lagi, aku menyukai posisi ini. Posisi dimana aku bisa melihatmu dengan lebih jelas, melihat air matamu turun satusatu. Melihatmu sesekali menyeka air di sudut mata dengan punggung tanganmu. Aku menyukainya dan kamu mungkin tak pernah tahu hal itu.

“Kami putus baikbaik kok”, katamu setelah menenggak habis segelas air putih di kubikelmu. Lalu tersenyum samar, senyum basa-basi yang seolah ingin menunjukkan kamu baikbaik saja. Lalu kamu terdiam, matamu menerang ke langitlangit ruangan, seolah mencari jawaban yang mungkin bisa kamu temukan disana. Aku tetap terdiam, memastikan ada kata lagi setelah –kami putus baikbaik- itu.

Sampai detik ini, aku tak pernah mengerti ada ‘putus baikbaik’. Buatku, keputusan seseorang untuk menyudahi sebuah hubungan karena ada masalah di dalamnya. Dan masalah itu tidak melulu orang ketiga, penyebab putusnya sebuah hubungan begitu kompleks dan sebagai orang yang berda di luar lingkaran itu kerap kali menganggap mudah. Buatku, jika setelah memutuskan untuk menyudahi sebuah hubungan dan menjadi teman baik, itu persoalan yang berbeda. Itu adalah cara kita menerima kandasnya sebuah hubungan.

Aku lalu berdiri, pekerjaanku menuntut untuk segera diselesaikan. Ada beberapa taklshow dan launching buku dalam waktu dekat ini. Aku harus segera membuat perencanaan anggaran, membuat nota kesepakatan  (MOU) dan rundown acara. Aku menatapmu lagi, memastikan kamu baikbaik saja dan yang kudapati hanya senyuman itu. Senyuman basa-basi.

Saat hendak berbalik, tibatiba kamu menarik tanganku dan mengatakan terima kasih sudah mau menemanimu. Aku hanya tersenyum, tidak tahu harus mengtakan apa. Dengan lembut aku menarik tanganku dari genggamanmu, mengusap lembut punggung tangganmu dan meninggalkanmu. Mungkin kamu butuh waktu untuk sendiri, bisikku dalam hati, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar