“Akhirnya,” hanya kata itu yang terucap dari bibirmu. Satu kata yang membungkam mulutku, membuatku berhenti tertawa. Seolah ada tangan yang tiba-tiba saja membekap mulutku, membuatku gelagapan dan tersadar, hal yang baru saja terjadi bukan untuk ditertawakan. “Kamu bisa tertawa juga,” tambahmu. Membuatku semakin bingung merespons. Aku hanya garuk-garuk kepala melihatnya cengengesan lalu berjalan ke arah jemuran, mengambil handuk, mengelap wajahmu yang tertumpah cat. Cat yang kamu pakai untuk mempercantik rumahmu. Kamu tersenyum, [.....]
Perjalanan paling menyakitkan adalah perjalanan menemui sebagian dirimu yang terkunci rapat-rapat di sudut pikir. Perjalanan yang nantinya menguras habis seluruh energimu, membuatmu enggan melanjutkan kehidupanmu yang sekarang. Aku sadar, ketika mengatakan berhasil mengunci sebagian diriku di sudut pikir hanyalah cara agar aku sedikit tenang, sedikit bahagia. Juga sebagai bukti bahwa aku telah berjalan ke depan, meninggalkan kenangan-kenangan menyedihkan itu dalam ruang hampa. Perkataan itu jelas bohong adanya. Ingatan, sebagaimana adanya tak pernah berhasil kita [.....]
Pesawat yang mengantarkanku menuju tempat baru, barangkali masih terparkir manis di apron. Jadwal penerbanganku yang tertera dalam surat elektronik menunjukkan pukul 11 pagi, masih dua jam sebelum check in dan tiga jam sebelum keberangkatan. Aku sudah duduk manis di sebuah coffe shop, di ujung kanan terminal keberangkatan luar negeri. Memesan americano, menyesapnya pelan-pelan. Menghirup aroma kota, aroma negeri ini yang sebentar lagi akan kutinggalkan, entah berapa lama. Perjalanan ini, kepergian ini, memberi [.....]
Di tengah hiruk-pikuk bandar udara, kami saling mengenggam. Rindu berdiri di antara kami, yang saling menatap, saling menggenggam tangan, menyela celah jemari, mengisi kosong celah jemari. Kami mengabaikan tatapan orang lain, wajah-wajah heran, wajah-wajah penuh tanda tanya. Yang tak tahu siapa melepas siapa, siapa meninggalkan siapa. Siapa yang pergi dan siapa yang bertahan. Siapa yang masih mencintai, siapa yang diam-diam ingin terus melindungi, kami pun tak tahu. Diri sendiri pun tak tahu. Barangkali, [.....]